Telset.id – Twitch akhirnya memberikan opsi bagi para streamer untuk keluar dari program pelatihan model AI Amazon yang selama ini berjalan otomatis. Keputusan ini muncul setelah komunitas creator platform streaming tersebut menyuarakan kekhawatiran mereka karena konten yang mereka buat telah digunakan tanpa persetujuan eksplisit untuk melatih teknologi generative AI milik Amazon.
Kebijakan baru ini diumumkan melalui halaman FAQ resmi Twitch. Dalam keterangannya, platform tersebut menjelaskan bahwa streamer yang memilih opsi opt-out akan memastikan “streams, VODs, clips, stream chats, dan pictures and text on your channel will not be used in future training of a model developed by Amazon whose purpose is to generate or synthesize text, audio, images, or video.” Dengan kata lain, seluruh konten kanal mereka tidak akan lagi dipakai untuk pengembangan model AI Amazon di masa depan.
Langkah ini merupakan respons langsung atas keresahan komunitas streamer yang merasa keberatan karena konten mereka dipakai untuk melatih AI tanpa sepengetahuan mereka. Sebelumnya, para pengguna Twitch otomatis tergabung dalam program ini tanpa ada pilihan untuk menolak, dan praktik tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Keputusan yang Mungkin Bukan Sepenuhnya dari Twitch
Menanggapi perkembangan ini, Zach Bussey dari TOS.gg, seorang streamer Twitch yang juga meliput industri streaming melalui newsletter mingguannya, memberikan pandangannya. Menurut Bussey, keputusan ini kemungkinan besar bukan murni berasal dari Twitch, melainkan arahan dari Amazon selaku induk perusahaan.
“Twitch’s decision here isn’t really one I think they are making. Instead, this feels much more like Amazon forcing the issue on them,” ujar Bussey. Ia menambahkan bahwa CPO Twitch, Mikey Minty, secara implisit menyampaikan hal tersebut dalam sebuah siaran satu jam sebelumnya.
Bussey juga menyoroti posisi Twitch yang belum pernah mencapai profitabilitas sejak berdiri. Kondisi ini membuat platform streaming tersebut sangat bergantung pada Amazon untuk tetap beroperasi. “So it feels like they may have been able to negotiate that Opt-out option, but there was never really a choice about whether it would be implemented,” jelasnya.

Lebih lanjut, Bussey mengomentari tren yang lebih luas di industri teknologi, di mana banyak perusahaan memanfaatkan konten buatan pengguna untuk meningkatkan model AI mereka. Ia menilai tren ini tidak menguntungkan baik bagi creator maupun platform itu sendiri.
“The broader trend isn’t great for creators, nor is it good for platforms, largely because AI perpetually, at best, makes slop consumable content,” kata Bussey. Menurutnya, konten yang dihasilkan AI hanya akan menjadi konten rata-rata yang tidak memiliki kualitas istimewa.
Bussey juga menyoroti dampak buruk AI terhadap ekosistem creator. Platform selama ini diuntungkan oleh creator pemula yang kemudian berkembang menjadi creator hebat melalui proses belajar yang panjang. Namun, jika platform dibanjiri konten AI berkualitas pas-pasan, para creator potensial ini tidak akan pernah mencapai level terbaik mereka. “Effectively, we’re diluting all these platforms and leaving them stuck in mediocrity,” tegasnya.
Baca Juga:
Menariknya, Bussey meyakini bahwa praktik pelatihan AI seperti yang dilakukan Twitch ini kemungkinan besar sudah menjadi norma di berbagai platform creator lain, meskipun para penggunanya mungkin belum menyadarinya. “Unfortunately, it likely is the norm across creator platforms, whether we know it or not: maybe first-party or a third party taking the data,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Bussey menekankan pentingnya transparansi dan advokasi regulasi yang lebih baik. Setidaknya, platform seharusnya menawarkan kompensasi kepada para creator atas data mereka ketika memberikan opsi untuk melatih konten mereka. “At the very least, platforms should offer to pay creators for their data when they give creators the option to train on their content,” pungkasnya.
Masa Depan Streaming di Tengah Maraknya AI
Menyoal masa depan profesi streamer di tengah perkembangan AI, Bussey optimistis bahwa AI tidak akan menggantikan para streamer. Ia bahkan menyebut live streaming sebagai benteng terakhir dalam industri konten kreator.
“For streamers, I don’t think that AI is going to replace them if that’s the question. In fact, I’d wager that live streaming will be the last holdout in the content creation space,” kata Bussey. Ia menjelaskan bahwa di dunia di mana orang tidak bisa lagi mempercayai konten video YouTube, TikTok, atau Twitter karena kemungkinan besar dibuat oleh AI, banyak orang akan beralih mencari konten live sebagai pengalaman digital manusia yang paling dapat diandalkan.
Keputusan Twitch untuk menambahkan opsi opt-out ini menjadi langkah penting dalam memberikan kendali kembali kepada para creator atas konten mereka. Meskipun langkah ini terkesan terlambat, setidaknya kini para streamer memiliki pilihan untuk melindungi karya mereka dari pemanfaatan tanpa izin untuk kepentingan pengembangan AI.
Bagi para streamer yang ingin menggunakan opsi ini, mereka dapat mengakses halaman pengaturan resmi Twitch dan menonaktifkan penggunaan konten mereka untuk pelatihan model AI Amazon. Proses ini diharapkan dapat memberikan ketenangan pikiran bagi creator yang selama ini merasa kontennya dieksploitasi tanpa persetujuan.
Perkembangan ini juga menjadi pengingat penting bagi pengguna berbagai platform digital untuk selalu memeriksa kebijakan privasi dan penggunaan data. Sebab, tidak semua platform memberikan transparansi dan opsi kontrol seperti yang kini dilakukan Twitch. Sebagai perbandingan, Fitur Terbaru dari platform lain juga mulai memperhatikan transparansi informasi kepada penggunanya.
Dengan adanya opsi opt-out ini, Twitch berharap dapat meredam kekhawatiran komunitas streamer-nya. Namun, pertanyaan yang lebih besar tetap menggantung: apakah platform lain akan mengikuti jejak Twitch dalam memberikan kendali serupa kepada penggunanya? Atau justru praktik pelatihan AI dari konten pengguna akan terus berlanjut secara diam-diam tanpa sepengetahuan mereka?
Yang jelas, langkah Twitch ini menunjukkan bahwa tekanan dari komunitas dapat mendorong perubahan kebijakan, meskipun keputusan akhirnya mungkin tetap berada di tangan pemilik platform. Bagi para streamer, ini adalah kemenangan kecil dalam upaya mempertahankan kendali atas karya mereka di tengah pesatnya perkembangan teknologi Tool Open Source dan AI.





Komentar
Belum ada komentar.