Telset.id – Industri hiburan Hollywood kini berada di persimpangan jalan besar. Teknologi kecerdasan buatan (AI) tidak lagi menjadi wacana masa depan, melainkan kekuatan nyata yang mengubah cara film dan acara televisi dibuat. Dari penggunaan ChatGPT di ruang penulis hingga akuisisi startup AI milik Ben Affleck oleh Netflix senilai US$587 juta, industri ini tengah bergulat dengan pertanyaan mendasar: apakah AI menjadi mitra kreatif atau justru ancaman eksistensial?
Dalam wawancara eksklusif dengan WIRED, Matt Belloni, founding partner Puck yang telah meliput Hollywood selama puluhan tahun, mengungkap realita pahit sekaligus peluang besar di balik adopsi AI. Belloni, yang juga mantan pengacara hiburan, memberikan perspektif mendalam tentang bagaimana teknologi ini merasuk ke setiap lini produksi konten.
Dua Wajah AI di Hollywood
Menurut Belloni, ada dua jenis AI yang digunakan di Hollywood. Pertama, generative AI yang berfokus pada pembuatan konten, dan kedua, corporate AI yang digunakan untuk menyederhanakan proses dan meningkatkan hasil pencarian. Penggunaan corporate AI sudah merata di seluruh industri.
Yang menarik, Belloni mengungkapkan bahwa seorang showrunner terkenal pernah menegur tim penulisnya karena tidak menggunakan ChatGPT untuk membantu proses kreatif. Penggunaan AI di ruang penulis ternyata tidak dilarang oleh Writers Guild, selama ada penulis kredit pada setiap naskah dan proses ini tidak berdampak pada lapangan kerja.
Di sisi lain, generative AI untuk pembuatan konten masih menjadi area abu-abu. Banyak studio yang mencoba membuat film pendek atau pilot TV dengan AI, namun hasilnya dinilai belum memuaskan. Belloni menilai animasi menjadi area yang paling menjanjikan untuk disrupsi AI, di mana visual dan storyboard dapat diselesaikan tanpa bantuan seniman manusia.
Netflix bahkan mengumumkan dalam earnings call bulan lalu bahwa 300 acara mereka menggunakan AI generatif. Angka ini menunjukkan adopsi teknologi yang masif di salah satu platform streaming terbesar dunia.
Kontroversi dan Stigma Publik
Meskipun penggunaan AI semakin meluas, stigma terhadap teknologi ini masih kuat. Belloni mencontohkan kasus Amazon yang mengumumkan studio AI generatif mereka yang dipimpin Albert Chang. Salah satu kreator yang terlibat langsung mundur setelah mendapat serangan balik online yang masif.
Netflix berhasil menghindari stigma ini melalui akuisisi perusahaan AI milik Ben Affleck. Belloni menyebut langkah ini sebagai “siaran pers senilai US$600 juta” karena Netflix ingin masuk ke AI tetapi membutuhkan sosok kredibel seperti Affleck untuk membungkam kritik. Produk AI Affleck membantu pembuat film memperluas pinggiran adegan atau mendapatkan circle shot tanpa perlu reshoot yang mahal.
Darren Aronofsky disebut sebagai salah satu filmmaker yang melakukan pendekatan “cara yang benar” terhadap AI. Sementara itu, kesepakatan lain seperti investasi US$75 juta dari Google DeepMind ke A24 dan keterlibatan Lionsgate di Runway menunjukkan tren investasi besar teknologi di Hollywood.
Keputusan A24 menerima investasi Google DeepMind memicu kemarahan penggemar. Belloni menjelaskan bahwa studio memiliki tanggung jawab fidusia kepada pemegang saham untuk menekan biaya produksi. Dengan biaya film yang terus meningkat, sementara pendapatan box office tidak selalu menutupi, AI menjadi solusi yang menarik bagi para eksekutif.
Pixar menjadi contoh nyata, di mana film orisinal mereka sulit diproduksi di bawah US$200 juta karena proses yang sangat padat karya. Belloni menegaskan bahwa serikat pekerja tidak bersedia menurunkan biaya tenaga kerja, sehingga tekanan untuk efisiensi jatuh pada tenaga kerja non-union dan teknologi.
Masa Depan Film Autentik
Belloni memperkirakan akan terjadi perpecahan di industri film antara produksi yang menggunakan aktor dan skenario nyata dengan produksi yang sepenuhnya berbasis AI. Christopher Nolan menjadi contoh “one of one” yang mampu membuat film seperti The Odyssey dengan biaya hampir US$300 juta dan tetap menghasilkan keuntungan besar.
Kunci kesuksesan Nolan adalah elemen “authored” yang bisa dirasakan penonton. Dalam dunia yang dipenuhi konten AI, sesuatu yang terasa dibuat oleh manusia dengan visi jelas menjadi pembeda. Belloni menegaskan bahwa penonton bisa membedakan mana yang otentik dan mana yang sekadar diproduksi massal.
Terkait serikat pekerja, Belloni menjelaskan posisi SAG-AFTRA dan Writers Guild. Kedua serikat ini tidak menentang AI secara absolut, tetapi menolak penggunaan AI yang menyebabkan hilangnya lapangan kerja anggota mereka. Penggunaan synthetic performer tetap membayar biaya yang setara dengan aktor manusia, sementara AI tidak bisa menjadi penulis naskah untuk film yang tercakup guild.
Namun, pekerja di bawah garis (below-the-line) yang tidak tercakup serikat menjadi kelompok paling rentan. Banyak pekerjaan di film animasi yang tidak terlindungi serikat, dan Belloni mengakui bahwa pengurangan pekerjaan sudah terjadi.
Pertarungan Hukum dan Hak Cipta
Belloni, yang berlatar belakang hukum, memberikan analisis tajam tentang sengketa hak cipta yang sedang berlangsung. Disney dan Universal menggugat Midjourney atas pelanggaran kekayaan intelektual, dengan Warner Bros yang kemudian bergabung. Gugatan ini kini memasuki fase discovery di mana pengacara Midjourney menuntut pengungkapan penggunaan AI oleh perusahaan-perusahaan tersebut.
Status hukum saat ini masih belum jelas. Belum ada keputusan definitif bahwa penggunaan materi berhak cipta dalam model AI merupakan pelanggaran. Argumen yang lebih kuat adalah jika output model terlalu mirip dengan karakter seperti Mickey Mouse, maka itu yang dianggap pelanggaran, bukan proses ingestion itu sendiri.
Industri hiburan ingin mengubah interpretasi ini dan memaksa pengadilan memutuskan bahwa tindakan ingestion saja sudah merupakan pelanggaran. Namun, Belloni meragukan argumen ini akan menang mengingat arah perkembangan hukum saat ini.
Settlement besar senilai US$1,5 miliar dalam kasus buku melawan Anthropic menjadi preseden penting. Belloni menyebutnya sebagai settlement terbesar dalam sejarah hukum hak cipta, yang menunjukkan bahwa perusahaan AI lebih memilih membayar daripada menghadapi risiko preseden buruk.
Regulasi Suara dan Kemiripan
Cate Blanchett ikut mendirikan RSL Media yang meluncurkan Human Consent Registry, sebuah alat yang memungkinkan orang mengontrol bagaimana AI menggunakan kemiripan mereka. CAA, agensi besar yang mewakili Blanchett, mendukung inisiatif ini. Sementara itu, SAG-AFTRA berusaha mendapatkan hak publisitas federal karena saat ini perlindungan nama, gambar, dan kemiripan masih bergantung pada hukum negara bagian yang tidak konsisten.
Agensi seperti CAA dan WME telah mengadakan pertemuan dengan perusahaan AI untuk membuat kesepakatan tentang kemiripan klien mereka. Mereka menginginkan mekanisme opt-out kolektif, sementara perusahaan teknologi lebih suka pendekatan “minta maaf daripada minta izin”.
Kasus Amazon dan Sam Altman
Salah satu kisah paling menarik yang diungkap Belloni adalah film Artificial yang dibintangi Sam Altman. Amazon MGM Studios menghabiskan US$40 juta untuk memproduksi film ini, namun tiba-tiba membatalkan rilisnya setelah mengumumkan kesepakatan US$50 miliar dengan OpenAI, perusahaan yang dipimpin Altman.
Amazon akhirnya memberikan film tersebut kepada Neon, distributor independen yang merilis Anora, tanpa biaya di muka. Neon hanya perlu berkomitmen mengeluarkan US$15 juta untuk rilis teatrikal. Langkah ini dipandang Belloni sebagai bentuk sensor korporat dan pengecutan Amazon untuk menghindari konflik dengan Altman.
Kasus serupa terjadi pada miniseries The Kennedys 15 tahun lalu yang dibuang A&E ke Reelz channel, serta film The Apprentice tentang Donald Trump yang dihindari studio tradisional. Belloni menegaskan bahwa membuang film setelah diproduksi adalah langkah yang sangat langka.
Membaca Buzz di Era AI
Belloni memberikan nasihat praktis untuk membedakan ulasan otentik dari kampanye pemasaran yang direkayasa. Ia mengaku tidak mempercayai buzz di media sosial sama sekali, karena banyak viral marketer yang mengaku memproduksi ratusan ribu tweet positif dan negatif setiap minggu.
Ia merekomendasikan Metacritic sebagai sumber ulasan yang lebih dapat dipercaya dibandingkan Rotten Tomatoes. Menurutnya, Rotten Tomatoes menggunakan pendekatan yang terlalu demokratis di mana “awards journalists” yang punya kepentingan untuk mendapatkan wawancara bintang bisa mempengaruhi skor. Metacritic menggunakan skala 1-100 yang lebih menangkap nuansa ulasan.
Belloni juga mengingatkan bahwa “first reactions” dari premiere biasanya datang dari influencer yang diundang dengan harapan mereka akan memuji film tersebut. Fenomena ini menciptakan narasi positif palsu yang kemudian diagregasi media sebagai indikator kualitas film.
Industri hiburan kini menghadapi tantangan ganda: memanfaatkan efisiensi AI sambil mempertahankan elemen manusia yang membuat konten terasa otentik. Pertarungan antara kepentingan bisnis, perlindungan hak cipta, dan kreativitas akan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan. Yang jelas, AI telah mengubah lanskap Hollywood secara permanen, dan tidak ada jalan mundur.





Komentar
Belum ada komentar.