Ilustrasi pasar saham bearish terkait kekhawatiran IMF atas dana AI

Dana AI Rp 1,4 Triliun Bikin IMF Khawatir Ekonomi Global 2028

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • IMF memperingatkan ekonomi global makin bergantung pada aliran modal ke dunia AI
  • Dana AI $1,4 triliun berputar dari $300 miliar investasi dan $650 miliar utang
  • Jika gelembung pecah, PDB global bisa turun 0,4% pada 2028
  • Investasi berisiko turun 1,3% dan konsumsi 0,6% dalam skenario koreksi
  • Hyperscaler kini 10% penerbitan obligasi investment-grade, naik dari bawah 1% pada 2024

Telset.id – Dana AI sebesar Rp 1,4 triliun atau setara $1,4 triliun yang berputar di sektor kecerdasan buatan menjadi sorotan Dana Moneter Internasional (IMF). Dalam laporan terbarunya, IMF menilai ekonomi global kini semakin bergantung pada aliran modal ke dunia AI, dan jika gelembung ini pecah, produk domestik bruto (PDB) dunia, investasi, serta konsumsi berpotensi terdampak hingga 2028.

Kekhawatiran itu tertuang dalam Global Financial Stability Report terbaru IMF. Lembaga tersebut melihat ada risiko nyata dari apa yang disebut sebagai ekonomi sirkular AI, yaitu aliran uang yang berputar di antara perusahaan-perusahaan di ekosistem kecerdasan buatan. IMF membedakan antara perusahaan AI “inti” dan pemain lain di sektor ini.

Perusahaan inti itu mencakup nama-nama seperti TSMC, Nvidia, dan AMD, produsen memori seperti SK hynix dan Micron, serta vendor penyimpanan seperti Western Digital. Mereka menikmati keuntungan historis karena sebagian besar produksi mereka sudah dipesan bertahun-tahun ke depan. Dalam hiruk-pikuk ini, mereka adalah pihak yang meraup untung besar dari penjualan perangkat pendukung.

Secara teori, jika pemain non-inti gagal, hanya investor mereka yang menanggung kerugian. Namun menurut laporan IMF, masih ada risiko yang perlu diwaspadai. Hal ini sejalan dengan pembahasan soal Kedaulatan AI yang menekankan pentingnya fondasi sektor AI yang kuat.

IMF mencatat bahwa hedge fund telah meningkatkan posisi berleverage dan pinjaman margin, sehingga eksposur mereka terhadap potensi pecahnya gelembung semakin besar. Selain itu, porsi saham tunggal dalam leveraged ETF naik menjadi 28%, kemungkinan didorong permintaan terhadap saham AI dan teknologi. Menurut perhitungan IMF, penurunan tajam pada saham-saham tersebut bisa memicu aksi jual besar-besaran oleh penerbit ETF dan pemberi pinjaman, yang kemudian menciptakan lingkaran umpan balik.

IMF report - circular debt illustration

Bagian laporan yang membahas investasi sirkular di industri ini makin menegaskan masalahnya. IMF melacak empat belas transaksi publik sejak 2023 dan menemukan bahwa $300 miliar yang diinvestasikan ke perusahaan AI yang “secara finansial lebih lemah” (sebagian besar oleh hyperscaler), ditambah $650 miliar utang, menyumbang $1,4 triliun pendapatan dari layanan dan pesanan chip.

Sebagian besar dana virtual itu juga terkonsentrasi hanya pada segelintir perusahaan, sehingga meningkatkan risiko bahwa jika satu perusahaan terkena masalah, yang lain bisa ikut terdampak. IMF menegaskan bahwa “AI telah menjadi sumber dukungan penting bagi ekonomi global dan pasar keuangan.”

Sisi baiknya, menurut IMF, investasi ini membantu menopang ekonomi global di tengah perang di Iran yang memengaruhi harga energi dan menciptakan ketidakpastian kebijakan. Selain itu, uji stres global terbaru terhadap bank menunjukkan bahwa mereka akan “tetap secara luas tangguh” bahkan dengan kombinasi guncangan harga energi, inflasi lebih tinggi, dan koreksi pasar yang dipicu AI.

Soal koreksi tersebut, IMF meyakini hal itu bisa terjadi akibat “investasi dan profitabilitas AI yang lebih lemah atau kurang tahan lama.” IMF menyatakan bahwa kebutuhan komputasi AI mungkin tidak memerlukan tingkat investasi setinggi itu, dan bisa jadi kurang menguntungkan dibandingkan yang diharapkan.

Dalam skenario hipotetis itu, IMF memperkirakan PDB global bisa turun 0,4%, investasi turun 1,3%, dan konsumsi turun 0,6% pada 2028. Namun, IMF mencatat bahwa utang dan leverage berlebihan yang mengalir di industri ini bisa membuat guncangan terhadap sistem menjadi lebih keras.

a robot hand holding a wad of dollar bills

Hyperscaler kini mewakili 10% penerbitan obligasi investment-grade, naik dari di bawah 1% pada 2024. Karena permintaan komputasi AI tetap tinggi, perusahaan-perusahaan ini juga meraup untung besar. Namun mereka semakin kesulitan likuiditas akibat investasi besar-besaran di perangkat AI, sehingga memerlukan pinjaman substansial agar bisnis tetap berjalan.

Hanya waktu yang akan menjawab apakah investor akan terus memiliki selera terhadap utang yang diterbitkan perusahaan-perusahaan ini untuk melanjutkan hiruk-pikuk tersebut. Dinamika ini juga menjadi perhatian dalam pembahasan soal Modernisasi Legacy yang menunjukkan bagaimana transformasi teknologi dapat memengaruhi kinerja sebuah organisasi.

IMF menempatkan fenomena ini sebagai bagian dari risiko sistemik yang perlu dipantau. Ketergantungan ekonomi global pada aliran modal ke dunia AI membuat setiap gejolak di sektor ini berpotensi merambat ke pasar keuangan yang lebih luas. Laporan ini menjadi pengingat bahwa di balik pertumbuhan pesat teknologi AI, ada struktur keuangan yang perlu dicermati dengan hati-hati.

Bagi pasar, laporan IMF ini menegaskan bahwa pertumbuhan AI tidak bisa dipisahkan dari risiko finansial yang menyertainya. Ketika investasi, utang, dan pendapatan saling terkait dalam lingkaran yang sama, kesehatan satu sektor menjadi penentu bagi sektor lainnya. Inilah yang membuat pemantauan terhadap aliran modal ke dunia AI menjadi semakin penting ke depan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.