📑 Daftar Isi

Fenix Flexin membawakan lagu RUBBERZ yang dituduh dibuat menggunakan AI

Fenix Flexin Bantah Lagu “Rubberz” Buatan AI, Netizen Tak Percaya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️6 menit membaca
Bagikan:
  • Fenix Flexin membantah lagu "Rubberz" dibuat dengan AI setelah banyak tuduhan
  • Lagu tersebut berhasil masuk Billboard Hot 100 di posisi 58 pada Juni
  • Produser Medasin membeberkan analisis teknis yang menunjukkan tanda-tanda AI
  • File lagu mengandung nama "Sonauto", software AI music generation yang berganti nama jadi Treblo
  • The Verge menemukan artefak dan anomali khas musik AI dalam file lagu
  • Timbaland membela Fenix, namun justru memperkuat kecurigaan karena dikenal sebagai pendukung AI
  • Fenix sempat membagikan video bukti Pro Tools namun kemudian menghapusnya
  • Kasus ini menjadi sorotan penting tentang penggunaan AI di industri musik

Telset.id – Rapper asal Los Angeles, Fenix Flexin, membantah bahwa single terbarunya yang berjudul “Rubberz” dibuat menggunakan kecerdasan buatan atau AI, setelah muncul berbagai tuduhan dari pendengar dan sesama musisi. Lagu yang berhasil menembus posisi 58 di Billboard Hot 100 setelah dirilis pada Juni tersebut justru memicu perdebatan sengit di industri musik karena banyak kejanggalan yang terdeteksi.

Sejumlah pendengar langsung mencurigai keaslian lagu tersebut. Banyak yang menunjuk pada kualitas vokal yang tidak mirip dengan suara asli Fenix Flexin, termasuk kemampuannya mencapai nada-nada tinggi yang belum pernah ia perlihatkan sepanjang kariernya. Selain itu, penampilan “live” sang rapper justru semakin memperkuat kecurigaan publik karena ia terlihat kesulitan melakukan lip-sync dengan lirik yang nyaris tidak ia hafal.

Kejanggalan lain yang mencuri perhatian adalah penggunaan aksen British dalam lagu baru tersebut. Fenix Flexin yang dikenal sebagai rapper khas LA tiba-tiba menyanyikan lagu dengan genre synth-pop 80-an, sebuah genre yang tidak pernah ia sentuh sebelumnya. Kombinasi elemen-elemen aneh ini membuat banyak pengamat musik yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan proses kreatif di balik “Rubberz”.

Kecurigaan semakin memuncak ketika produser musik kenamaan Timothy “Timbaland” Mosley membela Fenix Flexin. Timbaland dikenal sebagai salah satu tokoh industri yang paling vokal mendukung penggunaan AI dalam musik, sehingga pembelaannya justru dianggap sebagai sinyal bahwa lagu tersebut memang dibuat dengan bantuan teknologi AI.

Analisis Teknis Ungkap Kejanggalan

Produser Medasin menjadi salah satu tokoh paling vokal dalam mengungkap dugaan penggunaan AI pada lagu “Rubberz”. Dalam sebuah unggahan analisis detail pekan lalu, Medasin memaparkan sejumlah bukti teknis yang menurutnya menunjukkan bahwa lagu tersebut dihasilkan oleh AI. Salah satu temuan paling memalukan adalah fakta bahwa Fenix Flexin sempat mengunggah cuplikan lagu yang belum selesai dengan nama file “Sonauto” di dalamnya.

Sonauto merupakan nama perangkat lunak pembangkit musik berbasis AI yang kebetulan berganti nama menjadi Treblo hanya dua hari sebelum lagu “Rubberz” dirilis. Temuan ini menjadi petunjuk kuat bahwa proses pembuatan lagu tersebut melibatkan tools AI, meskipun Fenix Flexin membantahnya.

The Verge dalam analisisnya sendiri menemukan sejumlah keanehan pada file lagu tersebut. “File lagu mengandung sejumlah artefak dan anomali yang umum ditemukan pada musik yang dihasilkan AI. Hi-hat memiliki kualitas yang rapuh, vokal chorus terdengar seperti MP3 bitrate rendah, dan reverb tails terpotong secara tidak beraturan,” demikian paparan The Verge.

Songwriter sekaligus podcaster musik Charlie Harding juga ikut angkat bicara dan menyoroti berbagai kejanggalan teknis yang ia temukan. “Vokal latar yang seperti hantu muncul dan menghilang secara tidak terduga. Reverb drum penuh dengan artifak digital yang tidak alami, mengingatkan pada MP3 64kbps yang diunduh dari Napster,” ujar Harding. Ia juga menjelaskan bahwa sebagian besar perusahaan AI generatif melatih model mereka menggunakan MP3 berkualitas rendah dari materi berhak cipta yang tidak dilisensikan, sehingga menghasilkan instrumentasi yang terdengar terdegradasi.

A screenshot of the song RUBBERZ being performed by Fenix Flexin.

Setelah Medasin mempublikasikan analisisnya, Fenix Flexin merespons dengan membagikan video yang memperlihatkan dirinya membuka proyek Pro Tools yang diduga membuktikan bahwa ia menggarap lagu tersebut secara manual. Namun, banyak pihak termasuk Medasin sendiri tidak yakin dengan bukti tersebut. Mereka berargumen bahwa Fenix bisa saja memasukkan lagu AI ke dalam stem splitter dan menyebarkannya ke dalam file proyek untuk membuatnya terlihat seperti rekaman asli.

Yang menarik, video klarifikasi tersebut kemudian dihapus oleh Fenix Flexin tanpa penjelasan apa pun. Tindakan ini semakin memperkuat kecurigaan publik bahwa sang rapper sebenarnya tidak memiliki bukti kuat untuk membantah tuduhan penggunaan AI dalam proses kreatifnya.

Dampak AI pada Industri Musik

Kasus Fenix Flexin ini menjadi sorotan penting di tengah maraknya penggunaan AI dalam industri kreatif. Perdebatan tentang keaslian karya dan etika penggunaan teknologi AI dalam bermusik semakin memanas. Banyak pelaku industri yang khawatir bahwa penggunaan AI secara masif akan mengancam orisinalitas dan nilai seni dalam musik.

Menariknya, kasus ini juga menyoroti fenomena yang lebih luas tentang bagaimana teknologi AI digunakan dalam produksi musik. Charlie Harding menjelaskan bahwa rendahnya kualitas audio pada lagu yang diduga dibuat AI merupakan konsekuensi langsung dari metode pelatihan model AI yang menggunakan data tidak berlisensi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi AI musik semakin canggih, masih ada masalah mendasar yang belum terselesaikan.

Fenomena penggunaan AI dalam musik juga berdampak pada cara musisi membangun citra dan karier mereka. Fenix Flexin yang sebelumnya dikenal sebagai rapper dengan gaya khas LA kini harus menghadapi pertanyaan serius tentang autentisitas karya-karyanya. Jika tuduhan ini terbukti benar, reputasinya sebagai musisi bisa tercoreng permanen di mata penggemar dan rekan sejawat.

Di sisi lain, kasus ini juga menunjukkan bagaimana publik dan industri musik semakin cerdas dalam mendeteksi tanda-tanda penggunaan AI dalam sebuah karya. Kemampuan untuk mengenali artefak digital, anomali audio, dan kejanggalan teknis lainnya menjadi semakin penting di era di mana batas antara karya manusia dan mesin semakin kabur.

Namun, perlu dicatat bahwa hingga saat ini belum ada bukti konklusif yang bisa membuktikan secara pasti bahwa “Rubberz” dibuat dengan AI. Fenix Flexin terus membantah tuduhan tersebut, meskipun berbagai bukti tidak langsung menunjukkan sebaliknya. Situasi ini menciptakan dilema menarik: jika lagu tersebut memang dibuat AI dan Fenix mengakuinya, reputasinya sebagai artis bisa hancur. Sebaliknya, jika ia terus berbohong dan terbukti, konsekuensinya bisa lebih buruk.

Kasus ini juga membuka diskusi lebih luas tentang masa depan industri musik di tengah perkembangan teknologi AI yang pesat. Beberapa pihak melihat AI sebagai alat yang bisa membantu kreativitas, sementara yang lain menganggapnya sebagai ancaman eksistensial bagi profesi musisi. Yang jelas, kasus Fenix Flexin menunjukkan bahwa industri musik sedang berada di titik balik penting dalam sejarahnya.

Terlepas dari benar atau tidaknya tuduhan terhadap Fenix Flexin, kasus ini menjadi pengingat bahwa teknologi AI telah mengubah lanskap industri musik secara fundamental. Musisi kini harus lebih berhati-hati dalam proses kreatif mereka, sementara pendengar dituntut untuk lebih kritis dalam mengapresiasi karya yang mereka konsumsi.

Perkembangan ini juga menarik untuk dicermati oleh para pengamat industri. Kasus serupa sebelumnya pernah terjadi di berbagai bidang, namun kasus Fenix Flexin menjadi salah satu yang paling menonjol karena melibatkan artis yang cukup populer dengan lagu yang berhasil masuk tangga lagu Billboard. Hal ini menunjukkan bahwa isu AI dalam musik bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang harus dihadapi industri.

Bagi para musisi dan kreator konten, kasus ini menjadi pelajaran penting tentang transparansi dalam proses kreatif. Penggunaan AI dalam pembuatan karya bukan lagi hal yang bisa disembunyikan, mengingat semakin banyak pihak yang mampu mendeteksi tanda-tanda keterlibatan teknologi tersebut. Kejujuran tentang penggunaan AI, jika memang digunakan, mungkin menjadi langkah yang lebih bijak daripada mencoba menyembunyikannya.

Kasus ini juga menyoroti pentingnya pemahaman teknis di kalangan musisi dan penggemar musik. Kemampuan untuk mengenali kualitas audio, memahami proses produksi musik, dan mendeteksi anomali teknis menjadi semakin relevan di era digital ini. Hal ini menunjukkan bahwa literasi teknologi musik bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan kebutuhan.

Sementara perdebatan tentang “Rubberz” terus berlanjut, satu hal yang pasti: kasus ini akan menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana industri musik menghadapi tantangan era AI. Apapun hasil akhirnya, kasus Fenix Flexin telah membuka mata banyak pihak tentang kompleksitas isu AI dalam industri kreatif.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.