📑 Daftar Isi

Ferrari Luce EV berwarna abu-abu dengan roda G2-13T besar dari Vossen Wheels dan stance rendah

Ferrari Luce EV Disentuh Vossen Wheels, Ban Besar Jadi Sorotan

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Vossen Wheels jadi tuner pertama yang memodifikasi Ferrari Luce EV dengan roda G2-13T besar dan model dish
  • Roda besar mengisi lengkungan roda Luce yang dinilai terlalu kosong dengan roda standar
  • Stance lebih rendah memperbaiki proporsi visual Ferrari listrik tersebut
  • Rear wing aftermarket dinilai murah dan tidak menyatu dengan desain mobil
  • Konsensus penggemar: Luce mobil tampan, tapi belum sepenuhnya terasa sebagai Ferrari

Telset.id – Vossen Wheels menjadi tuner terbaru yang menyentuh Ferrari Luce, supercar listrik pertama Maranello, dengan upgrade utama berupa set roda G2-13T berdiameter besar dan model dish. Langkah ini muncul tak lama setelah Luce diperkenalkan, di tengah desain sedan mulusnya yang disebut-sebut belum diterima sepenuhnya oleh para penggemar Ferrari. Modifikasi ini menjadi gambaran pertama bagaimana komunitas aftermarket akan memperlakukan EV pertama Ferrari tersebut.

Sebagai perusahaan roda, wajar bila upgrade utama Vossen adalah satu set roda baru. Pilihan mereka jatuh pada G2-13T yang besar dan berdiameter lebar, mengisi lengkungan roda Luce yang masif. Kombinasi ini dinilai bekerja baik dengan desain Ferrari listrik tersebut, terutama karena roda standar Luce terlihat agak terlalu kecil, seperti mobil mainan HotWheels. Dengan pemasangan roda dish dan potensi penurunan suspensi, lengkungan roda Luce terisi jauh lebih rapi.

Namun tidak semua elemen modifikasi ini berhasil. Sayap belakang alias rear wing yang dipasang terlihat dipaksakan. Meski Luce mungkin tampil menarik dengan rear wing, unit yang dipakai kali ini terkesan murah dan tidak menyatu dengan alur desain mobil. Saran yang muncul: tinggalkan rear wing, pertahankan rodanya. Kombinasi itu disebut sebagai tampilan terbaik untuk Luce saat ini.

Sejak pertama kali hadir, konsensus umum di kalangan penggemar internet dan pejuang keyboard adalah Luce merupakan mobil yang tampan, hanya saja bukan Ferrari yang tampan. Bahkan setelah upgrade ini, penilaian tersebut masih dianggap berlaku. Luce memang terlihat lebih baik dengan roda baru dan stance yang lebih rendah, tetapi pertanyaan besarnya tetap: seberapa jauh komunitas penggemar dan aftermarket akan menerima mobil ini seiring waktu.

Roda G2-13T dan Stance Rendah Jadi Kunci Tampilan

Perubahan paling mencolok pada Luce versi Vossen adalah pemasangan roda G2-13T berukuran besar dengan profil dish yang tebal. Roda ini mengisi lengkungan roda Luce yang besar, sebuah area yang pada versi standar terlihat kurang terisi karena roda bawaan dinilai terlalu kecil. Penurunan suspensi yang menyertai pemasangan roda semakin memperkuat proporsi tersebut, membuat Luce tampil lebih padat dan berkarakter.

Meski demikian, penulis mengakui bukan penggemar roda berukuran masif. Namun untuk kasus Luce, pilihan Vossen dinilai tepat. Roda dish besar yang mengisi lengkungan lebar Ferrari listrik itu disebut benar-benar bekerja baik dengan desainnya. Ini menunjukkan bahwa pemilihan aftermarket yang tepat bisa memperbaiki persepsi visual sebuah mobil yang desainnya sempat menuai kritik.

Di sisi lain, rear wing yang dipasang justru menjadi catatan negatif. Elemen ini dinilai tidak mengalir dengan desain mobil dan terkesan murah. Kesimpulannya, kombinasi terbaik adalah mempertahankan roda dan stance rendah, tetapi melepas rear wing tersebut.

Penerimaan Komunitas Jadi Ujian Sesungguhnya

Ketika Luce pertama kali tiba, opini umum di kalangan penggemar internet adalah mobil ini tampan, tetapi bukan Ferrari yang tampan. Penilaian itu tidak berubah meski Vossen telah menyentuhnya. Upgrade roda dan stance rendah memang membuatnya lebih enak dilihat, namun pertanyaan tentang penerimaan komunitas penggemar dan aftermarket terhadap EV pertama Ferrari ini masih terbuka lebar.

Vossen sendiri bukan satu-satunya nama yang bergerak cepat di pasar tuning. Perusahaan roda kerap langsung menempelkan brand mereka pada supercar terbaru, dan Luce menjadi sasaran terbaru. Bagi Maranello, ini menjadi sinyal bahwa EV pertama mereka akan menghadapi ujian ganda: bukan hanya soal performa listrik, tetapi juga soal selera visual komunitas yang selama ini identik dengan mesin pembakaran.

Bagi penggemar otomotif dan pengguna yang mengikuti perkembangan industri, modifikasi Vossen pada Ferrari Luce menunjukkan bahwa era elektrifikasi tidak menghentikan budaya tuning. Justru sebaliknya, roda dan stance tetap menjadi bahasa universal untuk mengubah karakter sebuah mobil. Seperti halnya perangkat teknologi lain yang terus berevolusi, mulai dari Touchless ID hingga sistem keamanan digital, industri otomotif pun menuntut adaptasi dari para penggemarnya.

Yang jelas, Vossen hanya memberi gambaran pertama. Bagaimana komunitas aftermarket menangani Luce dalam jangka panjang akan menjadi indikator apakah Ferrari berhasil membawa DNA-nya ke era listrik, atau justru kehilangan sebagian identitasnya di mata para puritan. Satu hal yang pasti, roda besar dan stance rendah sudah membuktikan bahwa Luce punya potensi tampil lebih baik dari yang diyakini banyak orang.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.