Telset.id – Anda mungkin sudah terbiasa dengan smartphone Xiaomi yang hadir dalam varian Standard, Pro, dan Max. Tapi bagaimana jika konsep itu diterapkan pada… es krim? Ya, Anda tidak salah baca. Dalam gelaran Values Conference 2026, Xiaomi justru membuat kejutan dengan meluncurkan produk yang sama sekali di luar ekspektasi: es krim dengan branding resmi mereka. Ini bukan lelucon atau kampanye viral semata, melainkan produk nyata yang dijual di kantin internal perusahaan.
Lantas, apa yang membuat es krim dari raksasa teknologi ini begitu spesial? Ternyata, selain namanya yang mengadopsi skema produk gadget, resepnya pun punya cerita. Dikembangkan oleh Chef Bing Jiabao dari kantin Xiaomi, es krim ini terinspirasi dari es krim tahu dan melalui proses eksperimen panjang dengan bahan utama yang sangat dekat dengan identitas brand: millet atau jawawut. Butuh tiga iterasi sebelum akhirnya Chef Bing menemukan formula sempurna. Prosesnya dimulai dengan mengukus millet, mengubahnya menjadi pasta yang dicampur dengan susu, dan diakhiri dengan taburan biji millet. Menurut Xiaomi, resep ini berhasil menjawab tantangan bagaimana membuat rasa millet lebih kuat dan terasa. Sebuah inovasi kuliner yang lahir dari budaya riset dan pengembangan ala perusahaan tech.
Fenomena ini langsung menjadi tren di media sosial. Banyak warganet yang berkomentar dengan nada humor, ada yang bertanya-tanya di mana varian Ultra-nya, atau menyarankan agar Xiaomi membuat edisi Youth yang lebih terjangkau. Yang jelas, respons pasar nyata sangat positif. Xiaomi mengonfirmasi bahwa stok es kirm mereka habis terjual dengan cepat setelah peluncuran. Ini menunjukkan betapa kuatnya daya tarik brand dan bagaimana pendekatan marketing yang out-of-the-box bisa menyentuh khalayak dengan cara yang tak terduga. Di tengah persaingan ketat pasar gadget, langkah ini seperti angin segar yang mengingatkan kita bahwa inovasi bisa datang dari mana saja, bahkan dari dapur kantin.
Meski terlihat seperti aktivitas sampingan, operasional kantin Xiaomi ternyata cukup serius. Kantin tersebut telah dioperasikan secara in-house sejak 2015, dengan semua koki dan staf merupakan karyawan langsung yang menerima benefit standar perusahaan. Dari foto-foto yang beredar, terlihat mesin pembuat es krim yang digunakan membawa branding Mengniu, perusahaan dairy ternama di Tiongkok, mengisyaratkan adanya kolaborasi di balik layar. Jadi, ini bukan sekadar main-main, tetapi sebuah usaha yang dikelola dengan profesional.
Nah, untuk varian dan harganya, Xiaomi tetap konsisten dengan DNA-nya: menawarkan pilihan yang jelas dengan value for money. Varian Standard dibanderol dengan harga sangat kompetitif, hanya 5,99 yuan atau sekitar Rp 13.000. Naik ke tingkat Pro dengan harga 6,99 yuan (sekitar Rp 15.200), Anda akan mendapatkan tambahan satu buah kukis. Sementara untuk pengguna berat dengan selera manis yang tinggi, varian Max hadir dengan harga 8,99 yuan (sekitar Rp 19.500) dan memaksimalkan “spesifikasi” dengan tiga kukis. Sebuah analogi yang lucu namun akrab bagi para penggemar setia produk Xiaomi.
Baca Juga:
Peluncuran produk lifestyle seperti ini seringkali menjadi pembicaraan hangat, mirip dengan antusiasme menyambut HP turun harga di momen-momen tertentu. Meski es krim jelas bukan gadget, strategi peluncurannya punya kemiripan: menciptakan buzz, memanfaatkan loyalitas komunitas, dan menawarkan sesuatu yang familiar namun dengan sentuhan kejutan. Di sisi lain, inovasi pendinginan yang serius untuk perangkat keras tetap menjadi arena persaingan utama, seperti yang diisyaratkan dalam bocoran teknologi pendingin terbaru untuk smartphone gaming.
Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari es krim Xiaomi ini? Selain menunjukkan sisi humanis dan playful dari brand sebesar Xiaomi, ini adalah reminder bahwa terkadang, inovasi paling menyenangkan justru datang ketika kita keluar dari kotak. Sementara pasar gadget dipenuhi dengan bocoran spesifikasi dan persaingan harga, seperti yang terlihat pada beberapa flagship unggulan, kehadiran es krim ini seperti jeda sejenak yang menyegarkan. Ia tidak dimaksudkan untuk mengalahkan freezer rumah Anda atau bersaing dengan merek es krim ternama. Ia lebih tentang storytelling, engagement, dan memperkuat ikatan emosional dengan komunitas. Dan dalam hal itu, Xiaomi sekali lagi berhasil mencetak poin.




