Telset.id – Kecemasan pekerja terhadap otomatisasi AI mencapai titik baru. Laporan Gallup 2026 bertajuk “More U.S. Workers Fear Losing Their Jobs to Technology” mencatat 27% pekerja yang disurvei merasa takut teknologi membuat pekerjaan mereka usang, naik tajam dari 13% saat Gallup pertama kali menanyakan hal ini pada 2017. Teknologi futuris Armando Pantoja menilai kekhawatiran terbesar dari otomatisasi AI bukanlah pengangguran, melainkan “structural unimportance” atau ketidakpentingan struktural.
Pantoja, yang dikenal dengan julukan “The Tall Guy Tycoon”, menyampaikan pandangan tersebut menjelang peluncuran bukunya, The Future of Wealth: The Next 50 Years of Money, Power, and Intelligence. Menurutnya, pekerjaan memberi manusia jauh lebih dari sekadar gaji, yakni struktur, status, komunitas, identitas, dan bukti bahwa kontribusi mereka berarti. Kehilangan pekerjaan memang menyakitkan, tetapi pekerjaan lain sering kali dapat menggantikannya.
Krisis yang lebih dalam muncul ketika jutaan orang tidak lagi memahami di mana posisi mereka atau apa yang mereka kontribusikan. Jika teknologi menghapus peran mapan lebih cepat daripada kemampuan masyarakat menciptakan sumber martabat, tujuan, dan partisipasi baru, maka kebencian dan ketidakstabilan akan mengikuti secara massal. Pantoja menegaskan hal ini bukan berarti manusia menjadi tidak penting, melainkan pasar tenaga kerja tidak lagi otomatis memberi semua orang makna dan tempat di masyarakat.
Mengapa Kecemasan Pekerja Muda Meningkat
Pantoja menjelaskan kecemasan ini mempercepat karena AI bukan lagi teknologi abstrak yang beroperasi di masa depan. Orang kini dapat melihat AI mengerjakan sebagian pekerjaan mereka secara real time. Otomatisasi sebelumnya umumnya dikaitkan dengan pabrik, gudang, dan tenaga kerja fisik yang repetitif. Gelombang kali ini langsung menyentuh pekerjaan kognitif: penulisan, pengkodean, analisis, desain, layanan pelanggan, keuangan, hukum, dan riset.
Orang-orang yang percaya bahwa pendidikan dan kredensial profesional akan melindungi mereka kini menyadari bahwa kecerdasan itu sendiri menjadi dapat diskalakan. Pekerja muda merasakannya karena banyak tugas tingkat awal yang secara tradisional membantu seseorang mengembangkan keahlian justru merupakan tugas yang paling pertama dapat dilakukan AI. Jika AI menulis draf pertama, melakukan riset pendahuluan, menganalisis spreadsheet, dan menghasilkan kode dasar, apa yang terjadi pada pekerja junior yang seharusnya belajar melalui tugas-tugas tersebut?
Mereka tidak sekadar khawatir kehilangan pekerjaan saat ini. Mereka khawatir tangga karier mungkin menghilang sebelum mereka sempat menaikinya. Data Gallup menunjukkan kekhawatiran ini juga merata di kalangan pekerja di bawah usia 45 tahun, di mana perpindahan teknologi kini menjadi kekhawatiran utama terkait pekerjaan. Tingkat kekhawatiran di kalangan lulusan perguruan tinggi juga mengalami kenaikan sejak 2021.

Baca Juga:
Cara Membuat Diri Lebih Bernilai di Era AI
Pantoja menyarankan pekerja untuk tidak bersaing dengan AI pada hal-hal yang memang dirancang lebih baik oleh AI. Seseorang tidak akan menang dalam kompetisi berbasis kecepatan, memori, repetisi, atau pemrosesan informasi dalam jumlah besar. Sebaliknya, pekerja perlu bergerak naik ke rantai nilai yang lebih tinggi.
Mereka perlu belajar mengarahkan sistem cerdas, mengevaluasi output-nya, menghubungkan output tersebut dengan tujuan dunia nyata, dan mengambil keputusan ketika jawaban tidak lengkap atau tidak pasti. Keterampilan yang perlu dikembangkan mencakup pemikiran sistem, penilaian, kreativitas, komunikasi, kepemimpinan, keahlian domain, dan kemampuan memperoleh kepercayaan manusia.
Pekerja yang bernilai bukanlah orang yang dapat menyelesaikan satu tugas lebih baik dari mesin. Pekerja yang bernilai adalah orang yang memahami bagaimana berbagai tugas, teknologi, orang, dan tujuan bisnis saling terhubung. Tujuannya adalah menjadi orang yang merancang proses, mengarahkan sistem, memverifikasi hasil, dan tetap bertanggung jawab atas hasil akhirnya.
Untuk identitas profesional, Pantoja menyarankan agar pekerja berhenti membangun identitas berdasarkan jabatan dan mulai membangunnya berdasarkan nilai yang diciptakan. Jabatan menggambarkan posisi seseorang di dalam satu sistem organisasi, tetapi tidak sepenuhnya menggambarkan kecerdasan, pengalaman, hubungan, penilaian, atau kemampuan memecahkan masalah. Kemampuan-kemampuan itu dapat bertahan meski jabatan hilang.
Pantoja mengajukan empat pertanyaan reflektif: apa yang orang-orang di sekitar percaya bahwa Anda memahaminya, masalah apa yang dapat Anda selesaikan, keputusan apa yang dapat Anda perbaiki, serta hal apa yang dapat Anda bangun, jelaskan, organisasikan, atau pimpin. Identitas harus menjadi portabel, mampu berpindah lintas perusahaan, teknologi, dan industri. Dalam ekonomi yang mempercepat perubahan, kemampuan beradaptasi bukanlah pengabaian identitas, melainkan perluasannya.

Pantoja juga menyoroti kesenjangan antara kecepatan teknologi dan kesiapan institusi. Sebagian besar institusi dirancang untuk dunia linear, di mana pengetahuan berubah lambat, kredensial tetap bernilai selama puluhan tahun, dan orang dapat melatih diri sekali untuk karier yang relatif stabil. Dunia itu sedang berakhir. Sekolah masih menekankan hafalan di era kelimpahan informasi. Sebagian melarang AI alih-alih mengajarkan cara menggunakannya. Program tenaga kerja melatih orang untuk pekerjaan yang ada hari ini, bukan mempersiapkan mereka untuk pekerjaan yang akan ada esok.
Model yang lebih baik menurut Pantoja adalah memperlakukan literasi AI sebagai hal mendasar, bukan tren sesaat. Orang perlu belajar bekerja dengan AI, memverifikasi output, mengidentifikasi bias dan misinformasi, melindungi informasi sensitif, dan memahami bagaimana teknologi memengaruhi sistem yang lebih besar. Di sekolah, universitas, dan pelatihan kerja, dibutuhkan siklus pembelajaran yang lebih pendek, kredensial modular, magang, dan pengalaman langsung memecahkan masalah nyata dengan bantuan AI.
Rencana 30 Hari untuk Pekerja
Bagi pekerja yang khawatir AI menggantikan pekerjaan mereka dalam lima tahun ke depan, Pantoja menyusun rencana 30 hari. Pertama, jangan menghabiskan 30 hari berikutnya untuk mengonsumsi konten tentang AI tanpa henti. Gunakan AI. Pada minggu pertama, pecah pekerjaan menjadi tugas-tugas individual. Identifikasi tugas mana yang dapat diotomatisasi AI, mana yang dapat ditingkatkan, dan mana yang masih bergantung pada penilaian manusia, hubungan, akuntabilitas, atau keahlian domain.
Pada minggu kedua, pilih satu sistem AI yang relevan langsung dengan pekerjaan dan gunakan setiap hari. Tidak perlu mempelajari semua alat. Cukup kuasai satu alat yang dapat memperbaiki alur kerja nyata. Pada minggu ketiga, bangun sesuatu yang terukur. Buat proses yang menghemat waktu, meningkatkan akurasi, menambah pendapatan, melayani pelanggan lebih baik, atau membantu tim mengambil keputusan lebih cepat. Dokumentasikan hasil sebelum dan sesudahnya.
Pada minggu terakhir, ubah hasil itu menjadi pengaruh. Tunjukkan kepada atasan atau rekan kerja apa yang dibangun, tambahkan ke portofolio, dan ajarkan kepada orang lain cara menggunakannya. Pada saat yang sama, mulailah memperkuat bagian dari nilai yang paling sulit diotomatisasi: penilaian, kepercayaan, komunikasi, kepemimpinan, kreativitas, dan hubungan. Pantoja menegaskan pekerja tidak perlu menunggu perusahaan menyusun strategi AI untuk karier mereka. Bangun strategi sendiri.

Dalam sepuluh tahun ke depan, Pantoja memprediksi pemisah bukan sekadar antara orang yang memahami teknologi dan yang tidak. Pemisahnya adalah antara mereka yang belajar menggabungkan kecerdasan manusia dan mesin dengan mereka yang terus mempertahankan alur kerja yang sudah usang. Orang yang berhasil di era baru ini memiliki kecepatan belajar tinggi, mampu menggunakan AI sebagai pengungkit, sekaligus menyumbangkan penilaian, kreativitas, kepemimpinan, hubungan, dan akuntabilitas.
Mereka juga memahami sistem, bukan sekadar tugas terisolasi, dan nyaman membangun ulang keterampilan serta identitas berulang kali seiring perubahan teknologi. Sebaliknya, mereka yang tertinggal sering kali adalah orang yang menunggu kepastian. Mereka bertahan di apa yang Pantoja sebut sebagai Resistance Zone, periode ketika sistem yang lebih unggul sudah ada tetapi orang tetap menggunakan sistem lama karena terasa familiar. Pada akhirnya mereka mencapai Denial Threshold, ketika rasa sakit karena tetap sama menjadi lebih besar daripada rasa sakit untuk berubah.
Satu hal yang harus mulai dilakukan pekerja hari ini adalah menggunakan AI pada pekerjaan nyata selama adopsinya masih opsional. Jangan sekadar membacanya. Jangan menunggu perusahaan mewajibkannya atau pekerjaan sudah terancam. Mulailah mengembangkan insting tentang apa yang AI lakukan dengan baik, di mana ia gagal, dan bagaimana kemampuan sendiri menjadi lebih bernilai saat dikombinasikan dengannya. Peluang terbesar biasanya muncul sebelum transformasi menjadi jelas. Saat semua orang setuju bahwa adaptasi diperlukan, sebagian besar keunggulan sudah berpindah ke mereka yang bergerak lebih dulu.

Data Gallup 2026 memperkuat urgensi pesan Pantoja. Kenaikan kekhawatiran dari 13% pada 2017 menjadi 27% menunjukkan bahwa ketidakpastian pekerja terhadap AI bukan lagi gejala pinggiran, melainkan sentimen arus utama di pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Bagi pekerja di Indonesia maupun global, kerangka berpikir yang ditawarkan Pantoja menempatkan adaptasi sebagai keterampilan inti, bukan pilihan tambahan. Yang berubah bukan hanya jenis pekerjaan, tetapi juga cara pekerja memahami nilai dan identitas mereka di tengah otomatisasi yang bergerak lebih cepat dari kemampuan institusi menyesuaikan diri.
[ META_DESCRIPTION]
Gallup 2026: 27% pekerja AS takut pekerjaannya digantikan AI. Armando Pantoja ungkap ancaman structural unimportance dan rencana 30 hari bertahan.





Komentar
Belum ada komentar.