Ilustrasi server di pusat data yang menjadi objek migrasi massal Tesco dari VMware

Tesco Migrasi 40.000 Server Tinggalkan VMware

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Tesco, supermarket Inggris, migrasi 40.000 server dari VMware, selesai 2027
  • Langkah ini merupakan migrasi publik terbesar dari VMware dalam beberapa tahun terakhir
  • Tesco menggugat Broadcom £100 juta karena pelanggaran kontrak lisensi perpetual
  • Kenaikan harga: 175% untuk VMware dan 350% untuk mainframe software
  • Broadcom hentikan dukungan untuk Tesco setelah gugatan 2025
  • CEO Broadcom Hock Tan tolak beri update keamanan tanpa langganan
  • Belum diketahui software pengganti VMware yang dipilih Tesco
  • HP Enterprise tawarkan lisensi gratis Morpheus VM Essentials untuk rebut pelanggan VMware

Telset.id – Rantai supermarket asal Inggris, Tesco, memutuskan untuk memindahkan seluruh infrastruktur server mereka dari platform VMware. Langkah besar ini melibatkan 40.000 server dan diperkirakan akan selesai pada tahun 2027, menjadikannya migrasi publik terbesar dari platform tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Keputusan ini diambil setelah Tesco menggugat Broadcom, perusahaan yang mengakuisisi VMware pada tahun 2023, sebesar £100 juta ($134 juta). Dalam gugatan tersebut, Tesco menuduh Broadcom melakukan pelanggaran kontrak dengan tidak menghormati lisensi perpetual yang dibeli pada tahun 2021. Tesco juga mengklaim bahwa tindakan Broadcom bertentangan dengan berbagai hukum persaingan usaha.

Man moving server

Sejak akuisisi oleh Broadcom, VMware telah mengubah kebijakan lisensinya secara drastis. Perusahaan menghentikan penjualan lisensi perpetual dan beralih ke model berlangganan (subscription). Kebijakan baru ini memaksa pelanggan untuk membeli bundel langganan untuk kontrak dukungan, menggandakan harga per-core, menetapkan minimum pembelian 72-core, serta menambahkan kontrak minimum tiga tahun dengan denda untuk keterlambatan pembaruan.

Dampak kebijakan tersebut sangat terasa bagi Tesco. Supermarket itu melaporkan kenaikan harga sebesar 175% untuk produk VMware dan kenaikan 350% untuk perangkat lunak mainframe. Situasi semakin memburuk setelah gugatan tahun 2025, di mana Broadcom akhirnya menghentikan dukungan untuk suite VMware Tesco, memaksa perusahaan ritel tersebut mencari pihak ketiga untuk pekerjaan itu.

CEO Broadcom, Hock Tan, bahkan disebut-sebut menolak memberikan pembaruan keamanan kepada pelanggan yang tidak memiliki langganan. Langkah agresif ini, meskipun berhasil meningkatkan pendapatan VMware secara dramatis dalam jangka pendek, justru memicu eksodus pelanggan secara perlahan namun pasti.

Hingga saat ini, belum diketahui perangkat lunak apa yang dipilih Tesco untuk menggantikan VMware. Laporan dari Ars Technica menyebutkan bahwa pilihan Tesco tampaknya tidak kompatibel dengan Veeam dan Zerto, yang mengindikasikan kemungkinan solusi dari vendor yang kurang dikenal.

Di sisi lain, persaingan untuk merebut pelanggan VMware yang kecewa semakin panas. HP Enterprise baru saja mengumumkan penawaran lisensi gratis selama satu tahun untuk Morpheus VM Essentials, plus lisensi seharga $1 untuk perangkat lunak migrasi Zerto. Langkah ini jelas ditujukan untuk menarik mantan pelanggan VMware yang mencari alternatif.

Kasus Tesco bukanlah yang pertama. Sejumlah perusahaan lain juga telah melakukan migrasi serupa atau sedang mempertimbangkan untuk meninggalkan VMware. Kebijakan Broadcom yang agresif dalam menaikkan harga dan memaksa perubahan model lisensi telah menciptakan peluang baru bagi para kompetitor di pasar virtualisasi server.

Migrasi infrastruktur server berskala besar seperti yang dilakukan Tesco bukanlah tugas yang mudah. Proses ini membutuhkan perencanaan matang, pengujian ekstensif, dan risiko gangguan operasional yang signifikan. Namun, bagi Tesco, langkah ini tampaknya menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan harus terus menerima kenaikan harga yang dianggap tidak masuk akal.

Keputusan Tesco untuk meninggalkan VMware juga menjadi sinyal kuat bagi pasar bahwa model bisnis pasca-akuisisi Broadcom tidak dapat diterima oleh semua pelanggan. Meskipun strategi ini berhasil meningkatkan pendapatan jangka pendek, dampak jangka panjangnya terhadap basis pelanggan VMware masih menjadi tanda tanya besar.

Bagi perusahaan lain yang masih menggunakan VMware, kasus Tesco bisa menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya memiliki rencana cadangan dan tidak bergantung sepenuhnya pada satu vendor. Diversifikasi infrastruktur teknologi informasi menjadi semakin krusial di tengah dinamika pasar yang tidak menentu.

Selain itu, gugatan hukum yang diajukan Tesco juga menambah tekanan terhadap Broadcom. Jika pengadilan memenangkan Tesco, hal ini bisa membuka jalan bagi gugatan serupa dari pelanggan VMware lainnya yang merasa dirugikan oleh perubahan kebijakan sepihak tersebut.

Dalam industri teknologi, pergeseran besar seperti ini biasanya memakan waktu bertahun-tahun dan melibatkan biaya yang tidak sedikit. Namun, bagi Tesco, investasi untuk migrasi mungkin masih lebih murah dibandingkan harus membayar kenaikan harga 175% setiap tahunnya.

Kisah Tesco dan VMware menjadi contoh klasik bagaimana akuisisi besar dapat mengubah lanskap persaingan secara drastis. Broadcom, yang dikenal dengan strategi akuisisi dan pemangkasan biaya, kini harus menghadapi konsekuensi dari kebijakan harga yang terlalu agresif.

Tidak hanya VMware, Broadcom juga terlibat dalam berbagai kontrak besar lainnya. Perusahaan ini dilaporkan akan memasok silikon khusus untuk Meta hingga tahun 2029 dan menyediakan kapasitas Google TPU sebesar 3,5 gigawatt untuk Anthropic mulai tahun 2027.

Sementara itu, Microsoft juga menghadapi gugatan senilai $2,8 miliar di Inggris karena diduga mengenakan biaya berlebihan kepada 60.000 bisnis yang menggunakan Microsoft Server di cloud lain. Hal ini menunjukkan bahwa praktik bisnis kontroversial di industri teknologi semakin menjadi sorotan publik dan regulator.

Kembali ke kasus Tesco, keputusan supermarket ini untuk meninggalkan VMware menegaskan bahwa pelanggan besar memiliki daya tawar yang signifikan. Meskipun migrasi infrastruktur server bukanlah perkara mudah, bagi perusahaan dengan skala operasi sebesar Tesco, opsi untuk tetap bertahan dengan harga yang melambung justru lebih merugikan dalam jangka panjang.

Ke depannya, industri virtualisasi server diprediksi akan semakin kompetitif. Vendor alternatif seperti Nutanix, Microsoft Hyper-V, dan solusi open-source seperti KVM dan Proxmox berpotensi mendapatkan keuntungan dari ketidakpuasan pelanggan VMware. Harga yang lebih kompetitif dan fleksibilitas lisensi menjadi faktor kunci yang dicari oleh perusahaan-perusahaan yang berniat melakukan migrasi.

Kasus Tesco juga menunjukkan pentingnya kontrak yang jelas dan perlindungan hukum bagi pelanggan enterprise. Ketika sebuah perusahaan diakuisisi, kontrak yang sudah ada sebelumnya tidak selalu dihormati oleh entitas baru, seperti yang dialami Tesco dengan lisensi perpetualnya.

Bagi para profesional TI dan pengambil keputusan di perusahaan, situasi ini menjadi pengingat untuk selalu membaca dengan teliti syarat dan ketentuan dalam kontrak lisensi perangkat lunak. Klausul tentang perubahan kepemilikan perusahaan dan dampaknya terhadap lisensi yang sudah dibeli perlu mendapat perhatian khusus.

Dengan rencana penyelesaian migrasi pada tahun 2027, Tesco masih memiliki waktu sekitar satu tahun untuk mempersiapkan transisi infrastruktur servernya. Proses ini tentu akan diawasi ketat oleh industri, karena keberhasilan atau kegagalan Tesco bisa menjadi preseden bagi perusahaan lain yang berniat melakukan langkah serupa.

Pada akhirnya, keputusan Tesco untuk meninggalkan VMware bukan hanya tentang penghematan biaya, tetapi juga tentang prinsip dan kedaulatan teknologi. Perusahaan tidak ingin dikendalikan oleh vendor yang menerapkan kebijakan sepihak yang merugikan. Ini adalah pesan yang jelas bagi seluruh industri: pelanggan tetap memiliki pilihan, meskipun pilihan itu datang dengan risiko dan tantangan yang besar.

Broadcom, di sisi lain, tampaknya tetap pada strateginya. Perusahaan ini lebih memilih keuntungan jangka pendek yang besar dari pelanggan yang tersisa daripada mempertahankan basis pelanggan yang lebih luas dengan margin lebih tipis. Hanya waktu yang akan membuktikan apakah strategi ini akan berkelanjutan atau justru menjadi bumerang bagi perusahaan yang berbasis di San Jose, California tersebut.

Komentar

Belum ada komentar.