📑 Daftar Isi

Mantan Bos NSO Group Desak Negara Kurangi Ketergantungan AI AS

Mantan Bos NSO Group Desak Negara Kurangi Ketergantungan AI AS

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Shalev Hulio, mantan CEO NSO Group, desak pemerintah kurangi ketergantungan pada firma AI AS
  • Hulio kini mendirikan Dream, firma pertahanan siber AI, bersama Sebastian Kurz pada 2022
  • Dream tawarkan model sovereign AI sempit, cepat, dan dilatih dengan data pemerintah
  • Dream kumpulkan pendanaan US$400 juta, bernilai US$3 miliar awal tahun ini
  • Produk Dream telah dijual ke lebih dari selusin negara di Eropa, Asia, dan Timur Tengah
  • [/SUMMARY]

Telset.id – Mantan CEO sekaligus co-founder NSO Group, Shalev Hulio, mendesak pemerintah di seluruh dunia mengurangi ketergantungan pada perusahaan AI asal Amerika Serikat (AS). Ia meminta setiap negara membangun dan meng-host model AI sendiri untuk kepentingan keamanan nasional, alih-alih menyerahkan data sensitif kepada firma AI eksternal. Seruan ini muncul dari sosok yang bertanggung jawab atas penciptaan Pegasus, spyware yang dipakai memata-matai politisi, pemimpin bisnis, dan jurnalis di berbagai negara.

Hulio menyampaikan pandangan tersebut kepada Financial Times. Menurutnya, AI kini telah menjadi infrastruktur kritis sehingga pemerintah tidak boleh mengambil risiko kehilangan kendali atas model yang mereka gunakan. “Setiap pemerintah harus memiliki model mereka sendiri,” kata Hulio, seperti dikutip dari pernyataannya. “Mereka tidak boleh mengambil risiko bahwa suatu hari seseorang akan bangun dan mematikan model mereka karena AI adalah infrastruktur kritis. Anda ingin mengendalikan AI Anda sendiri.”

Pernyataan ini menandai pergeseran peran Hulio. Pria yang bertanggung jawab atas Pegasus itu kini menjabat sebagai pendiri firma pertahanan siber berbasis AI bernama Dream. Ia beralih dari industri commercial spyware menuju pengembangan model AI berdaulat (sovereign AI) yang ditujukan untuk pemerintah.

Dari Pegasus ke Sovereign AI

NSO Group, perusahaan yang melahirkan Pegasus, merupakan organisasi spyware komersial yang masuk daftar hitam (blacklist) pemerintah AS. Perusahaan ini juga terus menerima kritik dari PBB dan Uni Eropa terkait keterlibatannya dalam penyebaran Pegasus ke ribuan perangkat dengan mengeksploitasi celah keamanan WhatsApp. Kritik serupa juga pernah menyoroti bagaimana penyalahgunaan teknologi pengawasan dapat merugikan pengguna biasa, seperti dalam insiden Zoom Booming Wantiknas yang memperlihatkan risiko keamanan platform digital.

Meski demikian, Hulio membela rekam jejak NSO Group. “Terlepas dari opini publik, pemerintah berhasil mencegah serangan teror dan berhasil menyelamatkan ratusan ribu nyawa selama bertahun-tahun menggunakan produk NSO,” ujarnya kepada FT. Ia menambahkan, “Pemerintah sangat menghargai, saya pikir, hubungan yang kami miliki sebelumnya.”

Dream sendiri didirikan Hulio bersama mantan Kanselir Austria Sebastian Kurz pada 2022. Perusahaan ini awalnya berupaya menyediakan alat pertahanan siber berbasis AI bagi pemerintah. Dream dikreditkan karena mendeteksi serangan AI end-to-end otonom pertama di dunia, di mana peretas asal China memakai model AI open-source untuk menemukan dan merangkai kerentanan guna menembus instansi pemerintah Taiwan, termasuk lembaga keselamatan nuklir.

Portofolio Produk dan Pendanaan Dream

Saat ini Dream menawarkan portofolio produk yang mencakup sistem pertahanan siber berskala nasional yang diperkuat AI, platform penemuan kerentanan perangkat lunak berbasis AI, serta platform AI yang membantu pemerintah membangun model AI berdaulat yang tidak bergantung pada infrastruktur eksternal. Model yang ditawarkan Dream juga dibuat khusus (bespoke) untuk kebutuhan pemerintah dan dilatih dengan data pelanggan agar model lebih sesuai kebutuhan pemerintah sekaligus menekan biaya.

“Kami mengatakan kepada entitas di dalam pemerintah, Anda harus memiliki model yang sangat sempit tetapi sangat pintar yang dapat berjalan sangat cepat pada satu atau dua atau tiga GPU,” kata Hulio. Pendekatan model yang ringkas dan efisien ini menjadi pembeda dari model AI besar yang bergantung pada infrastruktur eksternal.

Dari sisi bisnis, Dream telah mengumpulkan pendanaan dan investasi sebesar US$400 juta. Perusahaan ini disebut bernilai US$3 miliar pada awal tahun ini. Hingga kini, Dream telah menjual produknya ke lebih dari selusin negara di Eropa, Asia, dan Timur Tengah.

Isu kedaulatan AI dan pengawasan digital memang tak lepas dari perhatian publik. Berbagai insiden kebocoran dan penyalahgunaan platform menunjukkan pentingnya tata kelola data yang ketat, sejalan dengan sorotan terhadap langkah regulator seperti CMA Inggris yang menekan dominasi pemain teknologi besar. Dalam konteks inilah seruan Hulio agar pemerintah menguasai infrastruktur AI mereka sendiri menjadi relevan.

Pandangan Hulio ini datang dari latar belakang yang kontroversial. Sebagai pencipta Pegasus, ia kini memposisikan diri sebagai evangelis sovereign AI yang menekankan pentingnya kendali negara atas teknologi strategis. Pemerintah di berbagai kawasan pun dihadapkan pada pilihan antara memakai layanan AI dari firma eksternal atau membangun model sendiri yang lebih terkontrol namun menuntut investasi dan kapabilitas internal.

Bagi negara-negara yang tengah memperkuat keamanan siber dan kedaulatan data, langkah Dream menyasar ceruk kebutuhan yang spesifik: model AI sempit, cepat, dan dilatih dengan data pemerintah. Dengan valuasi US$3 miliar dan jangkauan ke lebih dari selusin negara, perusahaan ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap AI berdaulat untuk keperluan pemerintah memang nyata.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.