📑 Daftar Isi

Ilustrasi transformasi digital aplikasi My Bupa dari teknologi legacy ke platform native modern

Modernisasi Legacy Bantu Bupa Naikkan Rating Aplikasi Jadi 4.7

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Bupa migrasikan aplikasi My Bupa dari Xamarin ke Swift dan Kotlin setelah dukungan Microsoft berakhir 2024
  • Rating aplikasi naik dari 3.7 ke 4.7, tingkat kegagalan turun hampir 24 poin di Android dan 8 poin di iOS
  • Login sukses Android naik dua kali lipat menjadi 77%, 90% pelanggan aktif pindah ke versi baru
  • AI-assisted reverse engineering dan forward engineering mempercepat transformasi sekitar 60%
  • Proyek selesai dalam 7 bulan dari estimasi awal 18 bulan, menghemat 400 jam kerja manual
  • Peluncuran dengan nol cacat keamanan dan nol cacat tingkat tinggi setelah pengujian 1.400 kasus
  • Pembayaran 4 kali lebih cepat, basis kode berkurang 30%, jejak aplikasi turun 18%
  • Modernisasi dipandang sebagai fondasi untuk AI-driven ecosystems dan pengalaman pelanggan yang lebih personal

Telset.id – Transformasi aplikasi My Bupa dari teknologi legacy ke platform native berhasil meningkatkan rating aplikasi dari 3.7 menjadi 4.7. Keberhasilan ini membuktikan bahwa modernisasi sistem lama yang dilakukan Bupa bersama Infosys mampu memberikan dampak signifikan pada pengalaman pelanggan, bukan sekadar pembaruan teknologi.

Bupa, organisasi layanan kesehatan global yang melayani sekitar tujuh juta pelanggan di kawasan Asia-Pasifik, mengambil keputusan proaktif untuk memigrasikan aplikasi My Bupa dari Xamarin ke Swift dan Kotlin. Langkah ini diambil setelah Microsoft mengakhiri dukungan untuk Xamarin pada 2024, yang membuat platform tersebut berada dalam risiko keamanan dan kompatibilitas yang terus meningkat.

Asifa Sherazi, CIO of health insurance di Bupa, menjelaskan bahwa risiko teknologi yang sudah mencapai akhir masa pakainya berkembang secara diam-diam namun berdampak besar. “End-of-life technology adalah risiko yang terakumulasi secara tenang, dan kemudian datang sekaligus,” ujarnya. Bupa melihat tiga ancaman utama dari mempertahankan teknologi legacy: kerentanan keamanan dan kepatuhan, kehilangan kendali atas peta jalan pengembangan, serta menyusutnya ketersediaan tenaga ahli untuk teknologi lama seperti Xamarin.

Hasil Nyata Modernisasi Aplikasi My Bupa

Hasil dari migrasi ini jauh melampaui sekadar perbaikan teknis. Selain peningkatan rating aplikasi dari 3.7 ke 4.7, tingkat kegagalan aplikasi yang dirasakan pengguna turun hampir 24 poin persentase di Android dan delapan poin di iOS. Tingkat keberhasilan login Android per kunjungan berlipat ganda menjadi 77 persen. Tim Bupa juga mencapai 100 persen kesetaraan fitur dalam satu rilis, dengan 90 persen basis pelanggan aktif berpindah ke versi baru dan hampir 1,8 juta unduhan unik.

“Dari perspektif pelanggan, mereka tidak akan pernah menganggap ini sebagai perubahan teknologi, dan mereka juga tidak seharusnya begitu. Yang akan mereka rasakan adalah ketika mereka membutuhkan kami, sering kali di saat yang menegangkan, aplikasi itu hanya bekerja dengan baik,” kata Sherazi.

Sanjeev Tripathi, senior vice president dan region head of BFSI, healthcare, dan public sector untuk Australia, Selandia Baru, dan Asia Tenggara di Infosys, menegaskan bahwa kemunculan AI telah mengubah fundamental ekonomi modernisasi. “Kemunculan AI secara fundamental mengubah ekonomi modernisasi,” katanya. Pendekatan Infosys menggabungkan reverse engineering berbantuan AI dengan forward engineering, yang memungkinkan transformasi selesai sekitar 60 persen lebih cepat dibandingkan era sebelum AI.

Metodologi yang digunakan Infosys terdiri dari dua fase utama. Fase pertama adalah reverse engineering, di mana tim mengekstrak dan memahami aturan, proses, serta logika dalam lingkungan legacy. Fase kedua adalah forward engineering, yang merancang ulang solusi untuk menghadirkan pengalaman pelanggan yang dibayangkan ulang. Pendekatan ini memastikan tidak ada yang hilang dalam proses penerjemahan, sekaligus meningkatkan stabilitas platform dan kemampuan pemeliharaan jangka panjang.

Aspek manusia menjadi bagian krusial dari keberhasilan program ini. Sherazi mengidentifikasi tiga tantangan utama: kelangkaan keahlian di kedua sisi transisi, kapasitas tim yang terbatas karena aplikasi tetap beroperasi selama proses migrasi, serta kebutuhan akan ruang bagi tim untuk beradaptasi. AI-assisted reverse engineering membantu mengatasi tantangan pertama dengan mengekstrak alur, aturan, dan logika bisnis dari kode Xamarin legacy, sekaligus menghasilkan user stories dan kriteria penerimaan yang siap native.

Tim Bupa memetakan hampir 1.500 skenario regresi ke epik native, memastikan perjalanan kritis yang setara dipertahankan oleh desain, bukan oleh ingatan. AI-driven discovery dan dokumentasi juga menghemat sekitar 400 jam kerja analis bisnis manual, sehingga tim tidak harus melakukan dua pekerjaan penuh sekaligus. Target awal 18 bulan berhasil dipangkas menjadi tujuh bulan berkat pendekatan satu tim yang solid.

Dampak Modernisasi dan Prospek Masa Depan

Tripathi menekankan bahwa ROI modernisasi tidak boleh dilihat hanya dari lensa teknologi. Ada dua dimensi yang perlu diperhatikan: ROI teknis dan ROI bisnis. Dari sisi teknis, manfaat terbesar meliputi waktu pemasaran yang lebih cepat, stabilitas dan ketahanan platform, biaya operasional yang lebih rendah, akses ke talenta yang lebih luas, serta manajemen keamanan yang lebih baik. Dari sisi bisnis, peningkatan terlihat pada metrik seperti net promoter score dan rating aplikasi, yang merupakan indikator kuat kepuasan pelanggan dan kualitas pengalaman digital.

Sejak peluncuran, tim Android dan iOS telah merilis banyak pembaruan cepat, termasuk migrasi ke payment gateway baru. Pembayaran kini selesai empat kali lebih cepat, kode mencapai penguji dalam sekitar satu jam, basis kode berkurang 30 persen, dan jejak aplikasi berkurang 18 persen. Pengujian dengan AI-driven triage dan prediktif analisis cacat dijalankan pada hampir 1.400 kasus, menghasilkan peluncuran dengan nol cacat keamanan dan nol cacat tingkat tinggi.

Sherazi juga menyoroti pengujian aksesibilitas berbantuan AI sebagai kemajuan penting. “Dalam layanan kesehatan, orang yang paling membutuhkan kami sering kali adalah orang-orang yang justru terhambat oleh antarmuka yang dirancang buruk,” jelasnya. Ke depan, ia melihat agentic AI sebagai arah berikutnya, di mana AI beralih dari mendukung tugas menjadi menyelesaikan hasil akhir secara menyeluruh dengan tata kelola yang tepat dan pengawasan manusia di titik keputusan kunci.

“Platform modern akan menjadi dasar bagi ekosistem yang digerakkan AI yang jauh lebih cerdas, di mana AI bukan sekadar tambahan, tetapi terintegrasi dalam segala hal dari desain hingga operasi,” kata Tripathi. Sherazi menambahkan bahwa pertanyaan dalam organisasi telah berubah: “Dulu pertanyaannya, bisakah platform kami mendukung itu? Sekarang menjadi: apakah itu hal yang benar untuk dilakukan bagi pelanggan kami?”

Keberhasilan Bupa dalam memodernisasi aplikasi My Bupa menunjukkan bahwa transformasi legacy yang dikelola dengan baik dapat menjadi fondasi untuk inovasi berkelanjutan. Adopsi AI dalam proses modernisasi juga sejalan dengan tren industri yang lebih luas, termasuk dukungan terhadap program inovasi teknologi di berbagai sektor. Pendekatan yang menggabungkan teknologi dan aspek manusia ini membuktikan bahwa modernisasi bukan sekadar mengganti sistem lama, melainkan membangun fleksibilitas untuk menghadapi apa pun yang akan datang.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.