Gedung kantor Microsoft dengan logo perusahaan di sisi bangunan

Biaya Lisensi Windows Naik 7-10 Persen, Harga PC Ikut Melonjak

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Microsoft menaikkan biaya lisensi Windows OEM sebesar 7-10 persen, lebih tinggi dari kenaikan tahunan biasanya
  • Kenaikan berlaku mulai Juli dan diprediksi membuat harga PC naik 5 persen di kuartal ini
  • Biaya lisensi dihitung berdasarkan tier CPU, laptop dengan i7 kena biaya lebih tinggi
  • ASUS dan Acer konfirmasi kenaikan harga 5 persen, sebagian produk ASUS naik hampir 30 persen
  • Counterpoint Research prediksi pengiriman PC global turun 4 persen di Q2 2026

Telset.id – Harga PC kembali terancam naik setelah Microsoft menaikkan biaya lisensi Windows OEM secara signifikan. Kenaikan ini dilaporkan mencapai 7 hingga 10 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan tahunan yang biasanya hanya berada di kisaran angka tunggal rendah. Kondisi ini menambah beban baru bagi calon pembeli PC yang sudah harus menghadapi lonjakan harga komponen seperti memori dan chipset.

Menurut laporan dari publikasi Taiwan, United Daily News, kenaikan biaya lisensi ini mulai berlaku pada Juli dan langsung berdampak pada harga jual PC. Seorang eksekutif merek PC mengungkapkan bahwa Microsoft memang rutin menaikkan biaya lisensi Windows OEM setiap tahunnya, namun besaran kenaikan tahun ini di luar kebiasaan. Alhasil, harga PC diprediksi bisa naik lagi sekitar 5 persen pada kuartal ini.

Kenaikan biaya lisensi ini tidak diterapkan secara merata. Microsoft membebankan biaya lisensi berdasarkan tingkatan CPU yang digunakan di dalam perangkat. Artinya, laptop dengan prosesor i7 akan dikenai biaya lisensi lebih tinggi dibandingkan laptop dengan prosesor i3 atau i5. Skema penetapan harga berjenjang ini membuat dampak kenaikan terasa berbeda di setiap segmen produk.

the side of a Microsoft building

Menariknya, sebagian besar konsumen disebut tidak menyadari kenaikan biaya lisensi ini. Hal tersebut cukup masuk akal mengingat harga komponen, terutama memori, telah melonjak begitu cepat sepanjang tahun ini. Kenaikan biaya lisensi Windows yang terjadi justru tenggelam di tengah gejolak harga komponen yang lebih dominan.

Sejak tahun lalu, permintaan terhadap memori, SSD, dan CPU mengalami lonjakan signifikan yang mendorong harga naik tajam. Memori menjadi komponen dengan porsi biaya terbesar dalam pembuatan PC baru dan menjadi faktor utama di balik terus meroketnya harga. Kombinasi antara kenaikan biaya lisensi dan harga komponen ini menciptakan tekanan ganda bagi industri PC.

Di Taiwan, ASUS dan Acer telah mengonfirmasi akan kembali menaikkan harga produk mereka sekitar 5 persen pada kuartal ini. ASUS bahkan membagikan angka yang cukup mengejutkan. Dibandingkan kuartal keempat tahun lalu, sebagian produknya kini dijual dengan harga hampir 30 persen lebih mahal. Angka ini menunjukkan betapa besar tekanan biaya yang harus ditanggung oleh produsen dan pada akhirnya diteruskan kepada konsumen.

Lonjakan harga ini jelas tidak membantu upaya pemulihan penjualan PC. Riset dari Counterpoint Research memperkirakan pengiriman global PC akan mencapai sekitar 65 juta unit pada kuartal kedua 2026. Angka ini menunjukkan penurunan 4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menjadi penurunan pertama sejak awal 2025.

Samsung DDR4 RAM in hand

Meskipun PC AI dan siklus migrasi Windows masih mendorong sebagian konsumen untuk melakukan upgrade, biaya yang terus meningkat justru bekerja melawan permintaan tersebut. Konsumen yang sebelumnya berencana membeli PC baru mungkin akan menunda pembelian atau memilih spesifikasi yang lebih rendah untuk menekan anggaran.

Kenaikan biaya lisensi Windows ini menjadi kabar buruk bagi pasar PC yang sedang berusaha bangkit. Ditambah dengan krisis harga memori dan chipset yang dipicu oleh permintaan AI, para pembeli PC kini harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan perangkat baru. Yang lebih disayangkan, konsumen tidak mendapatkan fitur tambahan apa pun sebagai kompensasi atas kenaikan biaya ini.

Bagi konsumen yang sedang mempertimbangkan pembelian PC baru, kondisi ini menuntut perencanaan anggaran yang lebih matang. Membandingkan harga dari berbagai merek dan mempertimbangkan spesifikasi yang sesuai kebutuhan menjadi langkah penting untuk mendapatkan nilai terbaik di tengah tekanan harga yang terjadi. Sementara itu, para pengamat industri akan terus memantau apakah tren kenaikan harga ini akan berlanjut atau mulai mereda seiring dengan stabilnya pasokan komponen.

Sementara itu, Microsoft sendiri terus melakukan berbagai pembaruan pada ekosistem Windows. Salah satu perubahan yang juga perlu diperhatikan adalah kebijakan Microsoft Edge yang menghentikan ekstensi MV2. Pengguna juga perlu mengetahui langkah migrasi EWS API yang sedang berjalan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.