Tampilan fitur deteksi AI Substack yang menunjukkan persentase konten buatan manusia dan AI

Substack Luncurkan Fitur Pendeteksi Konten AI Buat Jaga Kredibilitas

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Substack luncurkan fitur deteksi AI bersama Pangram untuk scan konten newsletter
  • Fitur ini bisa mendeteksi berapa persen konten ditulis manusia dan berapa persen dari AI
  • CEO Substack Chris Best sebut ini penggunaan AI yang baik dan transparan
  • Fitur tersedia untuk postingan, catatan, balasan, atau komentar di atas 100 karakter
  • Penulis bisa menambahkan catatan opsional tentang penggunaan AI dalam konten mereka
  • Langkah ini untuk jaga kredibilitas dan kepercayaan pembaca di platform

Telset.id – Substack resmi meluncurkan fitur baru yang memungkinkan pembaca mengetahui apakah sebuah newsletter ditulis oleh manusia atau dibantu kecerdasan buatan. Langkah ini diambil untuk menjaga kepercayaan di tengah maraknya konten buatan AI di platform digital.

Platform newsletter dan menulis ini mengumumkan integrasi dengan perangkat lunak pendeteksi AI bernama Pangram. Fitur tersebut akan memindai postingan, komentar, dan balasan di aplikasi Substack untuk memberikan perkiraan seberapa banyak konten yang ditulis oleh manusia dan seberapa banyak yang dihasilkan oleh AI.

Dalam jangka pendek, langkah ini berpotensi merugikan bisnis Substack. Pasalnya, fitur tersebut bisa mengungkap banyak newsletter di platform yang tidak sepenuhnya ditulis oleh manusia. Hal ini berpotensi mengikis kepercayaan terhadap ekosistem berita dan blog independen Substack, bahkan dapat merusak reputasinya sebagai tuan rumah konten berkualitas tinggi.

Namun dalam jangka panjang, fitur deteksi AI justru bisa membantu menjaga Substack tetap bebas dari “AI slop” atau konten berkualitas rendah buatan AI. Dengan demikian, lebih banyak pengguna akan percaya bahwa apa yang mereka baca benar-benar ditulis oleh manusia, atau setidaknya memahami kapan konten tersebut bukan karya manusia.

Substack bergabung dengan sejumlah platform yang mulai melabeli konten buatan AI. Foto dan video yang dihasilkan AI kini sudah diberi label di situs media sosial, sementara layanan streaming musik mulai memberi label dan dalam beberapa kasus memberikan sanksi pada musik buatan AI.

“Ini adalah penggunaan AI yang baik,” ujar CEO Substack Chris Best. “Dulu saat saya menawarkan Substack kepada penulis, salah satu cara yang saya lakukan adalah kami akan melakukan segalanya untuk Anda kecuali bagian yang sulit,” jelasnya dalam obrolan daring dengan pendiri Pangram, Max Spero.

“Anda harus memiliki sesuatu — ide yang layak dibaca, yang layak diperhatikan, yang layak dibagikan. Satu hal itu sangat sulit dan sangat berharga. Perangkat lunak harus melakukan segalanya, tapi saya pikir Anda ingin manusianya melakukan bagian yang sulit,” tambah Best.

Fitur ini akan tersedia di aplikasi Substack untuk setiap postingan, catatan, balasan, atau komentar di atas 100 karakter. Substack juga akan mengizinkan penulisnya menyertakan catatan penulis AI opsional, di mana kreator dapat mengungkapkan penggunaan AI mereka secara tepat.

Perusahaan menegaskan bahwa alat ini tidak dimaksudkan untuk melarang atau menghukum penulisan berbantuan AI, melainkan untuk mendorong penulis menambahkan pernyataan “bagaimana saya membuat ini”, di mana mereka menjelaskan proses mereka. Penerbit juga dapat menjalankan Pangram pada draf mereka sendiri sebelum publikasi, serta melaporkan dan menghapus pemindaian pada karya mereka sendiri yang dianggap keliru.

Keputusan Substack ini menunjukkan tren industri yang semakin serius dalam menangani konten buatan AI. Banyak platform mulai menyadari bahwa transparansi soal penggunaan AI sangat penting untuk menjaga kepercayaan pengguna.

Dengan adanya fitur ini, pembaca Substack kini bisa mengetahui secara langsung apakah newsletter favorit mereka menggunakan AI dalam proses penulisan. Informasi ini bisa menjadi pertimbangan penting bagi pembaca yang ingin memastikan konten yang mereka konsumsi murni karya manusia.

Di sisi lain, para penulis di Substack juga mendapat manfaat dari fitur ini. Mereka bisa menunjukkan transparansi kepada pembaca dengan secara sukarela mengungkapkan penggunaan AI dalam proses kreatif mereka. Hal ini justru bisa memperkuat hubungan antara penulis dan pembaca.

Belum ada informasi resmi mengenai kapan fitur ini akan tersedia di Indonesia. Namun, mengingat Substack adalah platform global, kemungkinan besar fitur ini akan bisa diakses oleh pengguna di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Dengan peluncuran fitur deteksi AI ini, Substack menunjukkan komitmennya untuk menjaga kualitas konten di platformnya. Langkah ini juga menjadi contoh bagi platform lain untuk lebih transparan dalam menangani konten buatan AI.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.