📑 Daftar Isi

SDN Payung-Payung di Maratua yang mendapat layanan internet BAKTI

Biaya Operasional BTS 3T Capai Rp30 Juta per Bulan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Biaya operasional BTS di wilayah 3T mencapai Rp30 juta per bulan, lebih mahal dari BTS perkotaan yang hanya Rp15-20 juta
  • Mayoritas BTS 3T masih mengandalkan konektivitas satelit VSAT karena belum ada serat optik atau microwave
  • Kapasitas maksimum BTS VSAT hanya 12 Mbps, sangat terbatas untuk melayani banyak pengguna
  • Populasi pengguna di wilayah 3T relatif sedikit (200-400 orang), membuat model bisnis komersial tidak menarik
  • BAKTI hadir sebagai perpanjangan tangan negara untuk memastikan pemerataan akses digital
  • Masyarakat diharapkan memahami karakteristik BTS 3T yang berbeda dengan BTS perkotaan

Telset.id – Membangun jaringan telekomunikasi di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) menghadapi tantangan biaya operasional yang sangat tinggi. Pelaksana Tugas Direktur Infrastruktur BAKTI Komdigi, Darien Aldiano, mengungkapkan bahwa biaya operasional satu BTS di daerah 3T bisa mencapai Rp30 juta per bulan, jauh lebih mahal dibandingkan BTS di perkotaan yang hanya Rp15-20 juta per bulan.

Perbedaan biaya ini terjadi karena mayoritas BTS di wilayah 3T masih mengandalkan konektivitas satelit melalui VSAT (Very Small Aperture Terminal). Berbeda dengan BTS perkotaan yang menggunakan jaringan serat optik berkapasitas besar dan biaya operasional lebih rendah, BTS di daerah terpencil harus bergantung pada satelit karena belum tersedianya infrastruktur serat optik maupun microwave.

“BTS itu tidak serta-merta dibangun tower, kemudian kencang. Dari tower itu harus punya dapurnya gitu. Koneksi di belakang, backhaul-nya. Jadi kalau gak ada di daerah tersebut, mau gak mau pake VSAT. Nah kalau pake VSAT ini jadinya mahal dan terbatas,” papar Darien kepada awak media di Pulau Maratua, Kamis (11/6/2026).

Kapasitas Terbatas BTS Berbasis Satelit

Selain biaya operasional yang tinggi, BTS yang menggunakan VSAT juga memiliki keterbatasan kapasitas bandwidth. Menurut Darien, rata-rata kapasitas BTS yang menggunakan VSAT saat ini maksimum hanya 12 Mbps. Kapasitas ini sangat kecil jika dibandingkan dengan BTS perkotaan yang bisa menikmati kapasitas ratusan megabit per detik melalui jaringan optik.

“Nah bagaimana caranya BTS VSAT dengan penggun let say 100 berbarengan, terus semuanya misalnya ya, buka TikTok dan lain-lain, pasti lemot,” jelas Darien.

Dengan kapasitas 12 Mbps, satu pengguna aplikasi modern seperti TikTok atau YouTube bisa menghabiskan 1 Mbps. Artinya, jika ada 100 pengguna yang mengakses secara bersamaan, kualitas layanan pasti akan menurun drastis. Kondisi ini diperparah dengan jumlah pelanggan yang sedikit, sehingga operator tidak bisa memperoleh skala ekonomi yang menguntungkan.

“Contoh mudahnya untuk di daerah 3D itu, cost untuk support BTS itu bisa sampai 30-an juta satu site, 30 juta per bulan. Namun, kalau di kota BTS-BTS yang milik operator seluler itu ya, cost-nya mereka mungkin hanya 15-20 juta,” kata Darien.

Tantangan ini menjadi semakin kompleks karena populasi di wilayah 3T relatif sedikit. Satu desa atau satu kawasan mungkin hanya memiliki 200-400 pengguna, dengan pemakaian paket data yang hemat. Hal ini membuat model bisnis komersial menjadi tidak menarik bagi operator seluler.

Peran Negara dalam Pemerataan Akses Digital

Meskipun menghadapi berbagai keterbatasan, Darien menegaskan bahwa negara harus tetap hadir untuk memastikan masyarakat di wilayah 3T memperoleh akses telekomunikasi yang layak. Keberadaan BTS BAKTI di wilayah 3T menjadi salah satu upaya pemerintah untuk memastikan pemerataan akses digital dan mengurangi kesenjangan konektivitas.

“Jadi memang secara bisnis ini belum masuk ke tataran komersil jadi di situlah BAKTI hadir, negara hadir untuk memberikan layanan kepada masyarakat. Jadi memang harus ada pihak yang bisa memberikan layanan kepada masyarakat di daerah 3T,” cetusnya.

Darien juga berharap masyarakat dapat memahami bahwa kualitas layanan di wilayah 3T tidak bisa dibandingkan secara langsung dengan layanan telekomunikasi di daerah perkotaan. Karakteristik BTS di daerah 3T berbeda karena faktor-faktor infrastruktur yang hilang, seperti tidak adanya jaringan serat optik atau microwave.

“Kami harap dari materi ini kita bisa memahami dan juga teman-teman di media terutama di daerah-daerah juga bisa memberikan pemahaman juga misalnya nanti ke masyarakat kalau memang BTS-BTS di daerah 3T ini, karakteristiknya beda. Tidak seperti BTS-BTS yang ada di perkotaan. Karena ada faktor-faktor yang hilang tadi,” lanjutnya.

Tantangan Infrastruktur di Wilayah 3T

Membangun jaringan telekomunikasi di wilayah 3T bukanlah sekadar mendirikan menara BTS. Tantangan besar terletak pada bagaimana menghadirkan konektivitas ke lokasi-lokasi yang belum terjangkau infrastruktur telekomunikasi dasar seperti serat optik. Karakteristik BTS yang beroperasi di wilayah 3T berbeda jauh dengan BTS di kawasan perkotaan.

Mayoritas BTS yang dibangun untuk melayani wilayah 3T masih mengandalkan konektivitas satelit. Penggunaan VSAT memang menjadi solusi yang paling memungkinkan, namun konsekuensinya adalah biaya operasional yang lebih tinggi dan kapasitas bandwidth yang terbatas.

SDN Payung Payung

Gambar di atas menunjukkan SDN Payung-Payung di Maratua, salah satu sekolah yang mendapat layanan internet dari BAKTI. Keberadaan BTS di wilayah terpencil seperti ini menjadi bukti nyata upaya pemerintah dalam menghadirkan akses digital ke seluruh pelosok negeri.

Implikasi untuk Masa Depan Konektivitas

Meskipun saat ini masih menghadapi berbagai keterbatasan, keberadaan BTS BAKTI di wilayah 3T menjadi langkah awal yang penting untuk mengurangi kesenjangan digital. Pemerintah terus berupaya memastikan bahwa masyarakat di daerah terpencil tetap bisa menikmati akses telekomunikasi meskipun secara komersial belum menarik bagi operator.

Tantangan biaya operasional yang tinggi dan kapasitas bandwidth yang terbatas menjadi pekerjaan rumah yang harus terus dicari solusinya. Salah satu harapan ke depan adalah dengan semakin berkembangnya teknologi satelit yang bisa memberikan kapasitas lebih besar dengan biaya lebih terjangkau.

Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan teknologi komunikasi, Anda bisa membaca artikel tentang Sinyal Radio Terlama yang menarik untuk disimak.

Komentar

Belum ada komentar.