📑 Daftar Isi

Ilustrasi ketidaksetujuan terhadap AI dengan gestur tangan menyilang

Survei: Warga AS Makin Benci AI, Tapi Makin Sering Pakai Chatbot

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Hanya 16% warga AS percaya AI berdampak positif pada masyarakat
  • 49% orang dewasa AS menggunakan chatbot AI, naik dari 33% di 2024
  • 40% responden memperkirakan AI akan berdampak negatif pada masyarakat
  • Gen Z (18-29 tahun) paling kritis (48% negatif) tapi paling sering pakai AI (66%)
  • Kesenjangan antara adopsi dan persepsi jadi tantangan industri AI jangka panjang

Telset.id – Sebuah survei baru dari Pew Research Center mengungkap paradoks menarik di Amerika Serikat: hanya 16 persen responden yang percaya AI akan berdampak positif pada masyarakat, namun hampir separuh orang dewasa mengaku menggunakan chatbot AI seperti ChatGPT. Temuan ini menunjukkan kesenjangan tajam antara persepsi negatif dan adopsi teknologi yang terus meningkat.

Dalam laporan yang dirilis pada tahun 2026, Pew Research mencatat bahwa 49 persen orang dewasa di AS kini menggunakan chatbot AI. Angka ini melonjak signifikan dari 33 persen pada tahun 2024. Dari jumlah tersebut, seperempat responden mengaku menggunakan alat-alat ini setiap hari. ChatGPT tetap menjadi platform paling populer dengan selisih yang cukup jauh dari pesaingnya.

Meskipun penggunaan melonjak, opini publik justru memburuk. Hanya 16 persen responden yang optimistis AI akan membawa dampak positif bagi masyarakat. Sebaliknya, 40 persen responden memperkirakan AI akan berdampak negatif pada masyarakat, dan 31 persen yakin teknologi ini akan merugikan mereka secara pribadi.

Ilustrasi foto seorang pria menyilangkan tangan di depan dada sebagai gestur ketidaksetujuan terhadap AI

Data ini menunjukkan bahwa adopsi yang meluas tidak serta-merta memperbaiki persepsi publik terhadap AI. Fenomena ini menjadi teka-teki bagi industri yang tengah digerakkan oleh gelombang investasi besar-besaran.

Baca Juga:

Generasi Muda Paling Kritis, Paling Sering Pakai

Paradoks ini semakin terlihat jelas ketika data dipecah berdasarkan kelompok usia. Generasi Z, yang berusia 18 hingga 29 tahun, menjadi kelompok yang paling waspada terhadap AI. Sebanyak 48 persen dari mereka percaya AI akan berdampak negatif pada masyarakat. Namun, mereka juga merupakan kelompok yang paling sering menggunakan AI, dengan 66 persen melaporkan penggunaan chatbot.

Sebaliknya, kelompok usia 30-49 tahun dan 50 tahun ke atas menunjukkan sikap yang lebih moderat. Masing-masing 39 persen dan 37 persen dari kelompok ini memandang AI secara negatif. Namun, tingkat penggunaan mereka jauh lebih rendah. Sebanyak 61 persen responden usia 30-49 tahun menggunakan chatbot AI, sementara hanya 42 persen dari kelompok usia 50-64 tahun yang melakukannya. Angka ini turun drastis menjadi kurang dari seperempat untuk responden berusia 65 tahun ke atas.

Kesenjangan antara persepsi dan penggunaan ini masih menjadi misteri. Salah satu kemungkinan adalah bahwa banyak orang merasa terpaksa menggunakan AI, baik karena tekanan pekerjaan maupun karena lingkungan sosial. Survei sebelumnya menunjukkan bahwa atasan seringkali lebih antusias terhadap AI dibandingkan karyawan mereka. Hal ini menciptakan situasi di mana pekerja menggunakan teknologi yang sebenarnya mereka ragukan.

Dampak pada Industri AI

Fenomena ini menjadi masalah serius bagi keberlangsungan industri AI dalam jangka panjang. Saat ini, sektor ini didorong oleh hype dan gelontoran dana besar-besaran dari investor, sementara profitabilitas masih sulit dicapai. Jika persepsi publik terus memburuk, pertanyaan besarnya adalah: akankah ada cukup pelanggan untuk menjaga industri ini tetap berjalan dalam beberapa tahun atau dekade mendatang?

Data dari Pew Research ini juga relevan dengan perkembangan regulasi teknologi di AS. Misalnya, aturan baru FCC Larang Ponsel Anonim menunjukkan bahwa pemerintah mulai mengambil langkah untuk mengatur teknologi yang dianggap bermasalah. Sementara itu, kritik dari perusahaan seperti Nvidia Kritik GAIN AI Act menunjukkan adanya ketegangan antara inovasi dan regulasi.

Di sisi lain, kebiasaan pengguna smartphone di AS juga menarik untuk dicermati. Banyak orang yang senang menyimpan data jadul di ponsel, sementara yang lain menjatuhkan smartphone empat kali seminggu. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi terus berkembang, perilaku pengguna tidak selalu berubah secepat yang diharapkan.

Pada akhirnya, survei Pew Research ini memberikan gambaran yang jelas: adopsi teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan penerimaan. Industri AI harus mencari cara untuk menjembatani kesenjangan antara penggunaan dan kepercayaan publik jika ingin bertahan dalam jangka panjang.

Komentar

Belum ada komentar.