📑 Daftar Isi

Menkomdigi Imbau Warga Pantau Info Erupsi Gunung Anak Krakatau dari Sumber Resmi

Menkomdigi Imbau Warga Pantau Info Erupsi Gunung Anak Krakatau dari Sumber Resmi

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengimbau masyarakat untuk memantau informasi terkait erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda hanya dari sumber-sumber resmi. Imbauan ini disampaikan menyusul peningkatan aktivitas vulkanik GAK yang kini berstatus Level III atau Siaga, dan telah berdampak pada beberapa wilayah di Pulau Jawa.

Dalam keterangan pers kementerian di Jakarta pada Minggu (6/9/2026), Meutya menekankan pentingnya menjaga ketenangan namun tetap waspada. Ia juga mengingatkan bahaya penyebaran informasi yang belum terverifikasi kebenarannya, yang dapat memicu kepanikan di tengah masyarakat.

“Yang paling penting adalah tetap tenang, tetapi jangan mengurangi kewaspadaan. Masyarakat perlu mengikuti arahan dari otoritas terkait dan memastikan informasi yang diterima berasal dari sumber yang dapat dipercaya,” kata Meutya.

“Dalam situasi seperti ini, informasi yang tidak benar dapat menimbulkan kepanikan. Karena itu, saring sebelum sharing (berbagi). Pastikan informasi yang kita terima berasal dari sumber resmi dan dapat dipertanggungjawabkan,” tambahnya.

Ancaman Misinformasi di Tengah Bencana

Meutya secara khusus mengimbau warga agar tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya mengenai aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Ia menegaskan bahwa keakuratan informasi sangat penting untuk menghindari misinformasi yang dapat menyebabkan keresahan di masyarakat.

“Pastikan keakuratan informasi dari pihak-pihak yang memiliki kewenangan terkait kebencanaan gunung berapi demi menghindari misinformasi atau misleading yang dapat menyebabkan keresahan,” ujarnya.

Untuk itu, Menkomdigi menyarankan warga memantau informasi mengenai aktivitas GAK dan sebaran abu vulkaniknya dari kanal-kanal resmi. Beberapa sumber yang direkomendasikan antara lain Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Gunung Anak Krakatau menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak Jumat (4/9) malam. Statusnya kini berada pada Level III atau Siaga, yang menandakan potensi bahaya yang lebih tinggi dari kondisi normal.

Abu vulkanik dari gunung tersebut telah terdeteksi menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk sebagian Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Dampaknya, layanan penerbangan terganggu dan sejumlah bandara terpaksa ditutup sementara.

Langkah Antisipasi untuk Warga Terdampak

Meutya mengimbau warga agar tetap tenang namun waspada, terutama bagi mereka yang berada di daerah terdampak erupsi GAK. Ia menekankan pentingnya tidak mudah percaya pada informasi yang sumbernya tidak jelas.

“Tetap waspada, tetap tenang, dan jangan mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya dari mana,” katanya.

Untuk warga di wilayah terdampak sebaran abu vulkanik, Menkomdigi menganjurkan langkah-langkah antisipasi guna menghindari dampak paparan abu terhadap kesehatan. Warga disarankan mengurangi aktivitas di luar rumah untuk meminimalkan risiko terpapar abu vulkanik.

Jika terpaksa harus beraktivitas di luar rumah, warga disarankan memakai masker yang sesuai, termasuk masker N95 atau KN95, serta kacamata pelindung. Pengendara juga diminta mengurangi kecepatan dan meningkatkan kewaspadaan karena sebaran abu vulkanik dapat mengurangi jarak pandang serta membuat permukaan jalan menjadi licin.

Selain itu, warga disarankan untuk mencuci tangan dan wajah setelah beraktivitas di luar ruangan. Memastikan sumber air bersih terlindungi dari paparan abu juga menjadi hal penting yang perlu diperhatikan.

Menkomdigi juga mengimbau masyarakat, wisatawan, dan nelayan untuk tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. Imbauan ini sesuai dengan rekomendasi PVMBG mengenai zona aman dari aktivitas vulkanik.

“Keselamatan adalah yang utama. Tidak perlu panik, namun tetap selalu waspada dan menjaga keselamatan serta kesehatan,” pungkas Meutya.

Perkembangan situasi erupsi GAK ini menjadi pengingat pentingnya literasi digital dalam menyikapi informasi kebencanaan. Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan untuk memilah sumber terpercaya menjadi keterampilan krusial, serupa dengan upaya menjaga keamanan data saat berselancar di dunia maya seperti yang dibahas dalam panduan keamanan untuk pengguna internet.

Masyarakat juga perlu memahami bahwa informasi resmi dari lembaga berwenang seperti PVMBG, BNPB, dan BMKG adalah rujukan utama yang harus diutamakan. Dengan mengikuti arahan dari otoritas terkait, diharapkan dampak buruk dari bencana dapat diminimalisir.

Ke depannya, koordinasi antara kementerian, lembaga terkait, dan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi situasi darurat seperti ini. Transparansi informasi dan kepatuhan pada protokol keselamatan adalah dua hal yang berjalan beriringan untuk memastikan keselamatan bersama.

Warga diimbau untuk terus memantau perkembangan informasi dari kanal resmi dan tidak mudah terprovokasi oleh berita-berita yang belum jelas kebenarannya. Dengan demikian, upaya penanggulangan bencana dapat berjalan efektif dan masyarakat dapat terhindar dari risiko yang tidak perlu.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.