📑 Daftar Isi

Jet tempur siluman F-35 yang menjadi target deteksi AI China

AI China Bidik Jejak Panas F-22 dan F-35, Akurasi di Atas 90 Persen

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Peneliti China klaim AI ringan mampu mengenali jejak panas F-22 dan F-35
  • Akurasi pengenalan di atas 90 persen untuk target simulasi di laboratorium
  • Sistem AI membedakan panas pesawat dari emisi suar (flare)
  • Penulis utama studi: An Jiangshan, pendekatan untuk aplikasi rudal
  • Performa terhadap pesawat asli dalam kondisi pertempuran belum terverifikasi
  • Implikasi: upgrade F-22 dan F-35 perlu perhatian pada manajemen panas
  • Bomber siluman masa depan juga berpotensi menghadapi sensor AI inframerah

Telset.id – Para peneliti China mengklaim telah membangun sistem AI ringan yang mampu mengenali jejak panas yang menyerupai jet tempur siluman F-22 dan F-35. Klaim ini menjadi sorotan karena F-22 dan F-35 dirancang untuk mempersulit deteksi musuh, terutama dengan mengurangi visibilitas terhadap radar. Jika teknologi ini terbukti, kemampuan untuk mengenali jejak inframerah dari pesawat siluman bisa menjadi ancaman signifikan bagi platform stealth Amerika Serikat.

Dalam pengujian laboratorium, model pengenalan ini dilaporkan mencapai tingkat akurasi di atas 90 persen untuk target simulasi. Namun, performa operasional terhadap pesawat asli masih belum terverifikasi. Perbedaan ini penting karena pesawat asli menghasilkan pola termal yang berubah-ubah tergantung kecepatan, ketinggian, kondisi manuver, dan lingkungan sekitar. Meski begitu, penelitian ini menunjukkan tantangan yang semakin besar bagi platform stealth Amerika.

Sistem AI ini bekerja dengan menganalisis pola panas yang dihasilkan oleh mesin, knalpot, dan permukaan panas pesawat selama penerbangan. Para peneliti mengklaim AI tersebut dapat membedakan tanda tangan F-22 dan F-35 simulasi dari objek udara lainnya. Pendekatan ini berbeda dengan deteksi berbasis radar yang selama ini menjadi fokus utama teknologi siluman.

Salah satu keunggulan yang diklaim adalah kemampuan sistem untuk membedakan pesawat dari suar (flare). Pilot sering menggunakan suar untuk mengelabui sensor pencari panas konvensional saat bermanuver. Namun, para peneliti menyatakan bahwa panas yang dihasilkan pesawat berbeda dari emisi suar, sehingga AI memiliki dasar lain untuk memisahkan pesawat dari umpan palsu.

Penulis utama studi tersebut, An Jiangshan, menjelaskan bahwa pendekatan ini dirancang untuk menggabungkan pemrosesan cepat dengan kemampuan pengenalan yang memadai untuk aplikasi rudal. “Model pengenalan ringan bisa digunakan secara luas di rudal udara-ke-udara di masa depan karena mereka dapat memberikan pengenalan berkecepatan tinggi sambil mempertahankan kemampuan identifikasi yang kuat,” ujar An Jiangshan.

Para peneliti menguji model pengenalan mereka menggunakan target simulasi yang mewakili karakteristik termal yang terkait dengan pesawat F-22 dan F-35. Sistem ini juga digambarkan sebagai teknologi ringan, yang menunjukkan bahwa kebutuhan komputasinya mungkin cocok untuk perangkat keras rudal dengan ruang dan kapasitas pemrosesan terbatas.

F-35 fighter jet

Keterbatasan Performa di Dunia Nyata

Meskipun hasil laboratorium menjanjikan, penelitian ini tidak membuktikan bahwa sistem tersebut dapat melacak F-22 atau F-35 operasional secara andal dalam kondisi pertempuran. Pertempuran aktual akan melibatkan kondisi atmosfer, sudut pandang yang berubah, manuver pesawat, suhu latar belakang, dan tindakan countermeasure elektronik yang mungkin tidak sepenuhnya dapat direproduksi dalam pengujian laboratorium.

Pesawat siluman dirancang terutama untuk mengurangi visibilitas radar, tetapi emisi inframerah tetap menjadi pertimbangan penting bagi senjata yang dipandu inframerah. Rudal pencari panas sudah menggunakan sensor inframerah, dan sistem machine-learning berpotensi membantu sensor tersebut dalam mengidentifikasi pola termal yang kompleks.

Bahkan tanpa membuktikan sistem ini dapat mengalahkan pesawat operasional, penelitian ini menunjukkan arah perkembangan yang mengkhawatirkan bagi platform stealth Amerika. Amerika Serikat tidak bisa lagi berasumsi bahwa mengurangi visibilitas radar sudah cukup, terutama saat sistem AI semakin mahir mengenali pola inframerah.

Implikasi untuk Masa Depan Pesawat Siluman

Penelitian ini menyoroti bahwa peningkatan F-22 dan F-35 di masa depan mungkin perlu memberikan perhatian lebih besar pada manajemen panas, tanda tangan knalpot, dan karakteristik inframerah lainnya. Kekhawatiran yang sama juga berlaku untuk bomber siluman masa depan, yang bisa menghadapi sensor inframerah berbantuan AI yang semakin mumpuni.

Desain siluman mungkin perlu mempertimbangkan bagaimana sistem machine-learning menafsirkan pola panas, bukan sekadar meminimalkan kekuatan emisi tersebut. Hal ini bisa menjadi semakin penting seiring prosesor AI ringan semakin mudah diintegrasikan ke dalam rudal dan senjata udara lainnya.

Perencana pertahanan Amerika memiliki sedikit alasan untuk menunggu sampai sistem semacam itu menunjukkan kemampuannya dalam pertempuran aktual. Perkembangan teknologi China di bidang ini patut menjadi perhatian serius.

US F-35 fighter jets

Penelitian ini juga menunjukkan bagaimana AI semakin banyak digunakan dalam aplikasi militer. Sebelumnya, serangan AI otonom telah menjadi perhatian di kawasan Asia. Kini, pengenalan pola inframerah menjadi area pengembangan baru yang perlu dicermati.

Meskipun klaim akurasi 90 persen hanya berdasarkan simulasi, arah penelitian ini jelas: sistem AI ringan yang mampu mengenali jejak panas pesawat siluman bisa menjadi komponen penting rudal udara-ke-udara masa depan. Jika teknologi ini matang, keseimbangan antara kemampuan siluman dan kemampuan deteksi akan mengalami pergeseran signifikan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.