📑 Daftar Isi

Ilustrasi Mark Zuckerberg dengan mata merah menyala di tengah krisis moral karyawan Meta

Morale Anjlok, Bos Meta Akui Situasi Terburuk dalam 20 Tahun

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • CTO Meta, Andrew Bosworth, akui moral karyawan sedang di titik terburuk dalam 20 tahun
  • PHK massal dan pengalihan dana ke AI jadi penyebab utama anjloknya semangat kerja
  • Karyawan yang tersisa dipindahkan ke tugas monoton melatih model AI
  • Usulan hackathon dari Zuckerberg ditolak keras oleh karyawan yang merasa kelelahan
  • Bosworth bandingkan situasi saat ini dengan skandal Cambridge Analytica 2016

Telset.id – Suasana kerja di Meta sedang berada di titik terendah. Chief Technology Officer (CTO) Meta, Andrew “Boz” Bosworth, secara terbuka mengakui bahwa moral karyawan (employee morale) sedang sangat buruk, bahkan disebut sebagai salah satu yang terburuk dalam sejarah perusahaan selama 20 tahun terakhir.

Pengakuan mengejutkan ini disampaikan Bosworth dalam sebuah rapat internal tim pada awal Juni 2026. Dikutip dari laporan Business Insider, ia tidak menampik fakta bahwa semangat kerja para pegawai sedang anjlok. “Mungkin ini bukan yang terburuk dalam 20 tahun saya di sini, tapi hampir mendekati. Pasti termasuk yang terburuk,” ujar Bosworth.

Ia kemudian membandingkan situasi saat ini dengan skandal Cambridge Analytica pada 2016, yang menurutnya merupakan masa tergelap Meta. “Saya rasa skandal Cambridge Analytica mungkin yang terburuk,” lanjut sang CTO. Meski demikian, ia menegaskan bahwa tingkat kebersamaan dan solidaritas tim saat ini “mungkin salah satu yang terburuk yang pernah ada.”

Pernyataan Bosworth ini menjadi sinyal serius bahwa krisis internal di Meta sudah mencapai level yang mengkhawatirkan. Sebagai eksekutif teknologi tertinggi, ia memiliki pandangan langsung terhadap kondisi di lapangan.

PHK Massal dan Tugas Monoton Pemicu Utama

Pemicu utama merosotnya moral karyawan tidak lepas dari kebijakan efisiensi yang agresif. Mark Zuckerberg dan jajaran eksekutif Meta telah memangkas ribuan lapangan pekerjaan untuk mengalihkan dana lebih besar ke pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh mereka yang terkena PHK. Karyawan yang tersisa pun harus menjalani tugas-tugas yang jauh dari kompetensi inti mereka. Berdasarkan laporan Wired, banyak staf yang dipindahkan ke peran menoton, seperti melatih model AI perusahaan. Situasi ini membuat banyak karyawan merasa frustrasi dan tidak dihargai.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai dinamika internal Meta, baca juga artikel terkait Divisi AI Seperti Gulag yang menggambarkan keluhan karyawan soal kondisi kerja di divisi tersebut.

Usul Hackathon ala Zuckerberg Ditolak Keras

Dalam upaya meredakan ketegangan dan meningkatkan semangat tim, Mark Zuckerberg sempat mengusulkan diadakannya hackathon internal perusahaan. Ide yang seharusnya menjadi hiburan ringan ini justru berakhir dengan penolakan keras dari karyawan.

Salah seorang pekerja bahkan melontarkan kritik pedas. “Saya benar-benar sibuk memastikan tim saya tetap bertahan. Saya tidak punya insentif untuk berpartisipasi, apalagi punya waktu untuk melakukannya,” ujar karyawan tersebut. Pernyataan ini menunjukkan betapa besarnya tekanan yang dirasakan staf Meta saat ini.

Usulan hackathon yang tidak tepat sasaran ini menjadi bukti bahwa ada jurang pemisah yang lebar antara manajemen puncak dengan realitas yang dihadapi karyawan sehari-hari. Topik ini juga telah dibahas secara khusus dalam artikel Usul Hackathon Ditolak.

Situasi ini makin memperparah citra Meta yang belakangan ini kerap dilanda masalah. Sebelumnya, layanan Meta juga sempat mengalami Gangguan Kedua dalam Sepekan, yang menambah daftar panjang tantangan perusahaan.

Di sisi lain, Meta juga tengah bersaing ketat di pasar teknologi imersif. Kompetitor seperti Snap baru saja meluncurkan AR Glasses Rp40 Juta yang secara langsung menantang dominasi Meta di segmen augmented reality.

Implikasi bagi Masa Depan Meta

Pengakuan terbuka dari jajaran C-suite mengenai buruknya moral karyawan jarang terjadi. Langkah Bosworth yang tidak menutup-nutupi fakta ini bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ini menunjukkan transparansi manajemen. Namun di sisi lain, ini juga menjadi indikator bahwa masalah sudah sangat akut dan tidak bisa disembunyikan lagi.

Dengan ribuan karyawan yang kehilangan pekerjaan dan mereka yang tersisa harus menjalani tugas di luar keahliannya, produktivitas dan inovasi Meta dalam jangka pendek berpotensi terganggu. Perusahaan raksasa teknologi ini kini menghadapi tantangan besar: bagaimana mempertahankan talenta terbaik di tengah krisis kepercayaan dan semangat kerja yang merosot.

Tanpa perbaikan signifikan dalam budaya kerja dan kesejahteraan karyawan, Meta berisiko kehilangan daya saing di industri yang sangat kompetitif, terutama saat mereka tengah berlomba mengembangkan teknologi AI dan perangkat keras generasi berikutnya.

Komentar

Belum ada komentar.