Telset.id – Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) mengumumkan dakwaan pertama dari Operation Ghostbusters, operasi nasional yang membongkar penipuan besar terhadap program bantuan mahasiswa federal. Para pelaku menggunakan identitas curian untuk mendaftar pinjaman mahasiswa dan memanfaatkan AI untuk melengkapi aplikasi, sehingga membuat mahasiswa palsu tampak mengikuti kelas online. Pemerintah AS diperkirakan kehilangan lebih dari $200 juta atau sekitar Rp3,2 triliun akibat aktivitas ini.
Kasus ini menyasar langsung warga yang tidak pernah kuliah. Mereka yang memilih langsung bekerja setelah lulus SMA justru dibebani utang mahasiswa untuk gelar yang tidak pernah mereka daftarkan. Sejumlah community college dan universitas di Amerika Serikat mulai mencurigai adanya kecurangan dalam program Federal Student Aid (FAFSA) sejak 2021.
Menurut keterangan DOJ, sekolah menerima sebagian besar dana pinjaman mahasiswa hasil kecurangan. Sisanya dialirkan ke rekening bank para pelaku, yang kemudian menggunakan mules untuk memindahkan uang dari rekening bank AS ke kaki tangan di luar negeri.

Seizure Kripto Pertama di Kenya
Operation Ghostbusters sendiri telah menghasilkan dakwaan terhadap lima individu. Assistant Attorney General Colin M. McDonald dari National Fraud Enforcement Division Departemen Kehakiman menyatakan bahwa pihaknya juga menyita lebih dari $750.000 dalam bentuk cryptocurrency yang terkait dengan skema ini melalui jaringan yang berafiliasi dengan warga negara Kenya. Menurut McDonald, ini merupakan penyitaan internasional pertama sejenisnya di Kenya.
“Hari ini, kami mengumumkan hasil pertama Operation Ghostbusters — upaya nasional untuk menghentikan skema penipuan besar yang menyasar bantuan mahasiswa federal, warga Amerika berpenghasilan rendah, dan pembayar pajak Amerika,” ujar McDonald dalam pernyataannya.
Ia menegaskan, pihaknya tidak akan berhenti mengejar pelaku. “Jika Anda mencuri identitas orang Amerika, jika Anda mencuri dolar pembayar pajak, jika Anda mengeksploitasi program yang dimaksudkan untuk membantu siswa membangun masa depan — kami akan menemukan Anda. Entah Anda berada di Nebraska, New Jersey, Virginia, atau Nairobi, kami akan memburu Anda,” tegasnya.
Saat ini, lebih dari 40 kasus penipuan masih terbuka dan melibatkan 26 kantor lapangan FBI serta 20 kantor U.S. Attorney. U.S. Department of Education Office of the Inspector General yang merujuk kasus ini ke FBI Richmond Field Office menjadi titik awal penanganan.
Baca Juga:
AI Bikin Penipu Makin Canggih
Penipuan online sebenarnya sudah ada sejak internet lahir. Namun, AI membuat para penipu menjadi lebih canggih dan mampu membidik korban dengan nominal lebih besar. Salah satu contohnya adalah penipu yang menggunakan gambar hasil AI Brad Pitt untuk menipu seorang perempuan berusia 53 tahun senilai $850.000.
Kelompok yang lebih besar juga memakai perangkat AI untuk menjalankan aksi mereka. Korea Utara dilaporkan menggunakan AI untuk membantu para pekerjanya mendapatkan pekerjaan di perusahaan Barat dan mengumpulkan uang guna membiayai kas negara.
Untuk menekan penipuan pinjaman mahasiswa, Amerika Serikat mengambil langkah dengan menerapkan sistem deteksi penipuan otomatis. Namun, beban tambahan berupa proses identifikasi dan false positives justru berdampak negatif bagi para mahasiswa paling rentan di negara tersebut.
Di sisi lain, otomatisasi dan AI juga mulai merambah berbagai sektor lain, termasuk perangkat keras lokal. Sebagai contoh, AI PC lokal sempat ludes terjual pada hari pertama peluncurannya di Indonesia, menandakan adopsi teknologi AI yang kian masif di berbagai lini.
Kasus Operation Ghostbusters menunjukkan bahwa penyalahgunaan AI tidak hanya menyasar konsumen individu, tetapi juga sistem publik berskala besar. Bagi masyarakat umum, kasus ini menjadi pengingat bahwa data identitas pribadi menjadi aset yang paling rawan disalahgunakan, terutama ketika proses pengajuan layanan keuangan semakin terdigitalisasi.





Komentar
Belum ada komentar.