Telset.id – Versi bocor dari fitur DLSS 5 Nvidia yang belum selesai telah menjadi mimpi buruk bagi para gamer. Modder yang mencoba fitur tersebut melaporkan hasil yang mengerikan, mulai dari visual game klasik yang hancur hingga penurunan frame rate yang drastis. Kejadian ini memicu kembali perdebatan sengit tentang teknologi AI Nvidia yang sebelumnya sudah menuai kritik keras karena dianggap “slop tracing”.
Kontroversi ini berawal ketika Nvidia mengumumkan DLSS 5, fitur yang menggunakan AI untuk merombak total visual video game. Demo resmi yang dibagikan Nvidia sebelumnya sudah dianggap aneh dan tidak nyambung dengan estetika asli game, bahkan memunculkan kesan “AI sheen” yang khas. Kritik pedas dari komunitas gamer bahkan memaksa CEO Nvidia, Jensen Huang, untuk turun tangan membela fitur tersebut di tengah kesibukannya mempromosikan booming AI.
Kini, situasi semakin memburuk. Versi belum selesai dari DLSS 5 bocor secara tidak sengaja, dan para modder langsung bereksperimen untuk melihat seberapa buruk dampaknya. Hasilnya jauh melampaui ekspektasi terburuk sekalipun, menunjukkan kegagalan teknologi AI dalam menghormati estetika orisinal game.
Hasil Uji Coba DLSS 5 yang Mengkhawatirkan
Salah satu video viral menunjukkan cutscene dari game klasik tahun 2001, Halo: Combat Evolved. Dengan DLSS 5 bajakan yang diaktifkan, visualnya berubah drastis menjadi seperti meme “deep fried” yang melewati 14 tahap kompresi berbeda. Warna menjadi kusam dan tidak merata, wajah karakter dirender dengan detail hiperrealistis yang mengganggu, dan keseluruhan tampilan terlihat murah dan norak.
Seorang penguji bahkan berkomentar bahwa “bahkan dalam keadaan TERBAIK sekalipun, fitur ini menghilangkan segalanya dan membuatnya terlihat sangat generik.” Komentar ini menyoroti masalah mendasar DLSS 5: alih-alih meningkatkan kualitas visual, teknologi ini justru menghancurkan karakter unik dari setiap game.

Selain merusak visual, DLSS 5 juga dilaporkan menghancurkan performa. The Verge menemukan seorang pengguna yang mencoba menjalankannya di Final Fantasy VII Rebirth (2024) dan mengalami penurunan frame rate hingga setengahnya. Kasus lain menunjukkan pengguna yang menerapkan fitur ini di GTA V melihat frame rate mereka turun drastis dari 90 menjadi hanya 29 frame per detik.
Salah satu contoh paling parah memperlihatkan karakter ikonik Final Fantasy, Cloud Strife—atau setidaknya versi yang seharusnya menjadi Cloud Strife—yang dirender ulang sehingga terlihat seperti cosplayer dengan riasan tebal. Penampilannya berubah drastis, atau dalam istilah internet, “yassified”, menghilangkan identitas visual asli karakter tersebut.
Perlu dicatat bahwa ini bukan rilis resmi DLSS 5, dan banyak contoh yang beredar memang sengaja dipaksa ke ekstrem. Namun, insiden ini tetap menggambarkan betapa agresifnya teknologi AI dapat menginjak-injak estetika asli game dan menggantinya dengan sesuatu yang murah serta mencolok.
Baca Juga:
Jarak Jauh antara Janji dan Realita
Kontras antara hasil bocoran ini dengan cara Nvidia memasarkan DLSS 5 sangat mencolok. Saat diumumkan pada Maret lalu, Jensen Huang memuji DLSS 5 sebagai “GPT moment for graphics” dalam industri game. Pernyataan ini menunjukkan ambisi besar Nvidia untuk menjadikan teknologi AI sebagai fondasi masa depan grafis game.
Namun, nada bicara Huang berubah drastis ketika kritik tidak kunjung mereda. Ia kemudian mengaku juga membenci “AI slop” sambil tetap bersikeras bahwa DLSS 5 melakukan sesuatu yang berbeda dari teknologi AI generatif lainnya. Pernyataan yang saling bertentangan ini menunjukkan betapa defensifnya Nvidia menghadapi gelombang kritik dari komunitas yang justru menjadi basis pengguna mereka.
Insiden kebocoran ini juga menyoroti masalah yang lebih besar: seberapa cepat Nvidia meluncurkan teknologi AI ke pasar tanpa pengujian yang memadai. Versi bocor yang belum selesai ini mungkin tidak mewakili kualitas final DLSS 5, tetapi fakta bahwa fitur tersebut bisa menghasilkan visual seburuk itu bahkan dalam tahap pengembangan menunjukkan adanya masalah fundamental dalam pendekatan Nvidia.
Bagi para gamer yang sudah lama menantikan upgrade visual untuk game-game klasik favorit mereka, hasil ini tentu menjadi kekecewaan besar. Alih-alih menghadirkan pengalaman nostalgia yang lebih baik, DLSS 5 justru menghancurkan esensi dari game-game tersebut. Hal ini juga menjadi pengingat bahwa teknologi canggih tidak selalu berarti lebih baik, terutama ketika menyangkut karya seni yang sudah memiliki identitas visual kuat.
Nvidia kini berada di posisi sulit. Mereka harus memutuskan apakah akan melanjutkan pengembangan DLSS 5 sesuai rencana, atau menunda peluncurannya untuk memperbaiki masalah fundamental yang terungkap dari bocoran ini. Terlepas dari keputusan yang diambil, satu hal yang jelas: kepercayaan komunitas gamer terhadap visi AI Nvidia telah mengalami pukulan telak. Kejadian ini juga menjadi pelajaran berharga bagi industri game tentang pentingnya menghormati estetika orisinal dalam penerapan teknologi baru, sebuah pelajaran yang mungkin akan memengaruhi bagaimana sistem AI Nvidia lainnya dikembangkan ke depannya.





Komentar
Belum ada komentar.