Telset.id – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan Indonesia tidak boleh terlambat untuk masuk ke dalam rantai pasok industri kecerdasan artifisial (AI) global. Peringatan ini disampaikan di tengah persaingan AI yang semakin ketat dan melibatkan penguasaan infrastruktur vital.
Menurut Nezar, persaingan AI saat ini tidak lagi hanya seputar pengembangan aplikasi. Pertarungan telah bergeser menjadi perebutan penguasaan semikonduktor, pusat data, dan mineral kritis. Ketiga elemen ini akan menentukan posisi suatu negara dalam ekonomi digital dunia.
“Yang paling penting lagi adalah, jangan terlambat untuk masuk ke dalam rantai pasok global, termasuk AI,” kata Nezar dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (24/7/2026).
Pernyataan ini muncul di tengah dinamika global di mana negara-negara besar berlomba mengamankan rantai pasok chip mereka. Keterlambatan masuk ke dalam ekosistem ini bisa membuat Indonesia hanya menjadi pasar, bukan pemain kunci.
Nezar menjelaskan bahwa pengembangan startup (perusahaan rintisan) kini mengalami perubahan paradigma. Jika sebelumnya banyak perusahaan rintisan berorientasi pada valuasi dan pertumbuhan agresif, kini fokus bergeser kepada pembangunan bisnis yang berkelanjutan dengan fondasi kuat.
Dia menilai pengalaman India menunjukkan intervensi pemerintah melalui penguatan ekosistem startup, kebijakan Make in India, dan pembangunan industri semikonduktor mampu mendorong lahirnya inovasi baru berbasis AI.
“AI kali ini menjadi driving process (proses pendorong) untuk bertumbuhnya startup-startup,” ujar dia.
Indonesia dinilai memiliki modal besar untuk ikut bersaing. Tingginya adopsi AI, berkembangnya startup berbasis AI, serta munculnya inisiatif pengembangan large language model (LLM) nasional menjadi fondasi penting menuju AI yang berdaulat.
Namun, Nezar mengingatkan bahwa Indonesia masih berada pada tahap pemanfaatan teknologi. Hal ini menjadi tantangan besar yang harus segera diatasi.
“Kita masih di level usage. Kita belum menjadi developer untuk soal AI,” kata Wamen Nezar.
Pernyataan ini menegaskan bahwa Indonesia perlu segera memperkuat kemampuan nasional melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Tanpa langkah konkret, posisi Indonesia hanya akan menjadi konsumen teknologi.
Menurut Nezar, penguasaan AI membutuhkan dukungan infrastruktur digital yang kuat. Tiga komponen utama yang diperlukan adalah pusat data, Graphics Processing Unit (GPU), dan industri semikonduktor. Ketiganya menjadi tulang punggung pengembangan AI modern.
Baca Juga:
Selain infrastruktur digital, Indonesia memiliki cadangan mineral kritis yang melimpah. Nikel dan pasir silika menjadi dua komoditas utama yang perlu dihilirisasi agar memberikan nilai tambah bagi industri teknologi nasional.
“Hilirisasi dari mineral kritis yang mentah itu menjadi produk antara yang kira-kira memperkuat posisi kita dalam rantai pasok global di industri semikonduktor,” jelasnya.
Dengan memperkuat posisi pada industri semikonduktor, Indonesia dinilai akan memiliki daya tawar yang lebih kuat dalam persaingan teknologi global. Langkah ini sejalan dengan upaya banyak negara yang mulai menyadari pentingnya kemandirian di sektor ini.
Pemerintah saat ini juga menyiapkan Peta Jalan AI yang akan menjadi Peraturan Presiden sebagai acuan pengembangan AI nasional. Regulasi tersebut disusun menggunakan pendekatan berbasis risiko agar mampu menjaga ruang inovasi sekaligus memastikan pemanfaatan AI berlangsung secara bertanggung jawab.
Nezar menegaskan AI harus menjadi teknologi yang membantu manusia meningkatkan produktivitas, bukan menggantikan kemampuan berpikir manusia.
“Teknologi ini harus dijadikan sebagai companion (pendamping) buat kita. Bukan kita kemudian menyerahkan semuanya kepada artificial intelligence,” kata dia.
Pernyataan ini menjadi pengingat penting bahwa adopsi AI harus tetap berpusat pada manusia. Teknologi ini seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti peran manusia dalam pengambilan keputusan.
Langkah Indonesia untuk masuk ke rantai pasok AI global memang tidak mudah. Diperlukan komitmen jangka panjang, investasi besar, dan kolaborasi erat antara pemerintah, akademisi, dan industri. Namun, konsekuensi dari tidak bergerak sekarang jauh lebih besar.
Dengan sumber daya alam yang melimpah dan adopsi teknologi yang tinggi, Indonesia sebenarnya memiliki posisi tawar yang unik. Tantangannya adalah bagaimana mengubah potensi ini menjadi kemampuan nyata dalam pengembangan dan produksi teknologi AI secara mandiri.





Komentar
Belum ada komentar.