Telset.id – Microsoft memulai restrukturisasi terbesar dalam sejarah divisi Xbox, yang langsung berdampak pada ribuan karyawan dan sejumlah studio game ternama. Langkah ini merupakan respons terhadap kondisi bisnis yang dinilai tidak sehat.
Keputusan ini diumumkan langsung oleh Kepala Xbox, Asha Sharma, melalui surel internal dan blog resmi perusahaan pada 6 Juli 2026. Dalam pengumuman tersebut, Microsoft mengonfirmasi akan melakukan pengurangan tenaga kerja sekitar 3.200 posisi sepanjang tahun fiskal 2027. Hampir setengah dari jumlah tersebut mulai diberhentikan pada hari pengumuman.
“Kami memulai restrukturisasi paling signifikan dalam sejarah Xbox,” tulis Asha Sharma dalam pernyataan resminya. “Setelah pertimbangan matang, saya membuat keputusan sulit untuk mengurangi tim kami sekitar 3.200 orang sepanjang FY27.”
Ini merupakan gelombang PHK besar kedua yang dilakukan Microsoft setelah restrukturisasi serupa pada tahun 2024. Langkah ini telah lama menjadi bahan spekulasi di kalangan industri game.
Empat Studio Keluar dari Xbox Game Studios
Selain pengurangan tenaga kerja, Microsoft juga melepas empat studio game dari naungan Xbox Game Studios. Dua di antaranya, Compulsion Games dan Double Fine Productions, akan menjadi studio independen. Kedua studio ini akan membawa pulang kekayaan intelektual (IP), katalog, dan modal operasional mereka secara utuh.
Compulsion Games dikenal lewat game South of Midnight, We Happy Few, dan Contrast. Sementara Double Fine Productions terkenal dengan Psychonauts 2, Kiln, Keeper, dan Broken Age.
Sementara itu, Ninja Theory dan Undead Labs akan mencari pemilik baru. Ninja Theory adalah studio di balik seri game populer Senua, termasuk Senua’s Saga: Hellblade II dan Hellblade: Senua’s Sacrifice. Undead Labs dikenal lewat seri State of Decay.
Meskipun terjadi perubahan besar, Microsoft memastikan bahwa tidak ada game first-party yang sudah diumumkan sebelumnya akan dibatalkan atau terpengaruh oleh restrukturisasi ini.
Baca Juga:
Penyebab Restrukturisasi: Margin Rendah dan Basis Instalasi Kecil
Microsoft mengungkapkan alasan di balik keputusan drastis ini. Divisi Xbox saat ini menghadapi margin operasional yang 3 hingga 10 kali lebih rendah dibandingkan platform kompetitor, seperti PlayStation dan Nintendo. Selain itu, basis instalasi (install base) konsol Xbox generasi kesembilan lebih rendah, sementara biaya produksinya lebih tinggi dari sebelumnya.
Strategi Xbox Game Pass dan pendekatan multi-platform yang digencarkan Microsoft ternyata tidak memberikan hasil sesuai harapan. “Bisnis kami saat ini tidak sehat,” tulis Asha Sharma dalam blog resmi perusahaan.
Sharma juga menyampaikan empati kepada karyawan yang terdampak. “Saya tahu ini menyakitkan. Perubahan ini akan langsung memengaruhi orang-orang yang telah mencurahkan kreativitas mereka untuk membangun Xbox. Banyak yang bergabung melalui akuisisi, sementara yang lain direkrut di sini, atau mencari kami karena mereka mencintai industri ini dan mencintai Xbox. Keputusan hari ini tidak mencerminkan bakat atau dedikasi mereka,” ujarnya.
Restrukturisasi besar-besaran ini menandai fase baru bagi Xbox yang tengah berjuang untuk memperbaiki fundamental bisnisnya. Kondisi ini sejalan dengan laporan sebelumnya tentang PHK massal dan penutupan studio yang direncanakan Microsoft.
Dengan langkah ini, Xbox memasuki periode transformasi yang akan berlangsung selama satu tahun ke depan. Keputusan untuk melepas studio-studio pengembang menunjukkan perubahan strategi besar dalam portofolio first-party Microsoft.

Meskipun berat, langkah ini dianggap perlu oleh Microsoft untuk menyelamatkan divisi gaming mereka yang terus mengalami tekanan dari kompetitor. Ke depannya, Xbox akan fokus pada efisiensi operasional dan strategi yang lebih realistis di tengah persaingan industri game global.





Komentar
Belum ada komentar.