Ilustrasi data center OpenAI dengan server dan infrastruktur AI

OpenAI Siapkan $750 Miliar untuk Infrastruktur Data Center AI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • OpenAI mengumumkan investasi $750 miliar untuk infrastruktur hingga 2030, naik 25% dari perkiraan awal
  • Proyek pertama adalah kampus data center $20 miliar di Georgia bernama Project Camellia
  • Data center akan menarik daya 3,2 gigawatt dari Georgia Power antara 2028-2032
  • OpenAI mendapat keringanan pajak 50% selama 15 tahun dari Effingham County
  • Sebagian besar pasokan listrik berasal dari gas alam, menimbulkan kekhawatiran lingkungan

Telset.id – OpenAI mengumumkan akan menggelontorkan dana sebesar $750 miliar untuk pembangunan infrastruktur hingga tahun 2030. Angka ini melonjak 25% lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya di awal tahun ini, menandai perubahan besar dalam strategi ekspansi perusahaan AI tersebut.

Langkah agresif ini diambil di tengah kabar bahwa proyek data center Stargate milik OpenAI mengalami kemacetan. Sebagai gantinya, OpenAI kini memfokuskan sumber daya pada proyek baru yang lebih konkret.

Serangan pertama dari belanja besar-besaran OpenAI adalah pembangunan kampus data center senilai $20 miliar di Georgia, Amerika Serikat. Proyek yang diberi nama Project Camellia ini akan berlokasi di area seluas 1.400 acre di barat laut Savannah.

Kampus data center tersebut diperkirakan akan menarik daya listrik hingga 3,2 gigawatt dari Georgia Power, perusahaan utilitas regional. Kapasitas pembangkit listrik ini diperkirakan akan tersedia antara tahun 2028 hingga 2032.

Dalam pernyataannya, OpenAI menegaskan akan menanggung seluruh biaya infrastruktur dan biaya layanan listrik untuk data center baru tersebut. Komitmen ini menunjukkan keseriusan OpenAI dalam mengamankan pasokan energi untuk operasional AI mereka.

Kebijakan ini selaras dengan aturan yang diterapkan oleh Georgia Public Service Commission (PSC) tahun lalu. PSC mengadopsi aturan untuk mencegah perusahaan utilitas membebankan biaya kepada pengguna baru yang menarik daya lebih dari 100 megawatt.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Georgia Power juga menyatakan bahwa OpenAI akan mengurangi konsumsi dayanya hingga 1 gigawatt selama periode permintaan tinggi pada jaringan listrik. Ini merupakan bentuk fleksibilitas yang diberikan OpenAI untuk menjaga stabilitas pasokan energi di Georgia.

Selain itu, OpenAI mendapatkan keringanan pajak properti sebesar 50% selama 15 tahun dari Effingham County, sebagaimana dilaporkan oleh Effingham Herald. Insentif ini menjadi daya tarik tambahan bagi OpenAI untuk membangun fasilitasnya di wilayah tersebut.

Meski demikian, baik OpenAI maupun Georgia Power belum mengungkapkan secara spesifik bagaimana Project Camellia akan mendapatkan pasokan listrik. TechCrunch telah mencoba menghubungi kedua perusahaan untuk meminta klarifikasi, namun belum mendapatkan tanggapan.

Petunjuk mengenai sumber energi ini mungkin bisa ditemukan dalam dokumen regulasi. Pada bulan Desember lalu, Georgia Power mendapatkan persetujuan dari PSC untuk memproduksi tambahan 9.885 megawatt listrik. Perusahaan utilitas tersebut menyatakan kepada PSC bahwa mereka memperkirakan seluruh kapasitas tersebut akan dikontrakkan pada akhir tahun 2026.

Kesepakatan dengan OpenAI diperkirakan mencakup sekitar sepertiga dari total kapasitas tersebut. Berdasarkan dokumen yang diajukan Georgia Power ke PSC, sebagian besar kapasitas baru akan berasal dari gas alam.

Perusahaan utilitas tersebut menyatakan akan membangun atau membeli dari pihak ketiga sekitar 5,8 gigawatt kapasitas pembangkit gas alam. Sekitar seperempat dari kapasitas tersebut akan berasal dari turbin siklus sederhana yang lebih polutif.

Secara keseluruhan, kapasitas bahan bakar fosil baru ini akan menggandakan lebih dari dua kali lipat armada gas alam Georgia Power. Sementara sisanya akan dipasok oleh baterai skala jaringan dan tenaga surya.

Meskipun pasokan listrik dari Georgia Power diperkirakan mulai mengalir pada tahun 2028, OpenAI belum memberikan timeline kapan GPU pertama akan mulai beroperasi. Namun, hal ini bisa terjadi lebih cepat dari tahun 2028 mengingat OpenAI baru saja merekrut Brett Mayo untuk memimpin konstruksi data center.

Mayo sebelumnya bekerja di xAI, di mana ia mengawasi pembangunan data center Colossus di Memphis. Data center Colossus dibangun dalam waktu yang sangat singkat, namun dikabarkan berdampak pada kualitas udara lokal.

Menurut gugatan yang diajukan oleh NAACP dan Southern Environmental Law Center, data center xAI tersebut telah menjalankan puluhan turbin gas alam tanpa izin dan mengklaim pengecualian dari peraturan udara bersih federal. Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi OpenAI dalam mengelola proyek infrastruktur mereka.

Investasi besar-besaran ini menunjukkan bahwa OpenAI tidak hanya fokus pada pengembangan model AI, tetapi juga pada infrastruktur fisik yang mendukung operasionalnya. Langkah ini juga menimbulkan pertanyaan tentang dampak lingkungan dari proyek data center berskala raksasa.

Meski demikian, OpenAI belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai jadwal pasti pembangunan Project Camellia. Yang jelas, komitmen pendanaan sebesar $750 miliar hingga 2030 menunjukkan bahwa perusahaan pimpinan Sam Altman ini serius dalam memperkuat kapasitas infrastruktur AI mereka.

Keputusan OpenAI untuk membangun data center sendiri, alih-alih bergantung pada proyek Stargate yang macet, menunjukkan adaptasi strategi yang cepat. Dengan merekrut Brett Mayo yang berpengalaman di xAI, OpenAI berharap bisa mempercepat proses konstruksi tanpa mengulangi kesalahan yang sama.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.