📑 Daftar Isi

Studi Pew Research: 1 dari 10 Halaman Web Diduga Dibuat AI

Studi Pew Research: 1 dari 10 Halaman Web Diduga Dibuat AI

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Studi terbaru Pew Research mengungkap bahwa sekitar 1 dari 10 halaman web berbahasa Inggris memiliki indikasi kuat dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI). Temuan ini memperkuat kekhawatiran tentang dominasi konten buatan mesin di internet, sekaligus membuka diskusi mengenai cara mengenali teks AI di tengah maraknya penggunaan chatbot.

Penelitian yang dilansir dari CNET pada Minggu (23/8/2026) ini menganalisis hampir 500.000 halaman web berbahasa Inggris selama lima tahun terakhir menggunakan data dari Common Crawl. Pew Research juga menganalisis sampel 10.000 halaman web terbaru yang dikumpulkan pada Juli 2026. Hasilnya, sekitar 10 persen sampel halaman web menunjukkan indikasi kuat sebagai tulisan yang dibuat AI.

Temuan ini berkaitan erat dengan teori Dead Internet yang mulai ramai dibahas sejak 2021. Teori tersebut menyebut bahwa sebagian besar aktivitas dan konten di internet pada akhirnya akan didominasi oleh bot dan AI. Kini, data dari Pew Research memberikan bukti awal bahwa tren tersebut memang sedang terjadi.

Metodologi dan Temuan Utama Penelitian

Dalam penelitiannya, Pew Research menggunakan alat pendeteksi AI bernama Open Pangram. Alat ini dirancang untuk mencari frasa, kata, dan pola bahasa yang dianggap menjadi ciri khas tulisan yang dibuat AI. Meski demikian, peneliti mengingatkan bahwa alat pendeteksi AI tidak selalu memberikan hasil yang akurat. Sistem dapat salah menganggap tulisan manusia sebagai tulisan AI, atau sebaliknya.

Meskipun memiliki keterbatasan, hasil penelitian menunjukkan angka yang cukup signifikan. Angka 10 persen tersebut diperkirakan bisa lebih tinggi jika penelitian hanya melihat halaman web yang diterbitkan setelah kemunculan ChatGPT dan berbagai chatbot AI lainnya.

“Satu dari 10 halaman web mungkin terlihat kecil. Namun, internet berisi campuran materi lama dan baru. Jika menyaring halaman lama dan hanya meneliti halaman yang diterbitkan pasca ChatGPT, tren dominasi AI menjadi jauh lebih nyata,” ungkap temuan studi tersebut.

Pew Research juga menemukan perbedaan berdasarkan jenis domain. Konten yang memiliki indikasi dibuat AI paling banyak ditemukan pada situs dengan domain .com, yakni sekitar satu dari setiap 10 halaman yang dianalisis. Sementara itu, sekitar 4,6 persen halaman dengan domain .org menunjukkan indikasi serupa. Untuk domain .edu dan .gov, angkanya masing-masing sekitar 1 persen.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan AI untuk membuat konten sudah semakin luas. Namun, hal itu bukan berarti seluruh konten di internet dibuat oleh AI. Masih banyak konten asli buatan manusia yang tersebar di berbagai platform.

Ciri-Ciri Teks Buatan AI yang Perlu Dikenali

Peneliti Pew Research juga menemukan sejumlah pola bahasa yang dapat menjadi petunjuk bahwa sebuah teks dibuat menggunakan AI. Salah satu ciri yang paling mencolok adalah penggunaan em dash (—). Menurut penelitian tersebut, tanda baca ini muncul sekitar dua kali lebih sering dalam tulisan yang terindikasi dibuat AI dibandingkan tulisan manusia.

Selain em dash, koma Oxford juga lebih sering digunakan dalam teks AI. Penggunaannya tercatat sekitar 63 persen lebih tinggi pada teks yang memiliki indikasi dibuat AI dibandingkan tulisan manusia.

Beberapa ciri lainnya yang ditemukan peneliti antara lain:

  • Penggunaan kata atau frasa tertentu secara berulang.
  • Gaya bahasa yang cenderung kaku dan tidak natural.
  • Pengulangan istilah utama yang terdapat dalam perintah atau pertanyaan pengguna.
  • Penjelasan yang berulang atau terlalu mirip dalam satu tulisan.
  • Pernyataan bahwa informasi yang diberikan AI mungkin tidak akurat dan perlu diperiksa kembali.

Ciri-ciri tersebut dapat membantu pengguna internet untuk lebih waspada terhadap konten yang mungkin dibuat oleh AI. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua teks dengan ciri-ciri tersebut pasti dibuat oleh AI. Alat deteksi pun tidak selalu akurat.

Temuan ini juga menimbulkan persoalan baru yang cukup serius. Jika semakin banyak informasi di internet dibuat menggunakan AI, internet belum tentu menjadi tempat yang tepat untuk melakukan verifikasi ulang terhadap jawaban yang diberikan AI. Hal ini menciptakan paradoks: bagaimana kita bisa memverifikasi informasi jika sumber verifikasinya sendiri mungkin juga dibuat oleh AI?

Artinya, pengguna perlu lebih berhati-hati ketika mencari informasi di internet. Terutama untuk informasi penting, pengecekan sebaiknya dilakukan melalui sumber primer atau sumber resmi, bukan hanya mengandalkan hasil pencarian di internet. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kekhawatiran tentang penyebaran informasi menyesatkan dari chatbot.

Selain itu, pengguna juga perlu memahami bahwa AI memiliki keterbatasan. Meskipun chatbot semakin canggih, mereka tetap bisa membuat kesalahan atau menghasilkan informasi yang tidak akurat. Oleh karena itu, verifikasi manual tetap diperlukan, terutama untuk informasi yang bersifat krusial.

Pew Research menekankan bahwa penelitian ini menggunakan alat deteksi yang memiliki keterbatasan. Hasil yang diperoleh bisa saja berbeda jika menggunakan metode atau alat yang berbeda. Namun, tren peningkatan konten AI di internet sudah tidak bisa diabaikan.

Untuk pengguna yang ingin melindungi diri dari potensi kesalahan informasi, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Pertama, selalu periksa sumber informasi. Kedua, bandingkan informasi dari beberapa sumber yang berbeda. Ketiga, waspadai teks dengan ciri-ciri yang disebutkan di atas.

Sementara itu, bagi kreator konten, temuan ini menjadi pengingat bahwa transparansi tentang penggunaan AI dalam pembuatan konten menjadi semakin penting. Beberapa platform sudah mulai mewajibkan pelabelan konten yang dibuat AI, meskipun implementasinya masih bervariasi.

Penelitian Pew Research ini menjadi salah satu studi terbesar yang membahas tentang dominasi konten AI di internet. Dengan sampel hampir 500.000 halaman web, hasilnya memberikan gambaran yang cukup komprehensif tentang kondisi internet saat ini.

Ke depannya, kemungkinan besar jumlah konten AI akan terus meningkat seiring dengan semakin mudahnya akses ke berbagai tools AI yang tersedia. Namun, hal ini juga berarti tanggung jawab pengguna untuk lebih kritis dalam menyaring informasi menjadi semakin besar.

Yang jelas, kemampuan untuk membedakan antara konten buatan manusia dan AI akan menjadi keterampilan yang semakin penting di masa depan. Temuan Pew Research ini bisa menjadi langkah awal untuk meningkatkan kesadaran tentang fenomena tersebut.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.