Telset.id – Google resmi merilis Android 17 pada 16 Juni 2026, menandai transisi besar dari sistem operasi menjadi sistem kecerdasan (intelligence system). Pembaruan ini tersedia pertama kali untuk perangkat Pixel dan membawa perubahan fundamental dalam pengembangan aplikasi Android.
Dalam pengumuman resmi di blog Android Developers, Matthew McCullough, VP of Product Management Android Developer, menyatakan bahwa Android 17 mengadopsi standar pengembangan adaptif (adaptive-first) dengan mewajibkan kemampuan resizability pada layar besar. Selain itu, sistem ini menghadirkan peningkatan privasi, keamanan, media, kamera, dan performa generasi berikutnya.
“Android 17 marks the start of our transition to an intelligence system, putting your apps at the center,” tulis McCullough. Kode sumber Android 17 juga telah tersedia di Android Open Source Project (AOSP) untuk ditinjau oleh komunitas developer.
Transformasi Menjadi Sistem Kecerdasan
Android 17 memperluas kemampuan AppFunctions, sebuah platform API yang memungkinkan aplikasi berkontribusi sebagai “alat” (tools) yang dapat diorkestrasi oleh Android MCP, setara dengan Model Context Protocol di perangkat. Asisten AI seperti Google Gemini dapat menemukan dan mengeksekusi AppFunctions untuk melakukan alur kerja atas nama pengguna dengan akses langsung ke status lokal aplikasi.
Google juga meluncurkan agent skill AppFunctions yang secara otomatis menganalisis alur kerja utama aplikasi, menghasilkan kode Kotlin yang diperlukan, mengoptimalkan KDoc untuk pemanggilan alat LLM, dan menyediakan perintah ADB untuk pengujian. Integrasi Gemini saat ini masih dalam pratinjau pribadi dengan penguji tepercaya.
Standar Adaptif Baru
Dengan lebih dari 580 juta perangkat layar besar di tangan pengguna dan peluncuran Googlebooks, Android 17 menghapus opsi opt-out untuk batasan orientasi dan resizability pada perangkat layar besar (sw > 600 dp) bagi aplikasi yang menargetkan API level 37. Sistem akan mengabaikan atribut manifes lama seperti screenOrientation, setRequestedOrientation(), dan batasan rasio aspek. Game berdasarkan kategori aplikasi di Google Play tetap dikecualikan.
Android 17 juga memperkenalkan kemampuan windowing baru: App Bubbles yang memungkinkan aplikasi apa pun diubah menjadi gelembung mengambang, Bubble Bar di bilah tugas layar besar, dan Desktop Interactive PiP yang memungkinkan jendela PiP tetap interaktif di lingkungan desktop.
Fitur Continue On juga hadir untuk membantu pengguna mentransisikan tugas antar perangkat Android. Sistem akan menyarankan aplikasi yang baru dibuka dari perangkat seluler di bilah tugas tablet, dengan tautan mendalam ke tempat pengguna berhenti.
Baca Juga:
Android Kini Compose-First
Google menegaskan bahwa pengembangan Android kini bersifat Compose-first. Semua API, library, alat, dan panduan pengembangan baru akan dibangun eksklusif untuk Jetpack Compose. Komponen View lama seperti Fragments, RecyclerView, dan ViewPager kini dalam mode pemeliharaan dan hanya menerima perbaikan bug kritis tanpa fitur baru.
Google menyediakan alat migrasi berbasis AI dari XML ke Compose untuk membantu developer beralih secara otomatis.
Peningkatan Performa dan Efisiensi
Android 17 memberlakukan batas memori aplikasi yang ketat berdasarkan RAM total perangkat. Proses yang melanggar akan dihentikan secara paksa. Alat baru seperti R8 Optimizer dan LeakCanary di Android Studio Panda membantu developer mengelola memori. Jika aplikasi dihentikan karena batas ini, ApplicationExitInfo.getDescription() akan mengembalikan “MemoryLimiter:AnonSwap”.
Sistem juga memperkenalkan garbage collection generasional pada ART yang lebih sering namun lebih ringan, lock-free MessageQueue untuk mengurangi frame terlewat, dan larangan modifikasi field “static final” melalui refleksi. Pembatasan tampilan notifikasi kustom juga diperketat untuk aplikasi yang menargetkan API 37 ke atas.
Privasi dan Keamanan Lebih Ketat
Android 17 menghadirkan sejumlah fitur privasi baru: System-Level Contact Picker yang memberikan akses sementara hanya ke bidang tertentu, System-Rendered Location Button untuk akses lokasi per sesi, dan EyeDropper API untuk memilih warna dari layar tanpa izin tangkapan layar. Akses jaringan lokal kini memerlukan izin runtime ACCESS_LOCAL_NETWORK.
Perlindungan SMS OTP diperkuat dengan penundaan akses selama tiga jam. Android 17 juga mendukung kriptografi pasca-kuantum (PQC) dengan integrasi ML-DSA di keystore dan skema tanda tangan APK v3.2 hybrid. Perlindungan pemuatan kode dinamis (DCL) kini diperluas ke library native.
Fitur Media dan Kamera
Android 17 mendukung format video HDR Eclipsa Video berbasis SMPTE ST 2094-50, format gambar RAW14 untuk kamera profesional, ekstensi kamera kustom vendor, dan encoder audio Extended HE-AAC. Dukungan untuk Versatile Video Coding (H.266) juga ditambahkan, serta API untuk mengidentifikasi jenis kamera (bawaan, USB webcam, atau virtual).
Dukungan Alat Bantu Dengar
Android 17 menambahkan kategori perangkat khusus untuk alat bantu dengar Bluetooth LE Audio dengan konstanta AudioDeviceInfo.TYPE_BLE_HEARING_AID. Pengguna juga dapat mengatur perutean audio secara mandiri untuk notifikasi, nada dering, dan alarm.
Ketersediaan dan Pengujian
Android 17 tersedia dalam versi beta di perangkat mitra seperti Honor, iQOO, Lenovo, OnePlus, OPPO, Realme, Sharp, vivo, dan Xiaomi. Google merekomendasikan penggunaan Android Studio Quail Canary terbaru untuk pengalaman pengembangan terbaik. Developer diminta segera menguji aplikasi mereka untuk kompatibilitas, terutama terkait perubahan perilaku seperti resizability di layar besar, DCL, dan sertifikat transparansi (CT) yang kini diaktifkan secara default.
Untuk informasi lebih lengkap, kunjungi situs developer Android 17.





Komentar
Belum ada komentar.