📑 Daftar Isi

Pelaksana Tugas Direktur Infrastruktur BAKTI Komdigi Darien Aldiano di Pulau Maratua

Internet BAKTI Jadi Andalan Warga Perbatasan, Trafik Tembus 100 Mbps

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Internet BAKTI di Pulau Maratua, Berau, Kaltim, tembus trafik 100 Mbps
  • Capaian ini dinilai istimewa karena menggunakan satelit SATRIA-1, bukan serat optik
  • Trafik tinggi juga tercatat di Kantor Kepala Kampung Payung-Payung (50 Mbps) dan SDN 001 Payung-Payung (40 Mbps)
  • SDN 001 Payung-Payung catat 502 pengguna, Pos TNI AL 368 pengguna, Kantor Kampung 339 pengguna
  • SATRIA-1 adalah satelit multifungsi milik pemerintah, salah satu terbesar di Asia
  • BAKTI Komdigi buktikan konektivitas digital jadi kebutuhan utama warga 3T

Telset.id – Layanan internet yang disediakan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) kini menjadi andalan utama warga di wilayah perbatasan. Data terbaru menunjukkan trafik internet di Pulau Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, berhasil menembus angka 100 Mbps pada bulan Mei 2026, sebuah pencapaian signifikan untuk koneksi berbasis satelit.

Pelaksana Tugas Direktur Infrastruktur BAKTI Komdigi, Darien Aldiano, mengungkapkan bahwa pemanfaatan layanan akses internet di sejumlah titik layanan di Kabupaten Berau menunjukkan tren yang sangat positif. “Di lokasi Pos TNI AL Pulau Maratua itu penggunaan layanan akses internetnya sudah tinggi. Terlihat sampai di titik puncak 100 Mbps di bulan Mei atau satu bulan terakhir,” kata Darien kepada awak media di Pulau Maratua, Kamis (11/6).

Capaian trafik 100 Mbps ini dinilai istimewa karena seluruh layanan disalurkan melalui Satelit Republik Indonesia (SATRIA-1), bukan melalui jaringan serat optik yang umum digunakan di perkotaan. “Karena untuk koneksi satelit sampai 100 Mbps itu pencapaian yang sangat baik. Kalau optik 100 Mbps itu hal biasa karena menggunakan kabel fisik, sedangkan satelit ini tidak ada kabel fisik melainkan gelombang frekuensi, tapi bisa mencapai 100 Mbps,” papar Darien.

Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa tantangan geografis Indonesia, yang terdiri dari ribuan pulau, dapat diatasi dengan teknologi satelit. BAKTI telah membangun beberapa titik akses internet di Pulau Maratua, dan hasilnya menunjukkan bahwa masyarakat di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) sangat membutuhkan konektivitas digital.

Tingginya trafik tidak hanya terjadi di Pos TNI AL. Di Kantor Kepala Kampung Payung-Payung, trafik internet sempat mencapai sekitar 50 Mbps, sementara di SDN 001 Payung-Payung mencapai hampir 40 Mbps. Data ini menunjukkan bahwa internet digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pendidikan, pelayanan publik, hingga akses informasi.

Darien Aldiano

Selain dari sisi trafik, manfaat layanan juga terlihat dari jumlah pengguna yang mengakses jaringan internet BAKTI. Data BAKTI menunjukkan, SDN 001 Payung-Payung mencatat sebanyak 502 pengguna, sementara Kantor Kepala Kampung Payung-Payung digunakan oleh 339 pengguna dan Pos TNI AL Pulau Maratua oleh 368 pengguna.

“Dapat disimpulkan memang layanan akses internet yang disediakan oleh BAKTI ini sangat bermanfaat, terlihat dari tingkat mobilitas dan utilisasinya yang tinggi,” kata Darien.

SATRIA-1: Tulang Punggung Konektivitas Wilayah 3T

Seluruh layanan akses internet di wilayah perbatasan ini ditopang oleh SATRIA-1, satelit multifungsi milik pemerintah yang masih merupakan salah satu satelit terbesar di Asia. Menurut Darien, keberhasilan menghadirkan konektivitas hingga ke pulau-pulau terluar menjadi bukti bahwa SATRIA-1 mampu menjembatani tantangan geografis Indonesia.

“Kita cukup bangga di mana negara kita dengan segala tantangan geografisnya, punya satelit yang betul-betul milik pemerintah dan dioperasikan langsung oleh SDM-SDM lokal Indonesia di 11 gateway, serta bisa memberikan layanan sampai dengan 100 Mbps di satu titik,” ujarnya.

Pencapaian ini menjadi langkah maju dalam upaya pemerintah untuk menghadirkan kualitas internet yang merata di seluruh Indonesia. Keberadaan SATRIA-1 membuktikan bahwa koneksi satelit dapat menjadi solusi efektif untuk daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh infrastruktur kabel serat optik.

Ke depannya, keberhasilan di Pulau Maratua diharapkan dapat menjadi model bagi pengembangan infrastruktur digital di wilayah 3T lainnya di Indonesia. Dengan utilisasi yang tinggi dan trafik yang terus meningkat, internet BAKTI terbukti bukan sekadar program pemerintah, melainkan kebutuhan nyata masyarakat di perbatasan.

Komentar

Belum ada komentar.