📑 Daftar Isi

Ilustrasi kacamata pintar atau smart glasses yang tengah menjadi sorotan kebijakan di sejumlah negara

Inggris Pertimbangkan Larangan Smart Glasses di Ruang Publik

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Pemerintah Inggris menimbang pembatasan smart glasses di setting tertentu dan pembatasan penjualan kepada pengguna tertentu
  • Menteri Safeguarding Satvir Kaur menyebut manfaat dan dampak buruk smart glasses harus ditimbang
  • Meta glasses dilarang di ruang sidang Inggris dan Wales, serupa larangan di New York
  • NHS dan Department for Education Inggris meninjau kebijakan smart glasses
  • Australia, Uni Eropa, Norwegia, dan ICE Amerika Serikat ikut membatasi atau meninjau
  • Ray-Ban Meta Audio tanpa kamera dinilai sebagai langkah yang tepat

Telset.id – Pemerintah Inggris sedang mempertimbangkan opsi untuk membatasi penggunaan smart glasses di sejumlah lingkungan tertentu, termasuk kemungkinan membatasi penjualannya kepada pengguna tertentu. Langkah ini menempatkan Inggris dalam daftar negara yang mulai meninjau keberadaan kacamata pintar berkamera, menyusul larangan serupa yang sudah berlaku di ruang sidang pengadilan.

Menteri Safeguarding Inggris, Satvir Kaur, mengatakan bahwa pemerintah sedang mengkaji opsi untuk membatasi smart glasses di setting tertentu dan membatasi penjualannya kepada pengguna tertentu. Pernyataan itu disampaikan Kaur dalam laporan The Guardian. Menurut Kaur, manfaat smart glasses harus ditimbang dengan dampak buruk yang bisa ditimbulkannya.

Isu ini menjadi sorotan karena kacamata pintar seperti Ray-Ban Meta belakangan menghadapi gelombang penolakan publik. Perangkat itu bahkan mendapat julukan “pervert glasses” di tengah perdebatan soal privasi. Bagi pengguna di Indonesia, perkembangan kebijakan di Inggris ini menjadi indikasi awal bagaimana negara-negara lain bisa merespons kehadiran kacamata pintar berkamera di ruang publik.

Larangan di Ruang Sidang dan Instansi

Di Inggris dan Wales, kacamata Meta baru-baru ini dilarang di ruang sidang pengadilan, serupa dengan larangan yang berlaku di negara bagian New York, Amerika Serikat. Pengadilan menyatakan akan menyita kacamata tersebut jika dikenakan ke dalam ruang sidang, dan mengembalikannya setelah pengguna keluar dari ruangan.

Selain itu, menurut Kaur, National Health Service (NHS) Inggris dan Department for Education tengah meninjau kebijakan masing-masing terkait smart glasses. Artinya, pembatasan tidak hanya menyasar ruang sidang, tetapi juga berpotensi merambah ke layanan kesehatan dan lingkungan pendidikan.

Ray-Ban Meta Smart glasses

Dalam sebuah debat mengenai kacamata pintar, anggota parlemen Anne Sabina mengungkapkan kekhawatiran yang lebih luas. Ia menyebut perempuan melaporkan terbangun setelah malam keluar dan menemukan video diri mereka viral di internet, direkam tanpa pengetahuan atau persetujuan mereka oleh pria yang mengenakan smart glasses.

Negara Lain Ikut Meninjau

Terlepas dari apakah larangan benar-benar diberlakukan, Inggris menambah daftar pemerintah dan lembaga yang mulai meninjau pembatasan smart glasses. Pemerintah Australia mengumumkan pada September bahwa mereka melarang penggunaan kacamata berkamera di lingkungan kerja pemerintah. Uni Eropa juga tengah meneliti kacamata pintar, meski belum ada langkah resmi yang diambil.

Norwegia dilaporkan berencana memberlakukan larangan sementara terhadap smart glasses di ruang publik. Di Amerika Serikat, bahkan ICE telah melarang Ray-Ban Meta untuk agennya dengan alasan kekhawatiran privasi dan keamanan. Dengan gelombang “blue wave” pada pemilihan midterm 2026, Silicon Valley dan AI diperkirakan menghadapi pengawasan yang lebih ketat, dan smart glasses kemungkinan besar termasuk dalam sorotan tersebut.

A close-up of a camera lens on the Meta Ray-Ban (gen 2) smart glasses with shutter open

Tekanan publik terhadap kacamata pintar berkamera juga berkaitan dengan bagaimana perusahaan teknologi merespons isu privasi. Sebelumnya, Wikimedia Foundation turut menyoroti pentingnya pengaturan pemanfaatan data dan AI, menandakan bahwa tata kelola teknologi berbasis kamera dan AI memang sedang menjadi perhatian banyak pihak.

Manfaat yang Tetap Diakui

Meski menghadapi penolakan, Kaur sendiri mengakui bahwa kamera dan layar bawaan pada smart glasses bisa bermanfaat bagi penyandang disabilitas penglihatan. Menurut Kaur, smart glasses telah membantu mereka menavigasi dunia di sekitar.

Namun, smart glasses tidak harus memiliki kamera untuk tetap bermanfaat. Meta mengklaim telah mengerjakan Ray-Ban Meta Audio tanpa kamera selama bertahun-tahun sebelum debutnya di Meta Connect 2026. Perangkat itu tampaknya diluncurkan untuk meredam sebagian kritik “pervert glasses”.

Ray-Ban Meta Audio glasses

Beberapa penulis Tom’s Guide telah mencoba kacamata Meta versi audio tersebut dan sampai pada pujian yang sama: keputusan menghilangkan kamera adalah langkah yang tepat. Amanda Caswell, AI editor Tom’s Guide, mengaku menjadi penggemar Ray-Ban Meta yang lebih besar setelah menghilangkan kamera, berdasarkan pengalamannya selama 72 jam menggunakan kacamata itu. Dengan demikian, ada jalan bagi smart glasses untuk diterima, dan menghilangkan kamera bisa membantu.

Ray-Ban Meta Audio glasses hands-on

Di sisi lain, dinamika kebijakan dan produk Meta juga terlihat dari langkah perusahaan lainnya, seperti saat Meta menghentikan update untuk Quest 2 dan Quest Pro pada Maret 2027. Sementara itu, kasus kebocoran data yang menimpa Revolut menjadi pengingat bahwa isu privasi dan keamanan data memang kian sensitif di mata regulator maupun publik.

Pertanyaan yang kini terbuka adalah apakah smart glasses berkamera sebaiknya dilarang, atau tetap dibiarkan beredar dengan pemanfaatan yang jelas. Pemerintah Inggris masih menimbang opsi pembatasan, sementara sejumlah negara sudah bergerak lebih dulu dengan kebijakan masing-masing.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.