📑 Daftar Isi

Ilustrasi Mark Zuckerberg CEO Meta dengan ekspresi serius di tengah krisis belanja AI

Meta Terjebak Belanja AI Ratusan Miliar Dolar, Saham Terancam Anjlok

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Meta menghadapi tekanan finansial terbesar dalam sejarah akibat belanja modal AI yang membengkak hingga ratusan miliar dolar AS
  • Saham Meta stagnan selama lebih dari setahun dan terancam anjlok jika pengeluaran AI terus meningkat
  • Zuckerberg mengakui perkembangan AI tidak sesuai harapan dalam town hall dengan karyawan
  • Karyawan Meta menggunakan model AI buatan pesaing (OpenAI dan Anthropic)
  • Perusahaan melakukan PHK massal dan terpaksa hentikan rencana rekam aktivitas karyawan
  • Laporan pendapatan kuartal kedua akan menjadi ujian terbesar bagi Meta

Telset.id – Meta Platforms kini menghadapi tekanan finansial terbesar dalam sejarahnya. Belanja modal (capex) untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang membengkak hingga ratusan miliar dolar AS membuat investor khawatir, dan saham perusahaan terancam anjlok jika pengeluaran terus meningkat tanpa hasil yang jelas.

Kekhawatiran ini akan diuji pada laporan pendapatan kuartal kedua Meta minggu ini. Jika Mark Zuckerberg kembali mengumumkan kenaikan anggaran AI—yang sangat mungkin terjadi—saham Meta yang sudah stagnan selama lebih dari setahun bisa semakin terpuruk.

Sejak pertengahan 2000-an, Facebook (kini Meta) adalah produk yang dicintai banyak orang. Namun, dua dekade kemudian, perusahaan ini berubah menjadi “pusat perbelanjaan yang usang” dibandingkan properti teknologi panas lainnya. Kegagalan besar di metaverse dan kebijakan moderasi konten yang longgar memperburuk citra Meta.

Sekarang, Zuckerberg seperti berusaha menghancurkan perusahaannya sendiri. Ia membakar uang dalam jumlah besar dalam upaya putus asa untuk mengejar ketertinggalan di perlombaan AI. Ironisnya, meski telah menghabiskan miliaran dolar, Meta justru dihancurkan oleh OpenAI dan Anthropic. Bahkan karyawan Meta sendiri menggunakan model AI buatan pesaing—sebuah realitas yang memalukan.

Belanja Modal AI yang Membengkak

Biaya operasional Meta meningkat drastis, menghilangkan minat Wall Street terhadap saham perusahaan. Yahoo Finance mencatat bahwa saham Meta sudah menjadi “dead money” selama lebih dari setahun. Investor terus memperdebatkan apakah Zuckerberg mengejar industri AI yang akan runtuh, atau justru mendekati revolusi industri berbasis AI.

Pekan lalu, Alphabet mengejutkan investor dengan menaikkan perkiraan belanja modalnya melewati angka $200 miliar. Hal ini memicu spekulasi bahwa Zuckerberg akan melakukan hal serupa. Analis Deutsche Bank, Benjamin Black, menulis bahwa sebelumnya investor tidak berekspektasi Meta akan menaikkan panduan capex 2026 yang saat ini berada di $125-145 miliar. Namun, setelah langkah Alphabet, investor kini khawatir kenaikan akan terjadi.

Utang terus menumpuk seiring perusahaan-perusahaan teknologi membangun pusat data AI yang lebih besar. Menurut laporan Wall Street Journal, eksekutif Meta memberi tahu bankir dan manajer dana bahwa mereka berencana mengumpulkan dana tambahan dalam jumlah “ratusan miliar dolar” untuk mendukung rencana ekspansi. Sementara itu, lonjakan permintaan dan suku bunga yang stabil menyebabkan biaya konstruksi melonjak, membuat putaran pendanaan ini menjadi tantangan yang lebih besar.

Kesadaran Pahit Zuckerberg

Meski belanja AI sangat besar, Zuckerberg tampaknya sadar bahwa ia mungkin mengarahkan perusahaan ke arah yang salah. Awal bulan ini, ia mengakui kepada staf dalam sebuah town hall bahwa “trajektori pengembangan agen AI setidaknya selama empat bulan terakhir tidak berakselerasi seperti yang kami harapkan.”

Meta juga bergulat dengan moral karyawan yang sangat rendah. Meskipun mengalokasikan lebih dari $100 miliar untuk infrastruktur AI, perusahaan terus melakukan PHK massal terhadap ribuan pekerja—yang tampaknya untuk menggantikan mereka dengan teknologi AI. Dalam town hall yang sama, Zuckerberg mengakui bahwa PHK besar-besaran tersebut tidak “bersih,” dan taruhan pada restrukturisasi “belum membuahkan hasil.”

Perusahaan juga terpaksa menghentikan rencana kontroversial untuk merekam semua aktivitas karyawan di komputer yang ditugaskan guna mengumpulkan data AI, setelah informasi sensitif karyawan bocor.

Dalam konteks ini, Meta juga merilis aplikasi khusus untuk memudahkan penjual di platformnya. Langkah ini menunjukkan upaya Meta untuk tetap relevan di tengah krisis internal yang melanda.

Krisis ini menjadi ujian terbesar bagi kepemimpinan Zuckerberg. Investor akan mencermati laporan keuangan kuartal kedua untuk melihat apakah Meta mampu membalikkan keadaan, atau justru semakin terjerumus ke dalam lubang finansial yang lebih dalam.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.