📑 Daftar Isi

Pekerja Inggris membayar layanan generative AI dengan kartu kredit mereka sendiri

Pekerja Inggris Rogoh Rp21 Triliun untuk AI, Ini Dampaknya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Pekerja Inggris habiskan 1,3 miliar dolar AS atau Rp21 triliun per tahun untuk generative AI secara mandiri
  • Survei Deloitte libatkan 25.000 pekerja, disebut studi terbesar penggunaan GenAI di satu negara
  • 63 persen pekerja dewasa Inggris aktif gunakan generative AI untuk kerja
  • Satu dari enam pengguna AI bayar sendiri alatnya tanpa klaim ke perusahaan
  • Penggunaan AI masih terbatas pada tugas dasar seperti email dan pencarian informasi
  • Pekerja pakai AI meski minim pelatihan dan tanpa sepengetahuan perusahaan

Telset.id – Pekerja di Inggris menghabiskan dana kolektif sebesar 1,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp21 triliun per tahun untuk membeli layanan generative AI guna menunjang pekerjaan mereka, tanpa mengajukan klaim penggantian biaya ke perusahaan. Temuan ini terungkap dalam survei tempat kerja terbaru yang dilakukan Deloitte dan dilaporkan Reuters, yang menyoroti bagaimana adopsi AI di lingkungan kerja Inggris berjalan jauh lebih cepat dibanding kesiapan kebijakan internal perusahaan.

Survei tersebut melibatkan 25.000 pekerja di seluruh benua Eropa, dan Deloitte menyebutnya sebagai “studi terbesar penggunaan GenAI di tempat kerja yang dilakukan di satu negara.” Angka pengeluaran mandiri pekerja ini menjadi sinyal kuat bahwa adopsi AI di Inggris tidak lagi menunggu inisiatif resmi dari manajemen, melainkan didorong langsung oleh kebutuhan operasional harian para pekerja itu sendiri.

Secara keseluruhan, tingkat adopsi AI di tempat kerja Inggris terbilang masif. Sebanyak 63 persen pekerja dewasa melaporkan bahwa mereka secara aktif menggunakan generative AI untuk bekerja. Meski metode survei tidak sepenuhnya identik, angka ini bisa dibandingkan dengan survei pekerja AS yang dilakukan Gallup pada periode serupa, yang menunjukkan 52 persen pekerja Amerika menggunakan AI dalam kapasitas tertentu, meski hanya 15 persen yang menggunakannya setiap hari. Perbandingan ini memberi gambaran bahwa gelombang adopsi AI di Inggris berjalan lebih agresif dibanding di AS.

Menariknya, pola penggunaan AI di kalangan pekerja Inggris justru tidak terlalu dalam. Alih-alih mengejar autonomous agents canggih yang mampu menangani tugas kompleks, pekerja di Inggris lebih banyak memakai AI untuk tugas permukaan seperti menyusun email atau sebagai pengganti mesin pencari yang dulu diandalkan. Salah satu CEO bahkan menyamakan metode penggunaan AI seperti ini dengan melempar “slop grenades” ke seluruh kantor, merujuk pada hasil keluaran AI yang dianggap asal-asalan.

Pekerja Bayar Sendiri, Perusahaan Belum Sepenuhnya Sadar

Dari sisi pembiayaan, hampir separuh pekerja yang disurvei mengaku menggunakan alat AI gratis. Sementara 34 persen lainnya memakai generative AI yang disediakan oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Namun, satu dari enam pengguna AI di tempat kerja melaporkan membayar setidaknya satu jenis alat AI dengan uang mereka sendiri, dan kelompok ini secara kolektif menghabiskan lebih dari 1 miliar dolar AS untuk AI setiap tahunnya.

Fenomena ini menempatkan pekerja pada posisi yang ambigu. Di satu sisi mereka menunjukkan antusiasme tinggi terhadap teknologi, tetapi di sisi lain mereka menanggung sendiri biaya yang seharusnya bisa menjadi tanggungan perusahaan. Situasi ini juga menjadi cerminan dari tren yang lebih luas di industri, seperti yang dibahas dalam artikel tentang AI Bubble Pecah, di mana ketergantungan pada layanan AI berbayar memiliki konsekuensi tersendiri bagi pengguna.

Partner and head of industry insight di Deloitte UK, Paul Lee, menyatakan bahwa yang paling mencolok dari temuan ini adalah betapa cepatnya GenAI menjadi bagian dari kehidupan kerja sehari-hari. “Namun bagi banyak pekerja, perannya masih relatif dasar, berfokus pada pencarian informasi dan penyusunan konten, bukan mendukung pekerjaan yang lebih kompleks,” ujar Lee dalam laporan tersebut.

Lee menegaskan bahwa inti dari cerita ini bukanlah soal pekerja yang menggunakan GenAI, melainkan bahwa “mereka menggunakannya meskipun pelatihan terbatas, panduan yang tidak merata, dan dalam beberapa kasus, tanpa sepengetahuan perusahaan mereka.” Pernyataan ini menyoroti adanya celah besar antara perilaku pekerja di lapangan dan kesiapan organisasi dalam mengelola adopsi AI secara formal.

Kesenjangan antara antusiasme pekerja dan minimnya panduan dari perusahaan menjadi salah satu temuan paling penting dari survei Deloitte ini. Ketika pekerja memilih untuk membiayai sendiri alat AI yang mereka gunakan, artinya mereka mengambil inisiatif untuk menutupi kebutuhan operasional yang tidak difasilitasi perusahaan. Pola ini berpotensi menciptakan risiko baru, mulai dari persoalan keamanan data hingga ketidakjelasan tanggung jawab atas hasil kerja yang dihasilkan AI.

Di sisi lain, adopsi AI yang begitu cepat di tempat kerja Inggris menunjukkan bahwa teknologi ini telah bergeser dari sekadar eksperimen menjadi alat bantu harian. Namun, penggunaan yang masih terbatas pada tugas-tugas permukaan menandakan bahwa potensi penuh GenAI belum sepenuhnya tergarap. Pekerja menggunakan AI untuk hal-hal praktis karena itulah yang paling mudah diakses, bukan karena mereka telah dilatih untuk memanfaatkannya secara strategis.

Implikasi bagi Perusahaan dan Pekerja

Temuan Deloitte ini memberikan gambaran bahwa perusahaan di Inggris menghadapi tantangan ganda. Pertama, mereka perlu mengakui bahwa AI sudah menjadi bagian dari alur kerja karyawan, terlepas dari ada atau tidaknya kebijakan resmi. Kedua, mereka perlu menyediakan pelatihan dan panduan yang memadai agar penggunaan AI tidak berhenti pada tugas-tugas dasar yang berisiko menghasilkan keluaran berkualitas rendah.

Bagi pekerja, keputusan untuk membiayai sendiri alat AI bisa dilihat sebagai investasi pribadi dalam produktivitas. Namun, tanpa dukungan perusahaan, beban biaya ini menjadi tidak berkelanjutan dalam jangka panjang. Angka 1,3 miliar dolar AS per tahun yang dikeluarkan pekerja Inggris secara kolektif adalah cerminan nyata dari besarnya ketergantungan mereka pada teknologi ini untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari.

Survei Deloitte juga menunjukkan bahwa adopsi AI di Inggris berjalan lebih cepat dibanding di AS, setidaknya berdasarkan perbandingan dengan data Gallup. Dengan 63 persen pekerja dewasa di Inggris aktif menggunakan generative AI, sementara di AS angkanya 52 persen, terlihat bahwa pekerja Inggris lebih cepat mengintegrasikan AI ke dalam rutinitas kerja mereka. Perbedaan ini bisa menjadi indikasi bahwa budaya kerja di Inggris lebih terbuka terhadap eksperimen teknologi, atau bisa juga karena tekanan pekerjaan yang mendorong efisiensi lebih tinggi.

Yang jelas, temuan ini menegaskan bahwa generative AI telah menjadi komponen tak terpisahkan dari dunia kerja modern di Inggris. Namun, tanpa dukungan struktural dari perusahaan, adopsi yang cepat ini berjalan tanpa fondasi yang kokoh. Pekerja terus menggunakan AI karena mereka merasakan manfaat langsungnya, meski harus menanggung biaya dan risiko sendiri.

Perkembangan ini juga sejalan dengan tren yang terlihat di sektor lain, misalnya bagaimana teknologi AI terus merambah berbagai perangkat dan platform, seperti yang dibahas dalam artikel mengenai DLSS 5 Nvidia yang kini berjalan di berbagai perangkat. Ekspansi AI ke berbagai lini teknologi ini memperkuat argumen bahwa adopsi AI bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan yang harus diantisipasi perusahaan.

A color-treated photo of a man holding up a phone and a credit card.

Pada akhirnya, survei Deloitte menyoroti satu hal penting: pekerja Inggris tidak menunggu perusahaan untuk mengadopsi AI. Mereka bergerak lebih dulu, membiayai sendiri, dan mengintegrasikannya ke dalam pekerjaan sehari-hari. Perusahaan yang tidak segera menyesuaikan kebijakan dan menyediakan dukungan yang memadai berisiko kehilangan kendali atas bagaimana AI digunakan di lingkungan kerja mereka sendiri.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.