Telset.id – CEO OpenAI Sam Altman bertemu sekitar 50 eksekutif senior Samsung di Korea Selatan untuk membahas ekspansi kapasitas Artificial Intelligence dan memori perusahaan. Pertemuan ini menjadi sorotan karena datang tak lama setelah Altman mengkritik pemanfaatan DRAM di komputer pribadi yang dinilainya kurang optimal.
Pertemuan berlangsung di Resources Development Center Samsung di Yongin pada Sabtu, 30 Oktober. Forum itu mempertemukan para pimpinan dari lini bisnis keuangan, elektronik, dan bioteknologi Samsung. Samsung Korea mengonfirmasi pertemuan tersebut dan menyatakan diskusi berfokus pada penguatan hubungan yang sudah terjalin antara kedua perusahaan.
Altman sebelumnya menuai kritik luas lewat pernyataannya di podcast Chick Pink. Dalam wawancara itu, ia menyebut DRAM yang tertanam di komputer pribadi sering kali tidak terpakai secara maksimal dan menyebutnya “quite terrible”. Ia menyarankan agar pusat data memanfaatkan memori secara lebih intensif dengan berbagi sumber daya komputasi untuk beban kerja AI. Kritik muncul karena layanan seperti ChatGPT sendiri sangat bergantung pada infrastruktur komputasi terpusat.
Baca Juga:
Dalam pertemuan di Yongin, Samsung menegaskan pembahasan mencakup arah pengembangan teknologi AI dan potensi aplikasinya, serta pasar dan peluang bisnis baru yang akan muncul. Perusahaan asal Korea Selatan itu lebih menekankan transformasi AI dan peluang bisnis ke depan ketimbang mengumumkan kesepakatan pasokan memori baru.
Meski begitu, Samsung Korea menyebut diskusi juga menyentuh penguatan kemitraan yang sudah ada, khususnya Letter of Intent yang ditandatangani pada Oktober 2025 untuk bekerja sama di infrastruktur AI global. Kerja sama itu mencakup pasokan semikonduktor memori untuk proyek Stargate milik OpenAI.

Selain pembahasan bisnis, Altman dilaporkan memberikan Codex Micro Keyboard kepada kepala AI Center Samsung. Perangkat itu dirancang untuk digunakan bersama agen coding milik OpenAI. Detail ini menunjukkan pertemuan tidak hanya membahas pasokan komponen, tetapi juga produk yang menyentuh sisi pengembangan perangkat lunak.
Pertemuan tersebut berlangsung saat permintaan dari pusat data AI terus melonjak. AMD memperkirakan pendapatan DRAM akan melonjak 177% pada 2026 menjadi sekitar US$416 miliar. Sementara itu, Trendforce memperkirakan pasokan DRAM akan berada 1% hingga 2% di bawah permintaan pada tahun ini, dengan ketidakseimbangan yang diprediksi memburuk pada 2027.
Kapasitas manufaktur baru membutuhkan waktu, sehingga kekurangan pasokan berpotensi bertahan hingga 2028. Peringatan itu disampaikan Micron dalam laporan terbaru. Artinya, tekanan pada rantai pasok memori tidak akan cepat mereda meski permintaan terus naik.
Untuk saat ini, permintaan pusat data menghadapi persaingan besar, terutama dari PC, smartphone, dan perangkat elektronik lain yang memperebutkan pasokan memori terbatas. High-bandwidth memory (HBM), bentuk khusus DRAM yang dipakai di perangkat AI, menjadi semakin penting seiring perusahaan menerapkan sistem komputasi yang makin kuat.

Samsung dan SK Hynix termasuk produsen memori terkemuka dunia, yang menempatkan Korea Selatan pada posisi sentral dalam memasok perangkat keras di balik ekspansi AI. Menurut Counterpoint Research, kedua perusahaan menguasai sekitar 63% pendapatan DRAM global pada kuartal kedua 2026. Pengaruh mereka bahkan lebih besar di HBM, di mana dua produsen Korea Selatan itu menyumbang sekitar 83% pendapatan global.
Posisi itu mendorong eksekutif teknologi lain mendatangi Korea Selatan. CEO AMD Lisa Su berkunjung awal bulan ini untuk membahas pengamanan tambahan pasokan HBM dari Samsung. Ia menyatakan pentingnya merencanakan tiga hingga lima tahun ke depan bersama para mitra.
Di sisi lain, Samsung dan SK Hynix tengah meningkatkan pabrik di China untuk memenuhi permintaan produk memori dan penyimpanan terkait AI yang melonjak. Namun, peningkatan tersebut menyangkut produksi NAND flash, bukan DRAM. Langkah itu tetap menunjukkan bagaimana produsen menyesuaikan kapasitas seiring pergeseran permintaan ke perangkat keras pusat data.
Kritik Altman dan Tekanan Pasokan Memori
Pernyataan Altman soal DRAM di PC menjadi konteks penting pertemuan di Yongin. Ia menilai memori di komputer pribadi sering tidak terpakai dan menyarankan pusat data berbagi sumber daya komputasi untuk beban kerja AI. Pandangan itu memicu reaksi karena layanan OpenAI sendiri bergantung pada infrastruktur terpusat.
Kritik serupa juga mencuat dalam pemberitaan lain terkait pernyataan Altman. Sejumlah pihak menyoroti implikasi pernyataannya terhadap cara alokasi memori global dibahas. Isu ini menjadi latar mengapa pertemuan dengan para eksekutif Samsung dipandang strategis, terutama di tengah permintaan pusat data yang terus naik.
Dalam konteks industri, kelangkaan memori yang diprediksi berlanjut hingga 2028 memperkuat urgensi pembicaraan soal pasokan. AMD memperkirakan pendapatan DRAM melonjak 177% pada 2026, sementara Trendforce menyebut pasokan kurang 1% hingga 2% dari permintaan tahun ini. Ketidakseimbangan itu diperkirakan memburuk pada 2027.
HBM menjadi titik fokus karena perannya di perangkat AI. Samsung dan SK Hynix menguasai sekitar 83% pendapatan HBM global, menurut Counterpoint Research. Dominasi itu menjelaskan mengapa eksekutif seperti Lisa Su dari AMD datang langsung ke Korea Selatan untuk membahas pasokan.
Samsung sendiri menegaskan pertemuan lebih menekankan transformasi AI dan peluang bisnis ke depan. Perusahaan tidak mengumumkan kesepakatan pasokan memori baru. Penegasan ini penting agar pembaca tidak menyimpulkan adanya kontrak baru dari pertemuan tersebut.
Dengan kombinasi lonjakan permintaan, keterbatasan kapasitas, dan dominasi pemain Korea Selatan, pertemuan Altman dengan puluhan eksekutif Samsung menjadi penanda bagaimana persaingan memperebutkan memori AI berlangsung. Fokusnya bukan sekadar pertemuan, melainkan arah pasokan yang menentukan laju ekspansi infrastruktur AI.
[LINK_PLACEHOLDER]





Komentar
Belum ada komentar.