📑 Daftar Isi

Xiaomi Peringatkan Harga Flagship China Bakal Tembus Rp 22 Juta di Akhir 2026

Xiaomi Peringatkan Harga Flagship China Bakal Tembus Rp 22 Juta di Akhir 2026

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Presiden Xiaomi, Lu Weibing, memberikan sinyal bahwa harga ponsel flagship di China berpotensi menembus angka 10.000 yuan atau sekitar Rp 22 juta pada akhir 2026. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah siaran langsung baru-baru ini, menyoroti tekanan biaya komponen yang semakin berat bagi para produsen.

Menurut Lu, kenaikan harga ini terutama dipicu oleh melonjaknya biaya memori, baik DRAM maupun NAND flash. Kenaikan biaya tersebut dinilai sudah sulit untuk terus diserap oleh perusahaan ponsel. Sebagai gambaran, Xiaomi 17 Ultra yang dirilis Desember lalu dibanderol mulai 6.999 yuan (sekitar $980) untuk varian 12GB + 512GB. Artinya, jika prediksi ini terwujud, akan ada lompatan harga yang signifikan dalam waktu kurang dari dua tahun.

Tekanan Biaya Memori dan Komponen

Lu Weibing menjelaskan bahwa harga komponen, khususnya memori, sedang berada dalam tren kenaikan yang tajam. Ia mengungkapkan bahwa penetapan harga untuk perangkat mendatang, termasuk Xiaomi 17 Max, masih dalam tahap diskusi internal karena volatilitas biaya komponen yang tinggi.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa pasokan memori tidak bisa ditingkatkan dalam waktu singkat. Membangun pabrik memori baru membutuhkan waktu beberapa tahun dari awal konstruksi hingga produksi massal. Sementara itu, permintaan terus meningkat pesat, terutama didorong oleh kebutuhan server AI dan perangkat komputasi berperforma tinggi. Lu memperkirakan tekanan pada harga memori ini akan berlanjut hingga tahun 2027, bahkan mungkin hingga 2028.

Dalam konteks ini, peluncuran Xiaomi 17 Max yang akan datang menjadi semakin menarik. Ponsel tersebut telah diumumkan di China dan dijadwalkan rilis pada bulan Mei. Bocoran dan teaser mengindikasikan perangkat ini akan menjadi model teratas di jajaran Xiaomi, dengan layar besar 6,9 inci, chip Snapdragon 8 Elite Gen 5, kamera utama 200MP garapan Leica, dan baterai raksasa 8.000mAh.

Xiaomi bukanlah satu-satunya merek yang menghadapi kenaikan biaya ini. Perusahaan seperti Oppo, Vivo, dan Honor juga mengalami tekanan serupa seiring dengan terus naiknya harga komponen di seluruh industri. Situasi ini menciptakan tantangan baru bagi pasar ponsel pintar China yang selama ini dikenal dengan strategi harga agresif.

Implikasi bagi Pasar Flagship

Meskipun memberikan peringatan tentang kenaikan harga, Lu Weibing berusaha meyakinkan pengguna bahwa Xiaomi tetap berkomitmen untuk fokus pada nilai (value) sebisa mungkin. Namun, ia juga mempertanyakan apakah konsumen bersedia menerima ponsel flagship yang menembus batas 10.000 yuan.

Jika hal ini benar-benar terjadi, ini bisa menandai perubahan besar bagi pasar ponsel pintar China. Selama bertahun-tahun, harga yang kompetitif menjadi salah satu daya tarik utama ponsel flagship China. Kenaikan harga yang signifikan berpotensi mengubah lanskap persaingan dan preferensi konsumen.

Bagi konsumen yang mencari alternatif dengan harga lebih terjangkau, masih ada opsi menarik di pasaran. Misalnya, Xiaomi sebelumnya merilis smartphone dengan harga sekitar Rp 4 jutaan yang tetap menawarkan performa kelas flagship. Informasi lebih lanjut tentang perangkat tersebut bisa Anda simak di artikel Xiaomi Mau Rilis Smartphone “Rasa” Flagship.

Situasi ini juga mengingatkan kita pada strategi Xiaomi di masa lalu yang selalu menawarkan spesifikasi tinggi dengan harga terjangkau. Seperti yang terlihat pada Xiaomi Mi 4s, perusahaan pernah sukses menghadirkan spek flagship dengan harga bersahabat. Namun, tekanan biaya komponen saat ini tampaknya akan menguji strategi tersebut.

Komentar

Belum ada komentar.