📑 Daftar Isi

Logo T-Mobile dan SpaceX berdampingan sebagai simbol penolakan T-Mobile terhadap jaringan Starlink Mobile

T-Mobile Tolak Jaringan Starlink, Sebut Satelit Teknologi Inferior

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • T-Mobile menolak berbagi jaringan dengan Starlink untuk skema MVNO
  • CEO Srini Gopalan sebut satelit versi inferior FWA dengan keterbatasan ukuran beam
  • Verizon dan AT&T juga menolak proposisi SpaceX
  • Dua pertiga pelanggan FWA T-Mobile berasal dari area urban padat
  • SpaceX tetap berencana meluncurkan 15.000 satelit dan menyewa 80.000 lokasi menara seluler

Telset.id – T-Mobile secara tegas menolak gagasan berbagi jaringan dengan Starlink. CEO T-Mobile, Srini Gopalan, menilai teknologi satelit sebagai versi “inferior” dibandingkan teknologi yang saat ini digunakan perusahaannya. Penolakan ini menjadi pukulan bagi ambisi SpaceX yang ingin membangun “jaringan mobile paling canggih di dunia” melalui satelit Starlink.

Dalam earnings call yang dikutip WCCFTech, Gopalan menyatakan bahwa satelit merupakan versi inferior dari FWA (fixed wireless access) dengan lebih banyak keterbatasan, terutama menyangkut ukuran beam. Pernyataan tersebut sekaligus mengonfirmasi bahwa T-Mobile tidak melihat adanya peluang sinergi dengan penyedia layanan satelit.

T-Mobile and SpaceX logos

Tiga Operator Besar Kompak Menolak

Penolakan T-Mobile bukan sikap tunggal. Verizon dan AT&T juga telah menolak proposisi SpaceX. Ketiga nama besar tersebut sebelumnya disebut sebagai target utama SpaceX untuk menjalankan skema MVNO (mobile virtual network operator), yakni dengan memanfaatkan infrastruktur jaringan mereka.

SpaceX memang tidak bisa mengandalkan satelit semata. Layanan Starlink Mobile membutuhkan infrastruktur berbasis darat dan spektrum yang memadai, dua hal yang belum dimiliki Starlink sepenuhnya. Karena itu, rencana awal SpaceX adalah menggandeng operator besar Amerika Serikat untuk mendapatkan akses ke infrastruktur mereka.

Namun ketiga operator kompak menutup pintu. Gopalan bahkan menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi MVNO dalam skema yang ia bayangkan, dengan alasan bahwa pertumbuhan FWA masih terbuka lebar tanpa perlu melibatkan penyedia satelit.

Argumen FWA di Balik Penolakan

Gopalan menjelaskan bahwa FWA merupakan teknologi yang biasa digunakan operator untuk menghadirkan broadband ke rumah dan lokasi statis di area rural. Teknologi ini menggabungkan router dengan sinyal 5G atau 4G, alih-alih memakai kabel fiber optik. FWA juga tersedia di area urban, tetapi paling berguna di wilayah yang sulit dijangkau broadband konvensional.

Dengan logika tersebut, Gopalan berargumen bahwa konektivitas satelit justru merupakan opsi yang lebih buruk, bahkan di banyak area rural dan sulit dijangkau, dibandingkan FWA. Ia juga menyebut bahwa dua pertiga pelanggan FWA T-Mobile berasal dari area urban padat, dan pihaknya masih melihat peluang pertumbuhan besar di wilayah tersebut.

“Kami tidak benar-benar melihat peluang sinergi dengan penyedia satelit,” ujar Gopalan dalam earnings call tersebut.

Starlink satellites

Jalan SpaceX Masih Panjang

Penolakan dari tiga operator besar menjadi masalah serius bagi SpaceX. Untuk sementara waktu, perusahaan harus mengandalkan satelitnya sendiri sebagai tulang punggung layanan. Meski demikian, SpaceX disebut memiliki sejumlah rencana untuk tetap membangun jaringan mobile yang layak.

Rencana tersebut mencakup peluncuran 15.000 satelit baru, menyewa 80.000 lokasi menara seluler, serta kemungkinan memasang base station seluler pada dish Starlink yang sudah ada. Jika terealisasi, langkah ini berpotensi menghadirkan jaringan mobile yang layak dan menjadi ancaman bagi tiga operator besar Amerika Serikat.

Sementara itu, persaingan di pasar operator Amerika Serikat sendiri terus bergerak. T-Mobile baru-baru ini memperkenalkan skema paket yang memungkinkan pelanggan memilih sendiri perks mereka, sementara isu keamanan nomor pelanggan juga menjadi perhatian tersendiri di antara operator besar seperti AT&T, Verizon, dan T-Mobile.

Di sisi lain, dinamika pasar perangkat dan operator turut mewarnai industri ini. Sejumlah langkah strategis operator, termasuk rencana menghidupkan kembali merek lama, menunjukkan bahwa persaingan layanan telekomunikasi masih menjadi medan yang dinamis.

Elon Musk's face behind the Starlink logo

Penilaian Terhadap Teknologi Satelit

Pernyataan Gopalan memperkuat posisi operator darat yang selama ini memandang satelit sebagai pelengkap, bukan pengganti. Argumen utama T-Mobile bertumpu pada keterbatasan teknis satelit, khususnya ukuran beam, yang dinilai membatasi kapasitas dan fleksibilitas layanan dibandingkan solusi berbasis darat.

Bagi SpaceX, penolakan ini menegaskan bahwa membangun jaringan mobile tidak cukup hanya dengan menambah jumlah satelit. Kebutuhan akan infrastruktur darat dan spektrum tetap menjadi syarat utama yang belum sepenuhnya terpenuhi. Tanpa kemitraan dengan operator besar, jalur SpaceX untuk menjadi operator mobile kelas utama masih harus melewati banyak tahap.

Penolakan T-Mobile, Verizon, dan AT&T sekaligus menunjukkan bahwa ambisi Starlink Mobile belum mendapat tempat di antara pemain incumbent. Ketiga operator memilih mempertahankan model bisnis dan teknologi yang sudah berjalan, termasuk FWA, dibanding membuka jaringan mereka untuk skema MVNO berbasis satelit.

AT&T CEO John Stankey on stage

Bagi pengguna di Amerika Serikat, posisi T-Mobile ini berarti layanan mobile berbasis satelit Starlink belum akan hadir melalui jaringan operator besar dalam waktu dekat. Rencana SpaceX untuk menghadirkan jaringan mobile yang lebih luas masih bergantung pada realisasi peluncuran satelit, penyewaan menara, dan pemasangan base station yang disebut dalam rencananya.

[INFOGRAPHIC]
T-Mobile, Verizon, dan AT&T kompak menolak skema MVNO SpaceX. CEO T-Mobile Srini Gopalan menyebut satelit sebagai versi inferior FWA dengan keterbatasan ukuran beam. SpaceX tetap melanjutkan rencana 15.000 satelit baru dan 80.000 lokasi menara seluler.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.