Telset.id – Lima perusahaan teknologi terbesar Amerika Serikat, yaitu Alphabet, Microsoft, Amazon, Meta, dan Oracle, dilaporkan menyembunyikan utang raksasa di luar laporan keuangan resmi mereka. Total kewajiban yang tidak tercatat ini mencapai sekitar USD 1,65 triliun atau setara dengan Rp 26.000 triliun, angka yang bahkan melampaui total utang resmi mereka yang sebesar USD 1,35 triliun pada kuartal lalu.
Temuan ini diungkap dalam investigasi oleh Nikkei Asia yang langsung memicu kekhawatiran di kalangan investor. Meta disebut sebagai perusahaan dengan utang off-balance-sheet terbesar, yakni sekitar USD 420 miliar. Praktik akuntansi ini memungkinkan perusahaan untuk menampilkan kondisi keuangan yang tampak lebih sehat daripada realitas yang sebenarnya.
Para analis kini mulai membandingkan situasi ini dengan skandal Enron, perusahaan energi yang kolaps pada 2001. Sama seperti Enron, raksasa teknologi ini menggunakan special purpose vehicles atau anak perusahaan yang terpisah secara hukum untuk menyembunyikan utang dari neraca keuangan mereka.

“Perlakuan akuntansi itu sendiri sedang menjadi tren,” ujar konsultan akuntansi teknis Tom Selling kepada Bloomberg. “Tapi bagaimana jika salah satu perusahaan ini adalah rumah kartu yang menopang dirinya sendiri dengan perlakuan akuntansi ini? Bagi saya, itulah risikonya.”
Peringatan ini mendorong pengawasan baru terhadap praktik pelaporan perusahaan di sektor teknologi, terutama perusahaan yang disebut dalam investigasi. Pengawasan ini datang di tengah pengeluaran besar-besaran perusahaan untuk memperluas kapasitas komputasi yang dibutuhkan bagi sistem kecerdasan buatan atau AI yang semakin canggih.
Untuk tetap kompetitif dalam perlombaan AI, perusahaan-perusahaan ini menggelontorkan dana besar untuk proyek pembangunan pusat data jangka panjang. Skala belanja pusat data di seluruh industri telah mencapai level yang jarang terlihat dalam sejarah korporasi.
Baca Juga:
Apakah investasi infrastruktur besar-besaran ini pada akhirnya akan membuahkan hasil secara finansial masih belum pasti, mengingat teknologi dan pasar yang terus berubah dengan cepat. Nikkei Asia mencatat bahwa banyak perusahaan ini juga menerbitkan saham baru untuk mengumpulkan dana tambahan.
Penerbitan saham baru ini berisiko mengencerkan nilai kepemilikan pemegang saham yang sudah ada dan secara bertahap dapat mengikis kepercayaan investor dalam beberapa bulan mendatang. Dampak dilusi ini juga bisa membuat perusahaan semakin rentan jika gelembung AI yang lebih luas akhirnya mengempis atau pecah secara tiba-tiba.

Kekhawatiran investor bisa semakin dalam jika industri gagal menghasilkan permintaan nyata yang cukup untuk membenarkan pengeluaran pusat data ini. Menariknya, empat dari lima perusahaan yang disebut dalam investigasi dijadwalkan melaporkan pendapatan kuartal kedua dalam beberapa minggu mendatang.
Mengingat besarnya taruhan dari pengungkapan ini, pasar dan analis akan mengamati setiap laporan pendapatan dengan saksama. Apakah raksasa teknologi ini pada akhirnya akan menyerupai Enron atau sekadar mengejar strategi pertumbuhan yang agresif namun sehat secara finansial, masih belum jelas.

Praktik akuntansi ini tetap legal jika diterapkan dengan benar, meskipun para kritikus berpendapat bahwa hal ini dapat mempersulit upaya investor untuk mengukur eksposur keuangan secara keseluruhan secara akurat. Situasi ini mengingatkan pada krisis keuangan 2008, di mana utang tersembunyi di sektor perumahan memicu resesi global.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat membaca artikel terkait tentang Project Taara dan PHK Karyawan yang pernah dilakukan induk Google.





Komentar
Belum ada komentar.