📑 Daftar Isi

Logo Nscale pada permukaan kaca sebagai penyedia layanan komputasi awan AI asal Inggris

Nscale IPO Ungkap Kontrak ByteDance Rp5,6 Triliun di Balik Lonjakan AI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Nscale IPO ungkap kontrak Spring, anak usaha ByteDance, senilai USD 24 juta dari total pendapatan USD 33 juta pada 2025
  • Spring akses 2.304 chip Nvidia B200 di pusat data Nscale Glomfjord, Norwegia
  • Transaksi legal lewat celah kontrol ekspor AS, tapi berisiko regulasi dan reputasi
  • Nvidia investasi lebih dari USD 660 juta, naik jadi USD 2 miliar plus jaminan USD 860 juta
  • Nscale kantongi kontrak Microsoft USD 44 miliar dan Anthropic USD 45 miliar

Telset.id – Nscale, penyedia layanan komputasi awan berbasis kecerdasan buatan asal Inggris, mengungkap bahwa kontrak dengan Spring (SG) Pte Ltd, anak usaha ByteDance yang berbasis di Singapura, menyumbang USD 24 juta dari total pendapatan tahunan perusahaan sebesar USD 33 juta pada 2025. Fakta ini terungkap setelah Nscale merilis dokumen S-1 dalam rangka penawaran umum perdana (IPO) di Amerika Serikat.

Kontrak tersebut memberi Spring akses ke 2.304 chip Nvidia B200 yang berlokasi di pusat data Nscale di Glomfjord, Norwegia. Financial Times melaporkan bahwa transaksi ini legal dan memanfaatkan celah dalam kontrol ekspor Amerika Serikat terhadap China. Meski demikian, keterbukaan ini menempatkan Nscale pada risiko regulasi dan reputasi, terutama ketika Washington terus memperketat akses China terhadap akselerator AI paling canggih.

Sebelumnya, nama ByteDance maupun Spring tidak disebutkan secara langsung dalam dokumen S-1 Nscale. Informasi mengenai Spring justru muncul dalam dokumen pendukung, yaitu perjanjian pinjaman senilai USD 105 juta dengan Macquarie, yang menyebut Spring (SG) Pte Ltd sebagai pelanggan signifikan. Pinjaman tersebut, bersama tambahan ekuitas USD 35 juta, membantu membiayai pembelian GPU AI Nvidia generasi terbaru.

Jejak Investasi Nvidia di Balik Ekspansi Nscale

Sejumlah perkembangan mengikuti transaksi tersebut. Satu bulan setelah Nscale menarik pencairan pertama dari pinjaman Macquarie, perusahaan menutup kesepakatan dengan Microsoft dan Nvidia. CEO Nvidia, Jensen Huang, berkomitmen menginvestasikan lebih dari USD 660 juta ke Nscale. Investasi ini merupakan bagian dari perjanjian antara Nscale dan Nvidia, di mana Nvidia berjanji membeli chip AI dalam volume besar di masa depan.

Komitmen Nvidia kemudian meningkat menjadi lebih dari USD 2 miliar, ditambah jaminan tambahan senilai USD 860 juta untuk sewa fasilitas Nscale di Texas. Nscale juga berhasil mengamankan kesepakatan lebih besar dengan hyperscaler AI lain, termasuk kontrak senilai USD 44 miliar dengan Microsoft dan kontrak USD 45 miliar dengan Anthropic. Perusahaan menyatakan bahwa kontrak Spring akan turun menjadi di bawah 20% dari total pendapatan, dan diperkirakan menyusut lebih jauh seiring Nscale mendapatkan klien dari negara-negara Barat.

Nvidia server GPUs

Karena keterkaitan Spring dengan ByteDance, Macquarie mewajibkan Nscale memantau bagaimana anak usaha China tersebut menggunakan chip AI dan melaporkan “compute anomalies or suspicious configurations” yang berpotensi melanggar kontrol ekspor AS. Nscale juga menugaskan pihak ketiga untuk melakukan uji tuntas terhadap induk TikTok dan anak usahanya di Singapura guna memastikan kesepakatan sesuai hukum.

Perusahaan-perusahaan China memanfaatkan celah aturan kontrol ekspor AS untuk mengakses chip AI canggih. Mereka tidak dapat mengimpor GPU AI Nvidia tercanggih seperti Blackwell dan Vera Rubin ke China, tetapi masih bisa menyewa chip tersebut dari perusahaan di luar negeri atau menggunakan anak usaha yang didirikan di luar China untuk membelinya secara langsung. Amerika Serikat baru-baru ini menutup celah terakhir, sementara pemerintahan Trump berupaya menutup celah pertama.

Belum jelas apakah langkah tersebut akan memengaruhi kesepakatan Spring-Nscale. Namun, penundaan proyek pusat data skala gigawatt di AS berarti Nscale berpotensi mendapatkan lebih banyak klien seiring hyperscaler AI berlomba mengamankan kapasitas komputasi dari fasilitas yang lebih kecil. Situasi ini memperlihatkan bagaimana rantai pasok chip AI global masih menjadi titik rawan dalam persaingan teknologi antara AS dan China.

Risiko Regulasi dan Reputasi di Tengah Perang Chip

Posisi Nscale sebagai “neocloud” yang membangun bisnisnya dari kemitraan dengan entitas terkait ByteDance menunjukkan bahwa permintaan komputasi AI tetap kuat, bahkan ketika aturan ekspor semakin ketat. Keterbukaan melalui dokumen IPO membuat publik dan regulator dapat menilai seberapa besar ketergantungan perusahaan pada klien yang berada di wilayah abu-abu regulasi.

Nvidia sendiri tampak memperhatikan perkembangan ini, terlihat dari komitmen investasi yang meningkat dan jaminan sewa fasilitas di Texas. Hal ini menandakan bahwa Nvidia melihat Nscale sebagai mitra strategis dalam ekosistem komputasi AI, sekaligus berupaya memastikan rantai pasoknya tetap patuh pada aturan ekspor yang berlaku.

Nvidia event - servers

Di sisi lain, langkah Macquarie yang mewajibkan pemantauan penggunaan chip oleh Spring memperlihatkan bahwa lembaga keuangan pun mulai memasukkan risiko kepatuhan ekspor dalam struktur pembiayaan mereka. Ini menjadi preseden bagi pendanaan infrastruktur AI yang melibatkan klien dari yurisdiksi sensitif.

Dengan kontrak Microsoft dan Anthropic yang jauh lebih besar, Nscale memiliki ruang untuk mengurangi porsi pendapatan dari Spring. Namun, pengungkapan ini tetap menjadi catatan penting bagi investor yang menilai risiko geopolitik dalam bisnis komputasi awan AI. Perkembangan aturan ekspor AS dan respons China akan menentukan arah kerja sama lintas negara di sektor ini, termasuk bagaimana perusahaan seperti Nscale menyeimbangkan pertumbuhan dan kepatuhan.

[ META_DESCRIPTION]
Nscale IPO ungkap kontrak USD 24 juta dengan Spring, anak usaha ByteDance, yang memakai 2.304 chip Nvidia B200 di Norwegia lewat celah ekspor AS.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.