Telset.id – Perusahaan fintech asal India, Navi, resmi mengantongi pendanaan institusional pertamanya senilai 100 juta dolar AS atau sekitar Rp1,6 triliun dari Prosus. Pendanaan ini menjadi suntikan modal pertama bagi startup berusia delapan tahun yang didirikan oleh salah satu pendiri Flipkart, Sachin Bansal, setelah sebelumnya mengandalkan pendanaan pribadi sang pendiri.
Investasi dari Prosus ini menempatkan valuasi Navi di angka sekitar 1,3 miliar dolar AS. Kabar ini muncul setelah startup yang berbasis di Bengaluru tersebut sebelumnya berupaya menggalang dana eksternal dari investor institusional dengan valuasi sekitar 2 miliar dolar AS pada 2024. Pendanaan tersebut masih tunduk pada persyaratan penutupan lazim dan persetujuan regulasi.
Baca Juga:
Perjalanan Navi dan Ambisi Sachin Bansal
Sachin Bansal mendirikan Navi pada 2018 setelah meninggalkan Flipkart menyusul penjualan perusahaan e-commerce tersebut ke Walmart. Sebelumnya, Bansal bersama Binny Bansal (bukan kerabat) mendirikan Flipkart pada 2007 dan berhasil mengubah toko buku online tersebut menjadi perusahaan e-commerce terkemuka di India. Bansal meninggalkan Flipkart dan menjual sahamnya pada 2018, tak lama sebelum Walmart menuntaskan akuisisi mayoritas senilai 16 miliar dolar AS.
Setelah keluar dari Flipkart, Sachin Bansal memulai Navi dan bahkan mengucurkan ratusan juta dolar dari kantong pribadinya ke dalam usaha tersebut. Bansal disebut-sebut berambisi menjadikan Navi sebagai bank suatu hari nanti.
Navi menyediakan berbagai layanan keuangan, termasuk pembayaran digital, pinjaman, asuransi, dan reksa dana. Aplikasi Navi menawarkan pembayaran digital melalui Unified Payments Interface (UPI), sistem yang didukung pemerintah India. Aplikasi ini tercatat sebagai aplikasi UPI terbesar keempat di India, di belakang PhonePe milik Walmart, Google Pay, dan Paytm.
Kinerja Keuangan dan Persiapan IPO
Kabar pendanaan dari Prosus ini datang di tengah persiapan Navi untuk melantai di bursa. Perusahaan dilaporkan bersiap menggelar initial public offering (IPO) dengan target mengumpulkan dana sebesar ₹30 miliar atau sekitar 314 juta dolar AS. Sebelumnya, Navi sempat mengajukan IPO senilai 440 juta dolar AS pada 2022, namun membatalkan rencana tersebut pada tahun berikutnya karena pasar IPO sedang lesu.
Dari sisi kinerja keuangan, Navi melaporkan pendapatan sebesar ₹30,91 miliar atau sekitar 323,33 juta dolar AS pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026. Namun, kerugian bersih perusahaan justru melebar menjadi ₹4,66 miliar atau sekitar 48,74 juta dolar AS pada periode yang sama.
Meski demikian, Navi mengklaim telah mencapai profitabilitas konsolidasi pada kuartal keempat tahun fiskal 2026. Perusahaan juga menyebut telah melayani ratusan juta pengguna di seluruh India.
Navi Finserv, lengan bisnis peminjaman Navi, tercatat memiliki aset yang dikelola atau assets under management (AUM) lebih dari ₹130 miliar atau sekitar 1,4 miliar dolar AS. Sementara itu, aplikasi Navi memproses lebih dari 947 juta transaksi senilai ₹483,18 miliar atau sekitar 5,05 miliar dolar AS pada bulan Juli, menurut data yang tersedia di situs National Payments Corporation of India (NPCI).
Respons Pendiri dan Makna Investasi Prosus
Sachin Bansal menyebut investasi Prosus sebagai “dukungan kuat” terhadap institusi yang sedang dibangun Navi. Bansal menambahkan bahwa pihaknya menghargai perspektif global dan pengalaman Prosus dalam mengembangkan bisnis teknologi. Ia tidak menanggapi permintaan komentar terkait valuasi perusahaan.
Investasi dari Prosus ini menjadi tonggak penting bagi Navi karena merupakan pertama kalinya perusahaan menerima pendanaan dari investor institusional eksternal. Sebelumnya, Navi sepenuhnya didanai oleh kantong pribadi Sachin Bansal yang dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di ekosistem startup India.
Masuknya Prosus, yang merupakan investor teknologi global terkemuka, dapat memberikan legitimasi tambahan bagi Navi di mata investor lain menjelang rencana IPO perusahaan. Dengan valuasi 1,3 miliar dolar AS, Navi tercatat lebih rendah dari target valuasi 2 miliar dolar AS yang sempat diupayakan perusahaan pada 2024.
Perkembangan di sektor fintech India ini menarik untuk dicermati, mengingat persaingan layanan pembayaran digital di negara tersebut semakin ketat dengan hadirnya pemain-pemain besar seperti PhonePe dan Google Pay. Meski demikian, posisi Navi sebagai aplikasi UPI terbesar keempat menunjukkan daya saing yang cukup kuat di tengah pasar yang kompetitif.
Dengan pendanaan segar dari Prosus dan rencana IPO yang tengah disiapkan, Navi tampaknya berada di jalur untuk memperluas layanan keuangannya. Namun, perusahaan masih perlu membuktikan kemampuannya dalam membalikkan kerugian bersih yang melebar, sekaligus mempertahankan pertumbuhan pendapatan di tengah persaingan industri yang semakin sengit.
Baca Juga:





Komentar
Belum ada komentar.