Ilustrasi pusat data AI di Ulanqab Mongolia Dalam China dengan kapasitas 12,5 gigawatt

Ulanqab Jadi Klaster Data Center AI Tercepat di Asia

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Ulanqab, Mongolia Dalam, China menjadi klaster pusat data AI tercepat di Asia dengan hampir 100 pusat data sejak 2016
  • Total kapasitas yang dijanjikan mencapai 12,5 gigawatt, melampaui proyek Stargate OpenAI yang hanya 10 gigawatt
  • DeepSeek, ByteDance, Alibaba, dan Xiaohongshu membangun infrastruktur AI sendiri, bukan menyewa dari perusahaan cloud
  • Keunggulan Ulanqab: listrik murah, suhu dingin, dekat Beijing dengan latensi di bawah 5 milidetik
  • Tantangan utama: kelangkaan air dan 37 persen listrik masih berasal dari batu bara
  • Envision membangun pusat data AI 2 gigawatt yang terhubung langsung dengan energi bersih

Telset.id – Kota Ulanqab di Mongolia Dalam, China, telah bertransformasi menjadi salah satu klaster komputasi dengan pertumbuhan tercepat di Asia. Hampir 100 pusat data telah dibuka atau mulai dibangun di kota berpenduduk sekitar 1,5 juta jiwa ini sejak 2016, dengan total kapasitas yang dijanjikan mencapai 12,5 gigawatt.

Angka tersebut bahkan melampaui proyek Stargate milik OpenAI yang bernilai USD 500 miliar dan hanya akan mencapai kapasitas 10 gigawatt saat selesai dibangun. Menurut catatan riset Goldman Sachs yang diterbitkan pekan lalu, lebih dari 70 persen komitmen total di Ulanqab baru diumumkan dalam satu tahun terakhir saja.

Perusahaan-perusahaan China berbondong-bondong membangun pusat data di Ulanqab karena kombinasi faktor geografis dan ekonomi. Kota ini berada di dataran tinggi Mongolia Dalam dengan musim dingin panjang, sehingga pusat data tidak membutuhkan banyak energi untuk pendinginan. Lokasinya yang relatif dekat dengan Beijing juga memungkinkan transmisi data ke wilayah padat penduduk China dengan latensi minimal.

Faktor paling menarik adalah biaya listrik. Mongolia Dalam memiliki tarif listrik lebih murah dibanding hampir semua wilayah lain di China, didorong oleh pertumbuhan energi angin dan surya yang kuat serta pasokan batu bara yang melimpah.

Perusahaan AI China Bangun Infrastruktur Sendiri

Yang menarik dari fenomena ini adalah siapa yang membangun pusat data tersebut. Untuk pertama kalinya, perusahaan AI China berinvestasi besar-besaran pada infrastruktur mereka sendiri, bukan menyewa kapasitas komputasi dari perusahaan cloud. DeepSeek dikabarkan sedang membangun pusat data AI berskala besar di Ulanqab, begitu juga ByteDance, Alibaba, dan Xiaohongshu.

Selama bertahun-tahun, perusahaan AI China menghabiskan lebih sedikit dana untuk membangun infrastruktur fisik dibandingkan pesaing mereka di Amerika Serikat, meskipun telah mengembangkan sejumlah model AI populer dengan kemampuan mengesankan. Ledakan pusat data di Ulanqab menandakan mereka akhirnya mulai mengejar ketertinggalan.

Mongolia Dalam sebenarnya telah menjadi pusat data selama satu dekade, jauh sebelum ledakan AI saat ini. Huawei membangun pusat data pertamanya di Ulanqab pada 2016, dan Apple menyusul tiga tahun kemudian. Pada 2021, wilayah ini ditetapkan sebagai salah satu hub utama proyek pemerintah “Eastern Data, Western Compute” yang bertujuan membangun pusat data di wilayah barat China.

Awalnya, pusat data ini menghadapi kendala latensi tinggi karena lokasinya jauh dari pantai timur China yang padat penduduk. Akibatnya, pusat data tersebut sempat hanya digunakan untuk penyimpanan cadangan—sampai AI memberi mereka tujuan baru.

“Seiring kebangkitan AI pada 2022, muncul kesadaran bahwa pusat data terpencil tersebut bisa dimanfaatkan dengan baik untuk pelatihan model,” kata Andrew Stokols, profesor di Singapore Management University yang mempelajari infrastruktur komputasi China.

Pelatihan model AI bisa berlangsung berbulan-bulan dan tidak membutuhkan penyesuaian real-time, sehingga latensi menjadi masalah yang kurang signifikan. Ulanqab juga terhubung dengan dua kabel serat optik khusus yang dibangun pada 2017 dan 2019, mengurangi latensi rata-rata menjadi kurang dari lima milidetik—cukup cepat untuk mendukung pertukaran data real-time seperti inferensi AI.

Dibandingkan hub pusat data lain di China, pertumbuhan Ulanqab lebih didorong oleh permintaan komersial daripada investasi pemerintah, kata Stokols. Startup AI China seperti DeepSeek, Moonshot AI, dan Zhiput AI mulai menarik lebih banyak pengguna berbayar, sehingga mereka menemukan kasus bisnis yang layak untuk pusat data inferensi yang cukup dekat untuk melayani pengguna tanpa latensi berlebihan.

Tantangan Air dan Transisi Energi

Ledakan pusat data di Ulanqab menghadapi satu masalah serius: ketersediaan air. Kota ini memiliki tingkat kekeringan setara Denver dengan curah hujan hanya sekitar 14 inci per tahun. Pemerintah daerah sudah kesulitan memenuhi permintaan air untuk warga—bahkan sebelum banyak proyek pusat data beroperasi.

Bulan lalu, perusahaan air lokal di Ulanqab terpaksa mematikan beberapa instalasi pengolahan air selama tujuh jam setiap malam untuk mengurangi permintaan puncak. Pusat data yang sedang dibangun akan membutuhkan lebih sedikit air di musim dingin, hanya memerlukan air tambahan untuk pendinginan selama dua bulan dalam setahun, namun semua infrastruktur baru ini tetap berpotensi menimbulkan tantangan lingkungan signifikan bagi wilayah tersebut.

Pemerintah China antusias membangun pusat data di Mongolia Dalam karena alasan lain: membantu menyerap kapasitas berlebih energi terbarukan. Damien Ma, direktur Carnegie China, mengatakan ada korelasi positif antara wilayah China dengan energi terbarukan yang paling tidak terpakai dan wilayah yang membangun pusat data terbanyak.

Envision, salah satu produsen turbin angin terbesar China, mengumumkan bulan ini akan membangun pusat data AI berkapasitas 2 gigawatt di Ulanqab yang terhubung langsung dengan pasokan listrik bersih perusahaan. Namun para ahli mengingatkan bahwa melihat pusat data AI dan energi terbarukan sebagai pasangan ideal terlalu sederhana.

Riset Stokols menemukan sekitar 37 persen listrik di Ulanqab masih berasal dari batu bara. Karena pusat data perlu beroperasi 24 jam, operator secara tradisional lebih memilih bahan bakar fosil karena keandalannya. “Mongolia Dalam sejak lama menjadi West Virginia-nya China. Ini negara batu bara,” kata Ma.

Wilayah ini kini berlomba mengganti batu bara dengan energi angin dan surya, namun kecepatan transisi masih belum jelas. Untuk saat ini, pusat data di dataran tinggi terpencil China masih harus mengandalkan batu bara sampai batas tertentu. “Tapi dalam tiga tahun, mungkin semuanya akan sepenuhnya bertenaga energi terbarukan,” kata Ma.

Pergeseran strategi perusahaan AI China untuk membangun infrastruktur sendiri menandai babak baru dalam persaingan komputasi global. Dengan kapasitas gabungan yang dijanjikan mencapai 12,5 gigawatt, Ulanqab kini menjadi simbol ambisi China mengejar ketertinggalan infrastruktur AI dari Amerika Serikat.

Namun, keberlanjutan proyek raksasa ini masih diuji oleh keterbatasan sumber daya alam. Meski pemerintah China melihat strategi ini sebagai win-win solution untuk mengejar pembangunan pusat data sekaligus meningkatkan permintaan energi terbarukan, kenyataan di lapangan menunjukkan transisi energi masih berjalan bertahap.

Bagi industri teknologi global, perkembangan Ulanqab menjadi indikator penting bahwa perusahaan AI China kini serius berinvestasi pada infrastruktur fisik. Hal ini berpotensi mengubah peta persaingan AI dunia dalam beberapa tahun ke depan, seiring dengan upaya China menyeimbangkan kebutuhan komputasi dengan keterbatasan lingkungan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.