Telset.id – Mark Russinovich, CTO Microsoft Azure sekaligus tokoh di balik SysInternals, kembali mencuri perhatian dengan proyek sampingannya. Ia baru saja merilis DoomPaint, sebuah cara unik untuk memainkan game legendaris Doom yang memanfaatkan MS Paint sebagai layar utama. Proyek ini memungkinkan pengguna menjalankan rilis shareware asli Doom dengan MS Paint sebagai viewport untuk aksi dalam game, sebuah pendekatan yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.
DoomPaint berdiri di atas trik clipboard OLE yang memungkinkan game berjalan pada kecepatan hingga 35 FPS. Namun, Russinovich juga menyebutkan bahwa performa ini bisa turun drastis, bahkan sampai “setingkat spreadsheet” tergantung pada kondisi sistem. Meski demikian, CTO Microsoft tersebut menganggap frame rate yang relatif rendah ini sebagai bagian dari daya tarik DoomPaint.
“Mesin Doom yang sebenarnya (ViZDoom) menjalankan DOOM1.WAD shareware asli — dengan Freedoom WAD berlisensi BSD untuk menutupi episode yang tidak disertakan dalam shareware — dan merender secara headless,” jelas Russinovich di halaman proyek GitHub. “Setiap frame ditempatkan di clipboard Windows dan ditempelkan ke kanvas Paint sebagai edit dokumen sungguhan.”
Proyek ini menarik karena menggabungkan nostalgia game retro dengan kejeniusan teknis yang tidak biasa. Russinovich, yang bergabung dengan Microsoft pada 2006 dan telah mengubah SysInternals menjadi tulang punggung diagnostik Windows, kini juga dikenal karena vokalnya mengkritik berbagai kekurangan Windows 11. Namun, proyek DoomPaint ini menunjukkan bahwa bahkan seorang eksekutif teknologi sibuk pun masih meluangkan waktu untuk eksperimen coding yang menyenangkan.
Bagi penggemar game retro dan pengguna Windows, proyek ini menawarkan cara baru untuk menikmati Doom tanpa perlu khawatir tentang spesifikasi hardware. File, sumber daya, dan instruksi untuk menjalankan DoomPaint tersedia di situs GitHub. Tergantung pada mesin yang digunakan, pengguna mungkin bisa menjalankan versi Doom ini pada kecepatan penuh 35 FPS di resolusi 320 x 200, atau bahkan 640 x 400 piksel. Yang lebih menarik, proyek ini juga menyertakan dukungan suara dan musik.
Baca Juga:

Di bagian akhir file README, Russinovich menuliskan lelucon khasnya: “Paint merender game tetapi tidak menghitungnya. Paint tidak menghitung apa pun. Paint tidak pernah menghitung apa pun. Itulah leluconnya.” Pernyataan ini menegaskan bahwa MS Paint hanyalah kanvas pasif, sementara semua komputasi dilakukan oleh mesin Doom di belakang layar.
DoomPaint didistribusikan di bawah lisensi MIT, yang berarti siapa pun dapat mengunduh, memodifikasi, dan mendistribusikannya kembali secara bebas. Ini sejalan dengan semangat open-source yang mewarnai banyak proyek komunitas, termasuk berbagai upaya port Doom ke perangkat yang tidak biasa.
Proyek ini juga mengingatkan kita pada tradisi panjang “Doom port” di berbagai perangkat, dari kalkulator hingga mesin ATM. Namun, pendekatan Russinovich berbeda karena ia tidak sekadar mem-port game tersebut, melainkan menciptakan lapisan interaksi unik dengan aplikasi bawaan Windows yang selama ini dianggap sederhana.
Bagi mereka yang ingin melihat bagaimana proyek ini bekerja secara visual, Russinovich telah membagikan demonstrasi yang menunjukkan gameplay Doom berjalan di dalam jendela MS Paint. Meskipun frame rate-nya mungkin tidak sehalus versi asli di hardware era 1990-an, daya tariknya justru terletak pada keanehan dan kreativitas pendekatannya.
Kehadiran DoomPaint juga menambah daftar panjang kontribusi Russinovich di dunia teknologi. Selain perannya di Azure, ia telah menjadi suara terdepan dalam mengatasi berbagai kekurangan Windows 11 selama setahun terakhir. Proyek ini menunjukkan bahwa dedikasinya terhadap dunia komputasi tidak hanya terbatas pada produk komersial Microsoft, tetapi juga mencakup eksplorasi teknis yang murni untuk kesenangan.

Menariknya, Doom memiliki sejarah panjang dengan Microsoft. Bill Gates sendiri pernah membintangi promo aneh untuk mendorong Windows 95 pada 1993, yang kini menjadi bagian dari nostalgia industri game. Proyek DoomPaint ini seolah melanjutkan tradisi tersebut dengan cara yang lebih teknis dan kreatif.
Bagi pengguna yang tertarik mencoba, penting untuk dicatat bahwa DoomPaint membutuhkan mesin dengan kemampuan memadai untuk mencapai 35 FPS. Pada mesin yang lebih lambat, pengalaman bermain bisa menjadi sangat lambat, sesuai dengan peringatan Russinovich tentang performa “setingkat spreadsheet”. Namun, bagi mereka yang sabar, ini bisa menjadi pengalaman bermain yang unik dan tak terlupakan.
Proyek ini juga menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus datang dari produk besar atau perusahaan rintisan. Kadang, ide paling menarik justru lahir dari eksperimen pribadi seorang insinyur yang ingin mengeksplorasi batas-batas teknologi yang sudah ada. Dalam hal ini, Russinovich berhasil mengubah aplikasi sederhana seperti MS Paint menjadi bagian dari pengalaman gaming yang tidak biasa.
Dengan lisensi MIT dan ketersediaan sumber daya di GitHub, DoomPaint terbuka untuk dikembangkan lebih lanjut oleh komunitas. Siapa tahu, mungkin akan muncul variasi yang berjalan lebih cepat atau mendukung game lain dengan pendekatan serupa. Yang jelas, proyek ini telah membuktikan bahwa kreativitas teknis tidak mengenal batas, bahkan di tengah kesibukan seorang CTO perusahaan teknologi besar.





Komentar
Belum ada komentar.