📑 Daftar Isi

Ilustrasi data center dengan deretan server sebagai pusat infrastruktur digital

Afrika Selatan Diminta Tunda Proyek Data Center Baru

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Organisasi hak sipil Afrika Selatan mendesak penundaan persetujuan data center baru
  • Kekhawatiran utama: keterbatasan air, lahan, dan listrik belum dikaji menyeluruh
  • Komisi HAM Afrika Selatan terima lebih dari 250 masukan sejak Mei 2026
  • Fasilitas hyperscale Equinix di Cape Town diperkirakan butuh 160 megawatt listrik
  • Operator belum wajib mengungkap komitmen air, listrik, dan lahan secara awal
  • Investor menolak penundaan, sebut aturan jelas lebih baik daripada ketidakpastian

Telset.id – Sejumlah organisasi hak sipil di Afrika Selatan mendesak pemerintah menghentikan sementara persetujuan pembangunan data center baru. Desakan ini muncul karena kekhawatiran terhadap keterbatasan air, lahan, dan listrik yang dinilai belum melalui pengkajian menyeluruh. Langkah ini menempatkan Afrika Selatan sejajar dengan Thailand dan Amerika Serikat, yang dalam beberapa bulan terakhir menghadapi penolakan serupa dari komunitas setempat.

Menurut Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, negara itu menampung 70% dari total kapasitas data center di Afrika, dan ia menilai dominasi tersebut sebagai peluang ekonomi. Perusahaan teknologi besar Amerika Serikat, termasuk Amazon, Microsoft, dan Equinix, terus memperluas jejak infrastruktur digital mereka di negara tersebut.

Komisi Hak Asasi Manusia Afrika Selatan menyatakan telah menerima lebih dari 250 masukan setelah membuka partisipasi publik pada Mei 2026. Warga Afrika Selatan umumnya menyoroti transparansi pemerintah dalam menangani keseluruhan proses persetujuan proyek.

Transparansi Kebutuhan Sumber Daya Jadi Sorotan

Dr. Eileen Carter, yang memimpin proses awal komisi tersebut, menyatakan bahwa isu utama yang muncul adalah ketersediaan, konsistensi, dan transparansi informasi terkait kebutuhan listrik dan air, penggunaan lahan, kebutuhan infrastruktur, dampak lingkungan, serta dampak terhadap komunitas sekitar.

Salah satu proyek yang paling diperdebatkan adalah fasilitas hyperscale Equinix yang telah disetujui untuk dibangun di Cape Town, kota yang memiliki memori pahit soal krisis air. Cape Town nyaris menghindari apa yang disebut warga sebagai “Day Zero” pada 2018, ketika pejabat memprediksi keran air kota akan benar-benar kering.

Fasilitas Equinix tersebut diperkirakan membutuhkan sekitar 160 megawatt listrik, membangkitkan kembali kecemasan lama terkait pemadaman listrik bergilir di negara itu. Hingga saat ini, operator data center di Afrika Selatan tidak diwajibkan mengungkapkan komitmen air, listrik, dan lahan mereka secara awal, dan hal ini menjadi masalah utama bagi kelompok masyarakat sipil.

Data center

Eskom, perusahaan listrik nasional negara itu, melaporkan adanya surplus pada musim puncak kebutuhan listrik musim dingin tahun ini meskipun sebelumnya sempat mengalami gangguan pasokan. Meski demikian, kelompok masyarakat sipil tetap waspada bahwa kapasitas surplus tersebut bisa dialihkan untuk memberi daya pada fasilitas data baru.

Investor dan Operator Menolak Penundaan

Pitso Tsibolane, dosen senior Sistem Informasi di University of Cape Town, berpendapat bahwa investor serius tidak terhalang oleh aturan yang jelas. Menurutnya, mereka memperhitungkan ketidakpastian, dan ledakan yang tidak diatur adalah lingkungan paling tidak pasti dari semuanya.

Sasha Booth-Beharilal, yang memimpin Internet Service Providers Association, menolak kerangka yang menyebut data center sebagai pemicu kelangkaan. Ia berpendapat bahwa kenaikan permintaan listrik dari fasilitas tersebut tidak berkontribusi signifikan terhadap kenaikan tarif atau kekurangan pasokan listrik di Afrika Selatan secara lebih luas.

Operator juga memperingatkan agar proyek lokal tidak dibandingkan langsung dengan data center Amerika Serikat yang berukuran besar, karena jejak sumber daya keduanya berbeda secara substansial. Hal ini sejalan dengan dinamika industri yang juga terlihat pada kasus kebijakan AS dinilai tidak konsisten terhadap kemitraan industri lintas negara.

Power cables stretching out in front of the horizon

Desakan penundaan pembangunan data center di Afrika Selatan ini memperkuat pola penolakan komunitas terhadap ekspansi infrastruktur digital yang sebelumnya juga muncul di Thailand dan Amerika Serikat. Sejumlah laporan menyoroti bahwa banyak data center AI baru berencana dibangun di wilayah Amerika Serikat yang dilanda kekeringan, sementara proyek data center terbesar kedua di dunia yang diusulkan di Skotlandia juga menghadapi penolakan besar sebagai bagian dari tren yang lebih luas di Inggris.

Pandangan lain datang dari pendiri dan CEO IDCA yang menegaskan bahwa persoalannya bukan apakah data center dibutuhkan, melainkan di mana fasilitas itu dibangun. Dewan perdagangan industri juga memperingatkan pemerintah Inggris soal kebutuhan data center yang menyedot sumber daya, sementara konsumsi listrik data center di Irlandia dilaporkan naik 360% dalam sepuluh tahun dan menyerap daya sebesar seluruh rumah tangga gabungan. Di London, sejumlah data center baru disetujui meski sebagian meminta 3 juta liter air per hari dan listrik yang cukup untuk memberi daya pada ribuan rumah.

Apakah penundaan konstruksi sementara benar-benar menghasilkan aturan regulasi yang lebih jelas, atau justru menunda investasi digital yang sangat dibutuhkan, masih belum pasti untuk saat ini.

AWS data center

Dinamika pengawasan terhadap infrastruktur digital juga tercermin pada kasus robot humanoid di kabin yang menunjukkan bagaimana operator mulai menetapkan batas terhadap teknologi baru di ruang publik. Sementara itu, penumpang Southwest Airlines dapat Nintendo Switch gratis, menandakan bagaimana perusahaan dapat mengambil langkah berbeda dalam merespons ekspektasi pengguna.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.