Telset.id – Rusia mulai menyerang data center di Ukraina dalam eskalasi terbaru konflik kedua negara. Serangan ini membuat sekitar 100.000 rumah tangga di Ukraina kehilangan koneksi internet, sementara sejumlah perusahaan mulai memindahkan data mereka ke luar perbatasan untuk menghindari gangguan.
Menurut laporan BBC, sebuah drone Rusia menghantam data center yang berlokasi di kawasan pusat bisnis di Kyiv. Serangan tersebut merusak fasilitas dan menewaskan empat orang di sekitar lokasi. Berbagai laporan lain juga menyebutkan bahwa data center dan infrastruktur jaringan lain turut menjadi sasaran di berbagai wilayah Ukraina.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa Moskow ingin memaksimalkan gangguan bagi masyarakat biasa. “Semua ini memengaruhi kemampuan orang untuk tetap terhubung, belajar, bekerja,” ujar Zelensky. Dalam unggahan di media sosial, ia menulis, “Rusia terus memperluas operasi eskalasinya: bisnis Amerika dan lainnya, data center, penyedia internet — bagi Rusia, seluruh kehidupan biasa hanyalah target. Penting bagi dunia untuk merespons semua ini dan agar Rusia merasakan respons atas terornya.”
Rusia Klaim Serang Situs Datagroup
Rusia mengonfirmasi bahwa pihaknya menyerang situs Datagroup. Moskow mengklaim bahwa intelijen militer Ukraina menggunakan fasilitas tersebut, dan menyatakan juga menargetkan pusat data serta telekomunikasi lain yang dimiliki oleh New-Telco, United DC, Kyivstar, dan Parkovyi.
Serangan terhadap infrastruktur ini menimbulkan dampak langsung pada konektivitas warga. Sekitar 100.000 rumah tangga di Ukraina dilaporkan kehilangan akses internet, dan sebagian perusahaan mulai memigrasikan data mereka melintasi perbatasan untuk menghindari gangguan layanan. Meski demikian, seorang pejabat pemerintah menyebut bahwa jaringan internet Ukraina sangat terdesentralisasi, namun masyarakat tetap harus mengantisipasi gangguan lokal.
Baca Juga:
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menegaskan bahwa penargetan data center oleh Rusia akan memengaruhi aliran “informasi yang menyelamatkan nyawa.” Menurutnya, peringatan cepat tentang ancaman rudal dan drone sangat penting karena menyelamatkan nyawa. “Ini adalah infrastruktur sipil yang krusial… Ini bukan target militer,” kata Sybiha. “Ini penting untuk menjaga kehidupan sehari-hari tetap berfungsi.”
Data Center Jadi Target Strategis
Data center kini dianggap sebagai infrastruktur kritis karena masyarakat modern semakin bergantung pada layanan online. Karena itu, fasilitas ini menjadi target strategis dalam sebuah konflik.
Meski situs pemrosesan data milik pemerintah secara historis menjadi salah satu target pertama dalam operasi militer, respons Iran terhadap kampanye pemboman Amerika Serikat pada Maret menjadi salah satu contoh pertama di mana infrastruktur data center komersial sipil sengaja ditargetkan. Serangan tersebut mencakup serangan drone dan rudal terhadap data center regional AWS Middle East di Dubai dan Bahrain.

Serangan itu juga secara langsung mengancam kantor Nvidia, Microsoft, Apple, Google, dan 14 perusahaan teknologi Amerika lainnya di kawasan tersebut, serta data center AI Stargate milik OpenAI di Abu Dhabi.
Dalam konteks serangan terhadap Ukraina, langkah Rusia menyasar data center menunjukkan pergeseran pola target dalam konflik modern. Fasilitas yang sebelumnya dianggap sebagai infrastruktur sipil kini masuk dalam daftar sasaran militer. Hal ini terlihat dari pernyataan Rusia yang mengklaim bahwa Datagroup digunakan oleh intelijen militer Ukraina, meskipun Ukraina menegaskan bahwa fasilitas tersebut merupakan infrastruktur sipil yang penting untuk kehidupan sehari-hari.
Dampak dari serangan ini tidak hanya dirasakan oleh pemerintah, tetapi juga oleh masyarakat luas yang bergantung pada layanan internet untuk aktivitas sehari-hari. Kehilangan koneksi internet berarti terganggunya akses terhadap informasi, layanan pendidikan, pekerjaan, dan komunikasi. Sejumlah perusahaan yang terdampak mulai mengambil langkah mitigasi dengan memindahkan data mereka ke luar perbatasan Ukraina.

Serangan terhadap data center di Ukraina juga menyoroti kerentanan infrastruktur digital dalam situasi konflik. Meskipun jaringan internet Ukraina disebut sangat terdesentralisasi, serangan yang menyasar fasilitas fisik tetap dapat menyebabkan gangguan lokal yang signifikan. Pemerintah Ukraina terus mendesak komunitas internasional untuk merespons serangan ini, dengan menekankan bahwa data center dan infrastruktur jaringan adalah bagian dari infrastruktur sipil yang penting.
Dalam pernyataannya, Zelensky menegaskan bahwa Rusia terus memperluas eskalasi dengan menyasar berbagai aspek kehidupan biasa. Ia menyerukan respons dunia terhadap apa yang disebutnya sebagai teror terhadap infrastruktur sipil. Sementara itu, Sybiha menekankan bahwa peringatan dini terhadap ancaman rudal dan drone sangat bergantung pada infrastruktur yang kini menjadi target serangan.
Serangan ini menambah daftar panjang insiden yang menyasar infrastruktur digital dalam konflik bersenjata. Sebelumnya, serangan terhadap data center komersial di Timur Tengah menunjukkan bahwa fasilitas semacam ini dapat menjadi target dalam operasi militer. Kini, data center di Ukraina menghadapi ancaman serupa, dengan dampak langsung pada konektivitas ratusan ribu rumah tangga.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa data center tidak lagi hanya berfungsi sebagai pusat penyimpanan dan pemrosesan data, tetapi juga menjadi bagian dari infrastruktur kritis yang rentan terhadap konflik. Bagi Ukraina, menjaga operasional data center dan jaringan internet menjadi tantangan tersendiri di tengah eskalasi serangan yang terus berlanjut.
Sejumlah perusahaan yang beroperasi di Ukraina mulai mengantisipasi gangguan lebih lanjut dengan memigrasikan data mereka ke luar negeri. Langkah ini diambil untuk memastikan kelangsungan layanan di tengah ketidakpastian situasi keamanan. Meski demikian, pemerintah Ukraina menegaskan bahwa jaringan internet negara tersebut tetap beroperasi secara terdesentralisasi, meskipun gangguan lokal tidak dapat dihindari.
Serangan terhadap data center di Kyiv dan sejumlah fasilitas lain di Ukraina menjadi pengingat bahwa infrastruktur digital kini berada di garis depan konflik modern. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perusahaan teknologi, tetapi juga oleh masyarakat yang bergantung pada layanan internet untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Dengan sekitar 100.000 rumah tangga kehilangan koneksi internet dan sejumlah perusahaan memindahkan data ke luar perbatasan, serangan ini menunjukkan bahwa target serangan dalam konflik telah meluas ke infrastruktur yang menopang kehidupan digital masyarakat. Ukraina terus menyerukan perhatian internasional terhadap dampak serangan ini, sementara Rusia mengklaim bahwa fasilitas yang diserang memiliki keterkaitan dengan kepentingan militer.





Komentar
Belum ada komentar.