📑 Daftar Isi

Tampilan Triple-A Minesweeper versi AAA buatan Mike Lacher

Minesweeper Versi AAA Buatan Creative Director Picu Debat Soal Game Modern

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Mike Lacher membuat Triple-A Minesweeper, versi AAA game klasik Windows
  • Menampilkan logo Unreal Engine, Nvidia, Bink Video, dan Wwise
  • Narasi sci-fi lewat karakter Nora, The Don, Clyde, Dr. K, dan DJ Dan
  • Loot boxes dan brand integrations dijadwalkan kuartal pertama tahun depan
  • Sindiran soal game modern yang menuntun pemain berlebihan
  • Ending menyisakan isyarat sekuel

Telset.id – Seorang creative director, Mike Lacher, membuat versi AAA dari game klasik Minesweeper yang dulu hadir bawaan Windows. Karya ini dibagikan Lacher melalui LinkedIn dan disebutnya sebagai reboot “big-budget, triple-A” yang akan menghadirkan “loot boxes dan brand integrations” pada kuartal pertama tahun depan.

Proyek bernama Triple-A Minesweeper ini bukan sekadar pembaruan visual. Ketika pengunjung membuka halaman Triple-A Minesweeper, mereka disambut logo Minesweeper klasik yang mirip dengan yang muncul di desktop Windows 95. Namun saat ikon tersebut diklik dua kali, pengguna langsung disambut audio entrance megah khas game big-budget, disertai deretan logo dari nama-nama besar seperti Unreal Engine, Nvidia, Bink Video, dan Wwise, sebelum akhirnya splash title Minesweeper muncul di layar.

Perubahan paling mencolok terletak pada pengalaman bermain. Setelah proses loading selesai, pemain tidak langsung masuk ke jendela game biasa. Layar justru menampilkan situasi seolah pemain baru sadar setelah terkapar dalam game first-person. Di titik inilah Nora, yang disebut sebagai handler pemain, memanggil pengguna dengan sebutan “Sweeper” dan menjelaskan tugas yang harus dilakukan. Nora juga menyatakan, “I’m patched into your neural hub,” gaya narasi yang identik dengan banyak game sci-fi.

Narasi Berlapis dan Elemen Game Modern

Jika pemain menunggu cukup lama sebelum menekan apa pun, mereka akan disambut serangkaian pesan suara dari antagonis bernama “The Don”. Tidak hanya itu, muncul pula karakter sampingan yang disebut-sebut mengganggu, seperti sahabat pemain bernama “Clyde”, seorang ilmuwan yang meminta pemain mencari benda untuk upgrade neural HUD bernama “Dr. K”, serta “DJ Dan” yang menyebut pemain sebagai “mysterious hero” di radio, mirip dengan stasiun radio yang biasa ditemukan di GTA VI.

Di sela-sela pesan suara tersebut, pemain juga terus dibombardir monolog internal seperti, “Time’s wasting. Better sweep these mines,” dan “It’s time to sweep these mines.” Detail-detail ini memperlihatkan bagaimana Lacher membangun pengalaman bermain yang menyerupai produksi game besar, meski inti permainannya tetap Minesweeper.

Baca Juga:

Dalam satu ronde permainan, Nora hampir sepenuhnya membocorkan jalannya permainan. Ia memberi tanda kuning yang menunjukkan di mana pemain harus menekan agar tidak mati. Namun jika pemain tetap keras kepala dan memilih menginjak ranjau, permainan tidak berakhir. Pemain hanya diberi penanda damage berwarna merah, persis seperti di Call of Duty. Sayangnya, pengalaman ini hanya berlangsung satu ronde. Begitu level selesai, layar akan menampilkan rolling credits.

Sindiran terhadap Arah Desain Game Modern

Belum jelas apakah Lacher menggunakan AI untuk membangun versi Minesweeper ini. Namun versi finalnya disebut sebagai sindiran terhadap bagaimana game modern menuntun tangan pemain untuk melewati beberapa ronde pertama, ditambah semua suara yang mengisi keheningan agar “percakapan” tetap berjalan. Meski dirancang untuk membantu, tidak semua game membutuhkan elemen tersebut, sehingga masuk akal bila pemain diberi opsi untuk membungkam suara-suara itu jika ingin menjelajahi peta dengan tenang.

Meskipun Triple-A Minesweeper bisa membuat kesal jika pemain tidak menyelesaikannya secepat mungkin, ada kejutan di bagian akhir yang mengisyaratkan sekuel. Untuk mengetahui kejutan tersebut, pengunjung harus langsung mengunjungi situsnya.

Fenomena ini turut memperlihatkan bagaimana developer kini bereksperimen dengan beragam pendekatan kreatif. Beberapa di antaranya bahkan memanfaatkan teknologi baru dalam proses pengembangan, sebagaimana terlihat dari proyek Muse Gadgets yang membuka peluang bagi developer untuk merakit hardware AI sendiri. Di sisi lain, platform besar juga terus memperketat ekosistemnya, seperti yang tampak dari langkah optimalkan aplikasi yang diminta Apple menjelang pre-order iPhone Duo pada 16 Oktober.

Karya Lacher menunjukkan bahwa game sederhana pun bisa dikemas ulang dengan pendekatan produksi besar. Namun di balik itu, ia menyoroti persoalan yang lebih mendasar: seberapa jauh elemen naratif dan bantuan berlebih sebaiknya hadir dalam sebuah game. Bagi sebagian pemain, kebebasan menjelajah tanpa interupsi tetap menjadi nilai utama.

Triple-A Minesweeper

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.