Telset.id – BYD resmi meluncurkan Seagull generasi kedua di China pada 20 Oktober 2026 sebagai mobil listrik termurah mereka yang mengusung teknologi Flash Charging. Hatchback ini dijual mulai 65.900 yuan (sekitar 9.800–9.900 dolar AS), lebih murah dari generasi pertama yang sebelumnya dibanderol 69.900 yuan (10.500 dolar AS). Peluncuran ini menjadi sinyal jelas bahwa perang harga EV murah di China memasuki babak baru: bukan lagi soal harga, tapi siapa yang bisa menjejalkan teknologi pengisian cepat ke segmen paling bawah.
Seagull sendiri bukan nama asing di pasar global. Model ini dijual dengan berbagai nama tergantung wilayah, termasuk Dolphin Surf, Dolphin Mini, hingga Atto 1. Seagull termasuk salah satu EV terlaris dunia, meski performa penjualannya tahun ini menunjukkan tekanan berat. Data penjualan menyebut Seagull terjual 266.000 unit secara global pada Januari–September 2026, turun 33 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Penurunan paling tajam terjadi di China, di mana penjualannya anjlok 66 persen menjadi 83.600 unit. Penyebab utamanya adalah Geely EX2 (Xingyuan), hatchback kecil yang kini menjadi mobil terlaris di China dengan 310.000 unit pada periode yang sama, mengalahkan Tesla Model Y di posisi kedua dengan 277.000 unit.
Angka-angka itu menjelaskan mengapa BYD tidak main-main dengan generasi kedua Seagull. Model ini hadir dalam lima varian dengan rentang harga resmi 65.900 yuan hingga 99.900 yuan (sekitar 9.800 hingga 14.900 dolar AS). Rinciannya: Vitality Edition 65.900 yuan, Freedom Edition 72.900 yuan, Ease Edition 75.900 yuan, Flight Edition 82.900 yuan, dan Smart Edition 99.900 yuan. Ada sedikit perbedaan keterangan soal harga termurah, di mana sejumlah laporan menyebut angka 62.900 yuan (sekitar 9.500 dolar AS) dengan promosi “Super Trade-in”. Yang jelas, versi entry 2027 ini lebih murah sekitar 700 dolar AS dari model 2025.
Baca Juga:
Dimensi Membesar, Kini Lima Penumpang
Salah satu perubahan paling terasa ada pada ukuran. Seagull baru kini memiliki panjang 4.205 mm, lebar 1.810 mm, dan tinggi 1.570 mm, dengan wheelbase 2.650 mm. Dibanding model lama yang berukuran 3.780 mm × 1.715 mm × 1.540 mm dan wheelbase 2.500 mm, generasi kedua ini 425 mm lebih panjang dengan wheelbase bertambah 150 mm. Efeknya bukan sekadar kabin lebih lega: Seagull kini menampung lima penumpang, bukan empat seperti sebelumnya, dan mendekatkan posisinya ke BYD Dolphin.
Soal ruang bagasi, tersedia kapasitas belakang yang bisa diperluas hingga 1.380 liter, ditambah frunk baru berkapasitas 94 liter. Desain eksterior tetap mengusung bahasa “Marine Aesthetics” dengan stance rendah dan sporty serta lampu posisi bermotif trisula. Pilihan warnanya ada enam: Lime Green, Berry Pink, Cream White, Mango Orange, Ice Coconut Blue, dan Sesame Grey.
Flash Charging dan Blade Battery 2.0
Inilah bagian yang paling banyak dibicarakan. Tiga varian teratas dengan baterai 39,2 kWh mengusung Flash Charging yang diklaim mampu mengisi daya dari 10 persen ke 70 persen dalam lima menit. Pengisian penuh, dari 10 persen ke 97 persen, hanya butuh sembilan menit. Bahkan pada suhu ekstrem -30 derajat Celsius, dibutuhkan 12 menit untuk mengisi dari 20 persen ke 97 persen.
Seagull baru tersedia dengan dua paket baterai Blade 2.0 LFP: 30,1 kWh dan 39,2 kWh. Masing-masing memberikan jangkauan CLTC 320 km (sekitar 259 km WLTP) dan 420 km (sekitar 340 km WLTP), dengan konsumsi energi tercatat 9,0 kWh/100 km. Dari sisi penggerak, terjadi perubahan besar: dari penggerak roda depan menjadi roda belakang, dengan motor listrik 85 kW (114 hp) atau 95 kW (127 hp) dan torsi 130 N·m. Sebagai perbandingan, generasi lama hanya menawarkan 55 kW (75 hp). Suspensi belakang juga ditingkatkan menjadi multi-link independen, dengan radius putar 4,95 meter.
Kabinnya dirombak dengan tata letak horizontal, material yang lebih halus, dan tiga skema warna baru: Shell White, Clear Sky Pink, dan Polar Star Grey. Di depan pengemudi ada layar infotainment 15,6 inci yang menjalankan DiLink 150 dengan DeepSeek AI versi penuh, setir dua palang, konsol tengah baru dengan penyimpanan pintar, dan sejumlah tombol fisik yang dikembalikan. Fitur kenyamanan mencakup kursi pengemudi berpengaturan listrik 6 arah, kursi penumpang depan 4 arah, pemanas dan ventilasi tiga level untuk kedua kursi depan, pijat multi-mode untuk pengemudi, pengisi daya nirkabel 50W, ambient lighting 127 warna, dan sistem audio 8 speaker.
Semua varian sudah membawa DiLink 150 dan sistem stabilitas saat ban pecah hingga kecepatan 140 km/jam. Pembeli bisa menambah sistem DiPilot 300 “God’s Eye” berbasis LiDAR yang dipasang di atap, membuka fitur City Navigation on Autopilot (CNOA), High-speed Navigation on Autopilot (HNOA), pengenalan lampu lalu lintas dengan hitung mundur, hingga penghindaran rintangan di segala skenario. Soal keselamatan, ada struktur bodi kandang “sepuluh horizontal, empat vertikal” dan hingga enam airbag.
Untuk konteks industri, pendekatan BYD ini sejalan dengan tren teknologi yang makin cepat turun ke segmen murah. Di pasar gadget, misalnya, pendingin cair RGB kini hadir di ponsel gaming kelas menengah, sementara di sektor lain poster AI memicu perdebatan hak cipta di ruang publik. Pola yang sama terlihat di otomotif: teknologi yang dulu eksklusif kini jadi standar di kelas entry.
Setelah meluncur di China, BYD diperkirakan membawa versi yang lebih besar ini ke pasar luar negeri, kemungkinan sebagai Dolphin Surf dan Dolphin Mini generasi kedua. Dengan harga agresif, ADAS, dimensi lebih besar, dan Flash Charging, BYD berharap Seagull baru bisa bangkit kembali di segmen hatchback kecil. Pertanyaannya sederhana: apakah konsumen China masih mau membeli hatchback mungil ketika Geely EX2 sudah lebih dulu menguasai pasar? Jawabannya akan terlihat dari angka penjualan kuartal berikutnya.





Komentar
Belum ada komentar.