Telset.id – Omer Develioğlu, co-founder Northend Games, mengungkap bahwa pendapatan kotor USD560.000 dari penjualan dua game di Steam selama lima tahun hanya menyisakan USD73.000 untuknya. Angka itu setara sekitar USD15.000 per tahun, jauh dari gambaran kekayaan yang sering dilekatkan pada developer game dengan penjualan besar. Ia bahkan masih mengendarai Mazda 2012, bukan mobil mewah yang diasosiasikan dengan kesuksesan industri game.
Pengungkapan ini menjadi sorotan karena menunjukkan bagaimana penjualan yang terlihat besar di platform digital bisa tergerus berbagai potongan sebelum sampai ke kantong pengembang. Dua judul yang dimaksud adalah Northend Tower Defense dan Deepstone Rift (Early Access), keduanya dijual di Steam dengan total 135.000 unit terjual.
Develioğlu memaparkan rincian tersebut melalui sebuah video. Ia menyebut 53,3% penjualan berasal langsung dari China. Namun, ia juga menilai pelanggan di negara itu sangat menuntut dan tingkat pengembalian dana (refund) di sana tidak proporsional. Akibatnya, USD134.000 langsung dialokasikan untuk refund dengan rate 22%, jauh di atas standar yang disebutnya 10-15%. Setelah potongan refund, catatan sementara menunjukkan angka USD426.000.

Potongan Steam hingga Pajak Menggerus Pendapatan
Steam menjadi faktor berikutnya. Platform milik Gabe Newell itu dikenal lewat fitur seperti Workshop, tetapi juga dikritik karena biaya yang dimulai dari 30% dan hanya turun untuk jumlah di atas USD10 juta. Karena penjualan game Develioğlu jauh dari ambang tersebut, tarif 30% berlaku penuh. Steam mengambil USD127.000, menyisakan USD297.000 untuk pengembang.
Berikutnya adalah withholding tax Amerika Serikat. Develioğlu yang tinggal di Irak lalu pindah ke Thailand, negara yang memiliki perjanjian pajak dengan AS untuk mencegah pajak berganda. Meski demikian, potongan tetap 5%, sehingga total turun menjadi USD287.300.
Aspek yang tak kalah kontroversial adalah potongan publisher. Menurut Develioğlu, publisher Asianya menangani PR, distribusi, dan pemasaran di wilayah China, Jepang, dan Korea Selatan. Fakta bahwa mayoritas penjualan game berasal dari China bisa berarti publisher bekerja baik, tetapi potongannya besar: USD115.000, tampaknya dalam skala bertingkat. Angka yang dibawa pulang menjadi USD172.000 sebelum pajak lokal.
Develioğlu tidak menjelaskan secara rinci dasar potongan publisher tersebut, kemungkinan karena terikat NDA. Opsi paling logis adalah biaya USD115.000 merujuk pada penjualan di negara-negara Asia. Mengingat 53,3% penjualan ada di China dan publisher juga menangani Jepang serta Korea, ini berarti potongan sekitar 35-40% dari pendapatan bersih.
Baca Juga:
Sebagai eksperimen, Tom’s Hardware menghitung ulang angka tersebut dengan asumsi tanpa publisher, hanya 15% penjualan di Asia, dan tingkat refund lebih rendah. Hasilnya, jumlah bersih yang diperoleh hampir sama. Artinya, kombinasi berbagai potongan tetap menggerus pendapatan secara signifikan, terlepas dari struktur distribusi yang dipilih.
Thailand kemudian ikut mengambil bagian. Kantor pajak setempat memotong 15% dari Northend Studios, tarif yang tergolong rendah karena produknya digital. Meski begitu, USD26.000 tetap berkurang dari tumpukan kas, yang kini menyusut menjadi USD146.000.

USD15.000 per Tahun dan Realita Hidup di Thailand
Terakhir, Develioğlu membagi jumlah tersebut 50/50 dengan co-founder-nya di Northend Games. Hasil akhir untuk dirinya pribadi adalah USD73.000 untuk lima tahun kerja, atau sekitar USD15.000 per tahun. Sebagai catatan, ia menyebut hidup di Thailand dan jumlah itu masih lebih besar dari upah rata-rata negara tersebut, sehingga ia bisa menjadikan pembuatan game sebagai pekerjaan penuh waktu. Upah rata-rata di Thailand sekitar USD5.280 per tahun.
Namun seperti yang ia katakan, meskipun telah menghasilkan setengah juta dolar dari penjualan, ia tidak membeli Lamborghini dan masih mengendarai Mazda 2012. Pernyataan itu menegaskan bahwa kesuksesan penjualan di platform digital tidak otomatis berbanding lurus dengan kesejahteraan finansial pengembang, terutama bagi studio indie yang harus menanggung refund tinggi, potongan platform, pajak, dan bagi hasil publisher.
Kisah ini juga memberi gambaran tentang lanskap ekonomi Steam secara lebih luas. Platform tersebut baru-baru ini mencatat rekor pendapatan, sebagaimana terlihat dalam laporan Rekor USD1,7 Miliar, yang menunjukkan betapa besarnya uang yang berputar di ekosistem game PC. Di sisi lain, survei perangkat keras juga memperlihatkan pergeseran perilaku pengguna, misalnya tren 32GB RAM yang kini mendominasi gaming PC.
Bagi pengembang indie, kombinasi antara tingginya biaya pengembangan dan besarnya potongan membuat perhitungan bisnis menjadi rumit. Kasus Develioğlu memperlihatkan bahwa bahkan dengan 135.000 unit terjual dan pendapatan kotor USD560.000, hasil bersih yang diterima per orang bisa sangat kecil. Ini menjadi konteks penting di tengah diskusi tentang keberlanjutan karier developer game indie, terutama yang mengandalkan pasar global seperti China.
Develioğlu sendiri tetap menjalankan profesinya sebagai pembuat game penuh waktu. Namun angka-angka yang ia bagikan menjadi pengingat bahwa di balik judul-judul yang tampak sukses di Steam, ada rantai potongan yang panjang dan nyata. Bagi siapa pun yang ingin memahami ekonomi industri game indie, rincian ini memberi perspektif yang jarang terlihat dari luar.





Komentar
Belum ada komentar.