Telset.id – Lebih dari 150 ahli matematika dari seluruh dunia menandatangani deklarasi yang memperingatkan pemerintah agar tidak mudah percaya pada klaim kemampuan Artificial Intelligence (AI) dalam memecahkan masalah matematika yang kompleks. Deklarasi Leiden ini menjadi kritik terbuka paling keras terhadap narasi revolusi yang digembar-gemborkan oleh industri teknologi.
Deklarasi setebal 11 halaman yang dikenal sebagai “Leiden Declaration on AI and Mathematics” ini muncul di tengah hiruk-pikuk klaim OpenAI yang menyebutkan bahwa AI-nya berhasil memecahkan konjektur “unit distance” berusia 80 tahun karya matematikawan Paul Erdős. Klaim tersebut langsung disambut skeptis oleh komunitas matematika global.
Wakil Presiden International Mathematical Union, Ulrike Tillmann, dalam pernyataan resminya menegaskan bahwa AI “menimbulkan pertanyaan yang tidak bisa dibiarkan begitu saja tanpa dikaji.” Tillmann menekankan bahwa masa depan riset matematika harus tetap dipandu oleh penilaian manusia, praktik yang adil dan transparan, serta nilai-nilai bersama komunitas matematika global.
Deklarasi tersebut secara terang-terangan menyebut adanya “insentif komersial yang kuat dari industri teknologi untuk melebih-lebihkan kemampuan produk mereka.” Para ahli mendesak para pembuat kebijakan untuk berkonsultasi dengan pakar matematika sebelum mengambil keputusan, bukan hanya mengandalkan siaran pers atau laporan media populer.
Isu ini sejalan dengan kontroversi serupa di bidang lain, seperti kloning suara Stan Lee yang menimbulkan perdebatan etika, atau fitur face recognition Meta yang menuai kritik. Semua ini menunjukkan pola berulang di mana teknologi baru diluncurkan tanpa pengawasan yang memadai.
Ancaman Argumen Palsu dan Krisis Pendanaan
Kepala Ilmu Komputer Universitas Oxford, Leslie Ann Goldberg, seorang penandatangan deklarasi, memperingatkan bahwa teknik otomatis saat ini dapat menghasilkan argumen yang terdengar meyakinkan namun tidak dapat diandalkan, bahkan salah. “Ini masalah serius: riset matematika hampir selalu dibangun di atas riset sebelumnya, jadi penting bagi peneliti untuk mengetahui bahwa hasil dalam literatur itu benar,” ujar Goldberg.
Deklarasi itu juga menyoroti posisi genting yang dialami banyak akademisi. Di tengah sulitnya mendapatkan pendanaan baru, minat terhadap AI justru melonjak, sehingga memaksa para akademisi untuk mendukung teknologi tersebut dengan cara apa pun. Dokumen tersebut mencatat bahwa industri menawarkan pekerjaan menggiurkan, imbalan uang, sumber daya komputasi, dan peluang intelektual yang menarik.
“Ini terjadi di era kekurangan dana pendidikan tinggi dan pekerjaan akademis yang tidak stabil,” demikian bunyi pernyataan dalam Leiden Declaration.
Kekhawatiran ini bukan hanya soal matematika. Deklarasi tersebut juga menyerukan pengawasan regulasi karena keterlibatan industri AI dalam program militer dan pengawasan massal, pengembangan teknologi yang mendorong misinformasi dan merusak demokrasi, serta biaya lingkungan yang ditimbulkannya. Fenomena serupa juga terlihat pada robot anjing Boston Dynamics yang memicu kontroversi saat digunakan untuk patroli di Piala Dunia 2026.
Baca Juga:
Komunitas ilmiah yang lebih luas juga dilanda banjir makalah yang menggunakan AI secara berlebihan, sehingga berisiko mengontaminasi proses peer-review dengan halusinasi. Masalah lainnya adalah model AI yang dilatih menggunakan riset mutakhir tanpa seizin penulis aslinya.
Antropolog AI dari Universitas Leiden, Rodrigo Ochigame, yang turut membantu merancang deklarasi tersebut, mengatakan kepada Scientific American bahwa matematikawan yang tidak pernah berniat berkontribusi pada pengembangan AI mendapati karya mereka digunakan untuk tujuan itu tanpa persetujuan. “Saya pikir itu situasi yang sangat memprihatinkan,” ujarnya.
Klaim separuh tahun ini bahwa seorang pemuda 23 tahun tanpa pelatihan matematika formal berhasil menggunakan ChatGPT untuk memecahkan salah satu “masalah Erdős” juga menambah daftar panjang narasi yang dinilai terlalu dilebih-lebihkan. Para ahli matematika menegaskan bahwa solusi semacam itu belum tentu tahan uji setelah ditelaah lebih dalam.
Leiden Declaration menjadi pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk investasi AI global, termasuk strategi AI nasional Kanada yang kontroversial, suara para ahli tetap kritis dan menuntut kehati-hatian. Masa depan riset matematika, menurut mereka, harus tetap berada di tangan manusia, bukan sekadar klaim dari mesin.






Komentar
Belum ada komentar.