📑 Daftar Isi

Kabel fiber optik Drake Passage yang akan menghubungkan Antartika ke jaringan global

Kabel Fiber Optik Drake Passage Siap Hubungkan Antartika ke Jaringan Global

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Studi kelayakan Chile menyimpulkan kabel fiber optik Drake Passage layak secara teknis
  • Biaya pembangunan minimum USD 370 juta, optimal USD 620 juta
  • Konfigurasi optimal menghubungkan 9 basis riset dari 5 negara
  • Kecepatan 15-30 Tbit/s per titik pendaratan dengan space-division multiplexing
  • Melibatkan 6 pemasok termasuk 2 perusahaan China yang menjadi sorotan geopolitik
  • Rekomendasi "neutrality by design" untuk mengatasi risiko keamanan
  • Studi menyerukan pendekatan bertahap sebelum kontrak pengadaan ditandatangani
  • Chile mengirim laporan ke Kementerian Luar Negeri untuk dibahas di Dewan Kebijakan Antartika

Telset.id – Studi kelayakan yang diselesaikan Chile pada pekan lalu menyimpulkan bahwa pemasangan kabel fiber optik melintasi Drake Passage secara teknis layak dilakukan. Proyek ini berpotensi mengakhiri ketergantungan basis riset Antartika pada pengiriman fisik hard drive dan menghubungkannya langsung ke jaringan global.

Studi tersebut dijalankan oleh Salience Consulting dan Pioneer Consulting untuk regulator telekomunikasi Subtel, dengan pendanaan dari bank pembangunan CAF serta dukungan parsial dari MCDF Finance Facility yang berinisiatif China. Rekomendasi utama studi ini adalah pemasangan kabel instrumentasi dengan pasangan serat khusus untuk setiap pendaratan di Antartika.

Saat ini, data riset Antartika masih harus keluar dari benua tersebut secara fisik. “Koper penuh hard drive” diangkut menggunakan kapal dan pesawat, sebagaimana diungkapkan Juan Pablo, pemimpin tim dalam studi pra-kelayakan. Kondisi ini menjadi alasan utama mengapa konektivitas langsung sangat dibutuhkan.

Dua Konfigurasi dan Biaya Pembangunan

Studi ini mempertimbangkan dua opsi konfigurasi. Konfigurasi minimum melayani tiga kelompok fasilitas di sekitar King George Island dan Semenanjung Antartika utara. Sementara konfigurasi optimal mencakup sembilan titik pendaratan di Antartika, yang direkomendasikan dalam Laporan 2 dan 3.

Versi sembilan titik pendaratan akan menghubungkan basis riset yang dikelola Chile, Argentina, Brasil, Amerika Serikat, dan Inggris. Seluruh koneksi akan dialirkan dari titik pendaratan di Punta Arenas dan Puerto Williams di Chile selatan, kemudian dirutekan melintasi Drake Passage.

Berdasarkan laporan The Maritime Executive, biaya pembangunan minimum diperkirakan mencapai USD 370 juta, sementara pembangunan optimal membutuhkan sekitar USD 620 juta. Angka ini mencerminkan kompleksitas teknis dan tantangan lingkungan yang dihadapi proyek tersebut.

Studi ini mengidentifikasi empat fitur yang membedakan proyek ini dari kabel komersial biasa: kondisi cuaca Drake Passage, pengikisan es di titik pendaratan Antartika, metode instalasi yang tidak umum digunakan di Antartika, dan rencana pemasangan sensor SMART yang mengukur suhu dasar laut, tekanan, dan akselerasi seismik untuk pemantauan iklim dan tsunami.

Antarctica

Spesifikasi Teknis dan Tantangan Geopolitik

Setiap titik pendaratan di Antartika akan mendapatkan pasangan serat khusus dengan kecepatan 15 hingga 30 Tbit/s melalui space-division multiplexing. Setiap basis riset bebas memilih peralatan transmisinya sendiri. Untuk mengatasi pengikisan es hingga kedalaman sekitar 340 meter, desain ini menggunakan horizontal directional drilling di titik pendaratan dan kabel berlapis ganda (double-armored cable).

Instalasi direncanakan berlangsung selama tiga musim panas Australia, di dalam jendela cuaca Desember hingga Januari. Metode ini dipilih untuk menghindari kondisi cuaca ekstrem yang menjadi tantangan utama di kawasan tersebut.

Permintaan informasi Subtel dikirimkan ke sejumlah perusahaan kabel bawah laut global, termasuk Alcatel Submarine Networks dari Prancis, NEC dari Jepang, SubCom dari AS, Xtera dari Inggris, serta dua perusahaan China, HMN Technologies dan FibreHome. Kehadiran perusahaan China ini menjadi sorotan penting dalam proyek tersebut.

HMN Technologies merupakan mantan Huawei Marine Networks yang dijual kepada Hengtong setelah sanksi AS dan masuk dalam Entity List Departemen Perdagangan AS pada 2020. Washington telah bertahun-tahun berupaya menjaga perusahaan ini keluar dari rute kabel Pasifik. Studi ini mengakui risiko tersebut dengan mencantumkan geopolitik pembiayaan proyek dan pembatasan pengadaan sebagai risiko kritis.

Rekomendasi studi mencakup prinsip “netralitas melalui desain” (neutrality by design), penggunaan dark fiber, dan peralatan transmisi yang dikendalikan pengguna sehingga tidak ada operator yang dapat membaca lalu lintas pihak lain. Pendekatan ini dirancang untuk mengatasi kekhawatiran keamanan di tengah ketegangan geopolitik.

Aspek pembiayaan juga membawa keterkaitan dengan China melalui MCDF Finance Facility, mekanisme berbasis Beijing yang terkait dengan Belt and Road Initiative. Kondisi ini berhadapan dengan dorongan Barat untuk mengeluarkan perusahaan dan dana China dari infrastruktur kabel bawah laut dengan alasan keamanan, tekanan serupa yang turut membentuk proyek kabel Laut Hitam yang dirutekan untuk menghindari Rusia.

Studi ini tidak merekomendasikan pembangunan langsung. Sebaliknya, studi ini menyerukan jalur bertahap yang menyelesaikan masalah pembiayaan dan politik sebelum kontrak pengadaan mahal ditandatangani. Pendekatan hati-hati ini mencerminkan kompleksitas proyek yang melibatkan banyak pemangku kepentingan internasional.

Chile telah mengirimkan laporan tersebut ke Kementerian Luar Negeri, yang diharapkan membawanya ke Dewan Kebijakan Antartika negara tersebut. Setiap pembangunan juga memerlukan persetujuan dari negara-negara Antartika lain yang basis risetnya berada di rute optimal.

Proyek kabel Drake Passage menjadi sorotan di tengah meningkatnya perhatian global terhadap keamanan infrastruktur kabel bawah laut. Berbagai insiden terkait kabel bawah laut, termasuk dugaan sabotase, semakin menegaskan pentingnya infrastruktur ini bagi konektivitas global.

Jika proyek ini terealisasi, para peneliti di Antartika akan mendapatkan akses langsung ke jaringan global tanpa harus menunggu pengiriman fisik data. Hal ini akan mempercepat kolaborasi riset internasional dan memungkinkan pemantauan data iklim secara real-time dari benua paling selatan di bumi.

[CONTENT_END]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.