Ilustrasi pengemudi dengan tangan di setir Tesla yang menunjukkan teknologi self-driving.

RUU New Jersey Ancam Blokir Operasi Tesla Robotaxi

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • RUU di New Jersey mewajibkan kendaraan otonom penuh menggunakan setidaknya tiga teknologi sensing, termasuk radar dan lidar.
  • RUU ini secara efektif akan melarang operasi Robotaxi Tesla yang hanya mengandalkan kamera (camera-only).
  • Senator Andrew Zwicker menegaskan RUU ini untuk keselamatan, bukan anti-Tesla.
  • Elon Musk berargumen kamera dan AI sudah cukup, namun banyak ahli meragukannya.
  • Kompetitor seperti Waymo sukses menggunakan kombinasi kamera, lidar, dan radar.
  • Armada Robotaxi Tesla (42 unit) masih kalah jauh dibanding Waymo (577 unit di Texas saja).
  • Tesla melakukan lobi dan meminta pelanggan di New Jersey untuk menentang RUU.
  • New York juga mempertimbangkan undang-undang serupa, berpotensi menimbulkan efek domino.

Telset.id – Rencana Tesla untuk mengoperasikan armada Robotaxi di Amerika Serikat menghadapi ancaman serius. Sebuah Rancangan Undang-Undang (RUU) di New Jersey mewajibkan kendaraan otonom penuh menggunakan setidaknya tiga teknologi sensing berbeda, termasuk radar dan lidar, yang secara efektif akan melarang pendekatan kamera-only milik Tesla.

RUU yang akan diajukan untuk pemungutan suara tahun ini ini merupakan respons langsung terhadap strategi Elon Musk yang bertahan pada visi murni kamera. Keputusan ini berpotensi menghambat ekspansi Tesla di pasar kendaraan otonom. Jika disahkan, undang-undang ini tidak hanya akan memblokir operasi Robotaxi Tesla di New Jersey, tetapi juga bisa memicu efek domino di negara bagian lain seperti New York yang sedang mempertimbangkan undang-undang serupa.

Menurut laporan The Verge, sponsor RUU tersebut, Senator Andrew Zwicker (D-NJ), menegaskan bahwa rancangan ini bukanlah upaya untuk menyerang Tesla. “This is not anti-Tesla,” ujar Zwicker. “I’m pro-New Jersey safety.” Ia berpendapat bahwa belum ada cukup bukti yang menunjukkan bahwa sistem dengan satu sensor, plus perangkat lunak, dapat menangani situasi yang bisa dihadapi manusia. “Can we get there? Maybe. But we’re not there yet,” tambahnya.

Pendekatan kamera-only yang diusung Tesla memang menjadi andalan Musk selama bertahun-tahun. Ia berargumen bahwa kamera yang didukung perangkat keras AI yang kuat sudah cukup untuk mewujudkan self-driving yang aman, meskipun banyak bukti menunjukkan sebaliknya. Musk bahkan sempat menulis di media sosial bahwa radar di Tesla dimatikan untuk meningkatkan keselamatan, dengan alasan “sensor contention” atau konflik antar sensor justru bisa mengurangi keamanan.

Namun, keyakinan Musk ini cukup terisolasi. Kompetitor seperti Waymo justru membuat terobosan besar dengan mengandalkan kombinasi kamera, lidar, dan radar. Teknologi lidar dan radar dinilai jauh lebih unggul dalam kondisi cuaca buruk, kabut, hujan deras, atau saat gelap. Profesor dari Carnegie Mellon dan pakar kendaraan otonom, Philip Koopman, menegaskan, “To run 24/7 across the majority of public roads in New Jersey today, it needs lidar. It’s pretty clear that today camera-only technology is not up to the challenge.”

Saat ini, armada Robotaxi Tesla yang beroperasi di jalan umum Texas hanya berjumlah 42 unit. Jumlah ini jauh tertinggal dibandingkan Waymo yang memiliki 577 robotaxi resmi di negara bagian yang sama, ditambah ribuan unit lainnya yang tersebar di sepuluh wilayah metropolitan AS. Elon Musk memang pernah berjanji bahwa armada Tesla akan tumbuh menjadi ratusan ribu unit pada akhir tahun ini, namun prediksi tersebut dinilai terlalu muluk dan tidak realistis.

Proyek Robotaxi Tesla sendiri telah dihantui oleh berbagai kemunduran. Musk beralasan bahwa perusahaan bersikap “paranoid about safety” sehingga proses peluncurannya lambat. Namun, di sisi lain, Tesla juga dituding menyensor laporan kecelakaan yang melibatkan Robotaxi mereka. Situasi ini menjadi semakin rumit karena belum adanya undang-undang federal yang komprehensif untuk mengatur kendaraan otonom, sehingga setiap negara bagian membuat aturannya sendiri.

Sebagai respons atas RUU ini, Tesla pun telah bergerak melakukan lobi. Senator Zwicker mengonfirmasi bahwa perwakilan Tesla sedang berdiskusi dengan para anggota legislatif mengenai topik ini. Perusahaan asal Texas itu juga telah meminta bantuan pelanggannya di New Jersey untuk menghubungi anggota legislatif setempat dan menentang RUU tersebut.

Langkah Tesla ini menunjukkan betapa gentingnya situasi yang mereka hadapi. Jika New Jersey berhasil mengesahkan undang-undang tersebut, negara bagian lain bisa mengikuti jejak serupa. Hal ini berpotensi mengacaukan seluruh strategi bisnis Tesla yang sangat bergantung pada teknologi self-driving murni berbasis kamera. RUU ini menjadi ujian serius bagi visi Elon Musk dan masa depan Robotaxi di Amerika Serikat.

A color-treated photograph of a driver with their hands on a Tesla steering wheel.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.