Telset.id – Seorang security engineer bernama solstICE (Ice) berhasil memporting software cracking password populer, hashcat, ke konsol genggam legendaris Nintendo, Gameboy Advance (GBA). Proyek eksentrik yang diberi nama gba-hashcat ini justru menunjukkan betapa lambatnya perangkat lawas tersebut dibandingkan rig modern.
Dalam unggahan di platform X, Ice mengklaim bahwa prosesor ARM7TDMI milik GBA yang berjalan di kecepatan 16,78 MHz mampu menghasilkan 727 hash SHA256 per detik. Meski terdengar kecil, angka ini menjadi bukti bahwa konsol genggam era 2000-an pun bisa digunakan untuk komputasi berat.
Proyek gba-hashcat adalah buah dari rasa penasaran Ice yang menjawab pertanyaan “mengapa” dengan “kenapa tidak.” Dengan menjalankan software di GBA orisinal, aplikasi ini mampu memproses hash SHA256 pada kecepatan 727 h/s. Sebagai perbandingan, Ice memperkirakan bahwa satu tahun kerja gba-hashcat setara dengan satu detik dari rig modern yang dipercepat GPU.
Gameboy Advance menggunakan prosesor ARM7TDMI, chip RISC 32-bit dengan kecepatan 16,8 MHz. Meski prosesornya 32-bit, sebagian besar bus data dan memorinya terhubung melalui bus 16-bit. Konsol ini hanya memiliki 288 KB RAM dan 98 KB VRAM. Keterbatasan ini membuat gba-hashcat harus bekerja ekstra keras untuk menjalankan algoritma hashing modern.

Keterbatasan Memori dan Wordlist
Software cracking password biasanya menggunakan tabel precomputed untuk mempercepat proses percobaan berulang. Namun, karena kartrid GBA standar hanya memiliki kapasitas maksimal 32 MB, Ice hanya bisa menyertakan wordlist ignis-1M (satu juta) yang berukuran 8 MB. Ini menjadi batasan signifikan karena wordlist yang lebih besar dapat meningkatkan peluang keberhasilan cracking.
Software gba-hashcat sendiri berukuran sangat kecil, mengingat Ice menggunakan Butano engine, sebuah library yang memungkinkan developer menulis game GBA menggunakan bahasa C++ murni. Antarmuka pengguna gba-hashcat sangat sederhana, hanya menampilkan layar intro, statistik progres, dan percobaan password saat ini. Ice bahkan bercanda bahwa aplikasi ini membutuhkan pesan “harap bersabar” mengingat kecepatannya yang sangat lambat.
Dalam commit GitHub, Ice menyebut gba-hashcat sebagai “[aplikasi] paling bodoh yang pernah [ia] buat.” Namun, pernyataan ini justru menarik perhatian banyak komentator di X yang meminta dukungan networking agar mereka bisa membuat kluster Gameboy untuk cracking password. Ide ini mungkin memiliki merit mengingat harga kartu grafis yang terus melambung tinggi.
Perbandingan Kinerja Ekstrem
Performa 727 hash per detik dari GBA sangat kontras dengan rig modern. Sebuah GPU high-end saat ini mampu memproses jutaan hingga miliaran hash per detik. Jika dihitung secara kasar, satu detik kerja rig modern setara dengan satu tahun penuh kerja gba-hashcat. Ini menunjukkan betapa besarnya kemajuan teknologi komputasi dalam dua dekade terakhir.
Meski terkesan hanya proyek iseng, gba-hashcat mengingatkan kita pada pentingnya keamanan password. Dalam dunia nyata, banyak password lemah yang bisa di-crack dalam hitungan detik oleh perangkat modern. Bahkan, penulis artikel asli menceritakan pengalamannya memulihkan akses ke spreadsheet Excel payroll dengan password “123” yang sangat sederhana.
Proyek ini juga menyoroti kreativitas komunitas modding dan retro computing. Meski tidak praktis untuk penggunaan sehari-hari, gba-hashcat menjadi bukti bahwa batasan hardware tidak menghentikan inovasi. Bagi para penggemar keamanan siber, proyek ini bisa menjadi pengingat bahwa dampak halusinasi AI dalam keamanan digital masih menjadi isu serius.
Baca Juga:
Meskipun hanya proyek iseng, gba-hashcat menunjukkan bahwa bahkan perangkat lawas pun bisa digunakan untuk komputasi keamanan. Namun, untuk penggunaan serius, tetap diperlukan perangkat modern dengan spesifikasi tinggi. Bagi pengguna yang peduli dengan keamanan data, penting untuk selalu menggunakan password yang kuat dan unik untuk setiap akun.
Proyek ini juga membuka diskusi tentang potensi penggunaan perangkat retro untuk komputasi terdistribusi. Meskipun GBA sangat lambat, jika ribuan unit digabungkan dalam sebuah kluster, mungkin bisa memberikan hasil yang menarik. Namun, tantangan teknis seperti networking dan sinkronisasi masih menjadi hambatan utama.
Dalam konteks keamanan siber modern, proyek seperti gba-hashcat mengingatkan kita bahwa teknologi keamanan harus terus berkembang. Ancaman seperti AI scam dengan live call monitoring membutuhkan solusi keamanan yang lebih canggih dari sekadar password sederhana.
Bagi para profesional keamanan, proyek ini bisa menjadi bahan pembelajaran tentang pentingnya optimasi algoritma. Meskipun hardware sangat terbatas, dengan kode yang efisien, gba-hashcat tetap bisa berfungsi meski sangat lambat. Ini menjadi pelajaran berharga tentang efisiensi komputasi di era di mana sumber daya sering dianggap melimpah.
Ke depannya, mungkin akan muncul lebih banyak proyek serupa yang memanfaatkan perangkat retro untuk komputasi modern. Dengan harga hardware baru yang terus meningkat, perangkat lama bisa menjadi alternatif yang menarik untuk proyek-proyek non-kritis. Namun, untuk keperluan serius seperti keamanan siber enterprise, tetap diperlukan solusi profesional.
Gba-hashcat adalah pengingat bahwa inovasi tidak selalu harus praktis. Terkadang, proyek yang terlihat “bodoh” justru membuka perspektif baru tentang teknologi dan kemampuannya. Bagi komunitas retro computing, proyek ini menjadi bukti bahwa Gameboy Advance masih bisa diajak bermain dengan tugas-tugas modern, meski dengan konsekuensi kecepatan yang ekstrem.





Komentar
Belum ada komentar.