Telset.id – Oracle co-founder Larry Ellison menegaskan bahwa artificial intelligence (AI) tidak akan mematikan bisnis software dan SaaS. Dalam keynote di ajang AI World, Ellison menilai AI justru akan membuat aplikasi enterprise menjadi jauh lebih mampu dibandingkan sebelumnya.
Pernyataan ini sekaligus menjawab kekhawatiran yang berkembang di industri teknologi. Banyak pihak menduga bisnis akan memakai AI untuk membangun software mereka sendiri, sehingga memicu skenario yang disebut “SaaSpocalypse”. Ellison secara langsung menepis anggapan tersebut di hadapan peserta konferensi tahunan Oracle tersebut.
“Ada pembicaraan bahwa akan ada SaaSpocalypse karena semua orang akan memakai AI untuk membangun aplikasi mereka sendiri,” ujar Ellison. “Saya rasa itu tidak sepenuhnya benar. Saya pikir perusahaan akan terus membangun aplikasi, tetapi aplikasinya akan jauh berbeda karena AI.”

AI Bikin Aplikasi Lebih Spesifik per Industri
Alih-alih membuat software yang ada menjadi usang, Ellison meyakini AI akan memungkinkan pengembang membuat aplikasi yang jauh lebih komprehensif. Aplikasi tersebut dinilai mampu menangani seluruh proses bisnis dan disesuaikan untuk setiap jenis sektor serta kebutuhan perusahaan.
Ellison menilai aplikasi enterprise paling mapan saat ini pun masih memiliki keterbatasan karena hanya mengotomatiskan sebagian dari proses yang dibutuhkan bisnis. “Mereka mungkin produk terbaik yang tersedia secara komersial… [tetapi] belum selesai,” katanya. Ia mengakui banyak sektor masih perlu membangun ekstensi sendiri dan membeli aplikasi pihak ketiga serta konektor lain.
“Untuk pertama kalinya… industri software benar-benar bisa menyelesaikan aplikasi-aplikasi tersebut jika kita mulai mengerjakannya industri demi industri,” ujar Ellison. Dorongan terbesar Oracle saat ini terlihat di sektor kesehatan. Ellison menyoroti sifat industri ini yang kompleks dan sangat teregulasi, sehingga menjadi tantangan besar bagi satu perusahaan software global dalam menavigasi keragaman geografis.
Baca Juga:
Antarmuka Aplikasi Bergeser ke Bahasa Alami
Ellison juga meyakini AI akan mengubah cara pekerja berinteraksi dengan aplikasi. Menu rumit, dashboard, dan proses bertahap akan digantikan interaksi bahasa alami yang lebih mulus. “Jika Anda bisa mengajukan pertanyaan yang menjelaskan apa yang ingin dilihat, Anda harus langsung melihatnya. Antarmuka pengguna lain adalah omong kosong,” tegasnya.
“Seharusnya tidak perlu pelatihan untuk menggunakan aplikasi-aplikasi ini,” tambah Ellison. Pandangan ini sejalan dengan tren yang diungkap sejumlah eksekutif Oracle. Brian Chess, Chief Operating Officer NetSuite, menyiratkan bahwa software bisnis yang mendasari bisa saja pada akhirnya menjadi tak terlihat bagi pengguna.
Membahas pelanggan yang mungkin lebih memilih mengakses NetSuite melalui asisten AI seperti ChatGPT atau platform lain seperti Slack, Chess mengatakan, “Jika mereka tidak pernah login, itu tidak masalah bagi kami.” Oracle menyadari bahwa selama masih bisa menjadi sistem pencatatan (system of record) bagi perusahaan, menyesuaikan diri dengan cara akses baru adalah keharusan.

Implikasinya, bagi vendor software, nilai produk akan lebih banyak datang dari data, logika, dan proses yang mereka kelola, bukan dari antarmuka rapi yang selama ini mereka bangun. Kekhawatiran soal SaaSpocalypse tetap relevan, tetapi bukan karena AI menghapus software dari dunia. Ini menandai babak berikutnya dalam industri software, di mana antarmuka menjadi kurang kritis dan fungsionalitas menjadi keunggulan utama.
Pandangan Ellison ini menjadi salah satu sorotan di tengah derasnya pengembangan AI di sektor enterprise. Sejumlah pelaku industri lain juga tengah mendorong kapabilitas AI ke ranah yang lebih teknis, seperti yang terlihat pada model AI 1 Triliun untuk kebutuhan siber.
Sementara itu, saham Oracle tercatat naik sekitar 14% ke level US$144,14 dalam beberapa hari penyelenggaraan Oracle AI World. Kenaikan ini kemungkinan sebagian terdorong oleh pandangan Ellison soal masa depan software serta rangkaian pengumuman produk perusahaan. Meski begitu, harga saham Oracle masih turun signifikan dibandingkan puncaknya di akhir 2025 yang mencapai US$330,34.
Di sisi lain, kebutuhan infrastruktur untuk mendukung beban kerja AI juga terus bergerak. Inovasi pada penyimpanan pun muncul, seperti langkah FADU FS-SSD yang memindahkan file system ke dalam SSD demi AI storage. Perubahan cara kerja software ini juga sejalan dengan model bisnis baru yang dibangun para pemain AI, seperti yang ditunjukkan Claude Code.
Dengan posisinya sebagai penyedia system of record, Oracle menegaskan bahwa adaptasi terhadap cara akses baru merupakan keharusan. Bagi pelaku bisnis, pernyataan Ellison menjadi penanda bahwa nilai software ke depan akan ditentukan oleh kedalaman fungsi dan data yang dikelola, bukan semata oleh tampilan antarmuka yang selama ini menjadi tolok ukur.





Komentar
Belum ada komentar.