Telset.id – Pasar saham Amerika Serikat dilanda tekanan jual besar pada Jumat lalu ketika saham-saham teknologi yang terkait erat dengan saham AI merosot tajam. Nasdaq 100, indeks yang menampung raksasa teknologi seperti Apple, Nvidia, Microsoft Corp, dan Amazon, turun 2,6 persen pada saat artikel ini ditulis dan berada di jalur penurunan senilai USD1 triliun. Pelemahan ini menjadi sinyal paling nyata bahwa kekhawatiran terhadap gelembung AI atau AI bubble semakin membebani pasar modal.
Penurunan dipicu salah satunya oleh Amazon, yang kehilangan sekitar dua persen sahamnya saat perdagangan dibuka Jumat pagi. Laporan keuangan kuartal ketiga Amazon sebenarnya masih menunjukkan momentum di unit komputasi awan, tetapi itu tidak cukup menahan kekhawatiran investor yang sudah mengakar terhadap AI bubble. Belanja modal Amazon untuk 2026 membengkak menjadi USD220 miliar, dan sebagian besar dana tersebut terikat pada pengembangan AI.
Tekanan sebenarnya sudah dimulai sehari sebelumnya. Saham Alphabet, perusahaan induk Google yang menjadi barometer utama perdagangan AI, anjlok lebih dari 12,6 persen pada Kamis. Itu menjadi hari perdagangan terburuk dalam sejarah Alphabet dan penghapusan nilai pasar harian terbesar kedua sepanjang sejarah sebuah perusahaan, dengan lebih dari USD500 miliar nilai pasar menguap.

Kekhawatiran Gelembung AI dan Masa Depan Belanja Data Center
Pergerakan ini memperkuat kekhawatiran bahwa gelembung AI sedang mengarah pada titik pecah. Triliunan dolar masih tertanam di segelintir perusahaan AI teratas, yang sejauh ini masih kesulitan mengubah teknologi tersebut menjadi bisnis yang layak secara komersial. Pasar pun mulai mempertanyakan apakah pendekatan hyperscale, di mana perusahaan teknologi monopoli membangun pusat data masif dan boros energi untuk memenuhi permintaan AI, merupakan jalan yang berkelanjutan.
Sebagai pembanding, muncul pertanyaan apakah pendekatan yang lebih efisien dengan model ringan dan biaya jauh lebih rendah bisa menjadi alternatif. Isu efisiensi dan biaya infrastruktur AI ini juga menjadi sorotan dalam berbagai diskusi industri, termasuk saat membahas Kolaborasi AI yang mengubah cara konten digital diproduksi.
Meski demikian, terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa euforia AI telah berakhir. Bagi banyak investor, pendekatan hyperscale simply harus berhasil. Rohit Chopra, mantan regulator perlindungan konsumen federal, mengatakan kepada Politico bahwa banyak pihak di pasar merasa tidak punya pilihan selain berharap model tersebut berjalan. Menurutnya, pada titik tertentu pasar akan melihat apakah hipotesis soal pendapatan dan pertumbuhan benar-benar terwujud. Jika tidak, dampak riaknya ke ekonomi bisa cukup signifikan.
Baca Juga:
Tekanan pada saham AI juga terjadi di tengah dinamika sektor teknologi lain yang tengah menghadapi ujian regulasi. Sebelumnya, Merger Getty Images dengan Shutterstock batal akibat regulasi ketat di Inggris, menunjukkan bahwa faktor non-pasar turut memengaruhi valuasi perusahaan teknologi.
Di sisi lain, pasar perangkat konsumen tetap bergerak. Di Indonesia, POCO F8 Ultra kembali tersedia setelah sempat kosong, menandakan permintaan konsumen terhadap perangkat berperforma tinggi masih berjalan meski sentimen pasar modal sedang tertekan.
Bagi investor, kejadian Jumat menjadi pengingat bahwa konsentrasi dana di segelintir saham AI membuat pasar rentan terhadap koreksi tajam. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan berkembang, melainkan apakah model bisnis yang dipakai saat ini mampu menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menutup belanja modal raksasa. Selama jawaban itu belum jelas, volatilitas diperkirakan tetap tinggi.





Komentar
Belum ada komentar.