Sistem senjata laser anti-drone portabel Lijian II dan III buatan Harbin Xinguang di pameran Beijing 2026.

China Pamerkan Senjata Laser Anti-Drone Portabel Lijian di Beijing

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Harbin Xinguang meluncurkan laser anti-drone portabel Lijian II (30kg) dan Lijian III (25kg) di Beijing.
  • Senjata ini memiliki daya 2 kW dengan jangkauan 500 meter dan menggunakan AI untuk pembidikan.
  • Harga per unit sekitar 2 juta yuan (US$295.000) dengan kemampuan membakar drone dalam 4 detik.
  • Sistem terbagi menjadi pemancar, pendingin, dan terminal kontrol yang dapat dibawa oleh satu atau dua tentara.
  • Dibandingkan sistem AS dan Israel, Lijian unggul dalam portabilitas meski memiliki daya lebih rendah.

Telset.id – Pemasok pertahanan asal China, Harbin Xinguang Optic-Electronics Technology, secara resmi memamerkan dua sistem senjata laser anti-drone portabel terbaru, Lijian II dan Lijian III, dalam ajang Defence Information Equipment & Technology Exhibition 2026 di Beijing. Kehadiran perangkat keras energi terarah (directed-energy) berskala ransel ini menandai pergeseran teknologi dari platform statis atau kendaraan yang selama ini mendominasi pasar pertahanan global.

Lijian II dan Lijian III hadir dengan bobot yang sangat ringan untuk kelas senjata laser. Lijian II memiliki berat 30 kg (66 pon), sementara Lijian III lebih ringan dengan bobot 25 kg (55 pon). Kedua unit ini mengonsumsi daya sekitar 2 kW dan dibanderol dengan harga masing-masing sekitar 2 juta yuan atau setara dengan US$295.000. Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi fitur utama untuk sistem pembidikan target secara otomatis.

The Lijian III can burn a drone within 4 seconds.

Secara struktur operasional, setiap unit portabel ini dibagi menjadi tiga komponen utama: pemancar laser (emitter), pendingin udara (air cooler), dan terminal kontrol genggam. Pembagian beban ini dirancang agar cukup ringan untuk dibawa oleh satu atau dua tentara di medan tempur. Pemancar laser sendiri memiliki berat sekitar 15 kg, sedangkan sistem pendinginnya berbobot kurang lebih 10 kg. Fleksibilitas ini memungkinkan pengerahan cepat di area yang sulit dijangkau kendaraan berat, serupa dengan ketatnya pengawasan terhadap mesin EUV yang menjadi perhatian dunia internasional.

Dari sisi performa teknis, kedua model ini memiliki sudut elevasi (pitch angle) di atas 90 derajat dengan jangkauan operasional mencapai 500 meter (1.640 kaki). Pihak perusahaan mengeklaim bahwa Lijian III mampu membakar habis sebuah drone hanya dalam waktu 4 detik. Setelah melakukan penembakan, sistem ini hanya membutuhkan waktu kurang dari 5 detik untuk proses pendinginan sebelum siap ditembakkan kembali ke target berikutnya.

laser weapon system

Selain varian portabel, lini produk ini juga mencakup model posisi tetap yang disebut Lijian-10G. Berbeda dengan varian ransel, Lijian-10G membutuhkan daya sekitar 10 kW dan memiliki jangkauan yang lebih luas hingga 1.200 meter (3.900 kaki). Namun, model ini memerlukan kotak pendingin cair berukuran besar sebagai pengganti sistem pendingin udara portabel. Harbin Xinguang menyatakan bahwa unit portabel jauh lebih mudah dioperasikan serta dapat digelar dan ditarik kembali dengan sangat cepat di lapangan.

Pengurangan bobot pada seri Lijian ini tentu berdampak pada anggaran daya laser secara keseluruhan. Dengan kekuatan 2 kW, model portabel ini berada di bawah kelas 3 kW dari laser anti-drone NI-L3K yang sempat dipamerkan China pada ajang DSA 2026 di Malaysia. Jika dibandingkan dengan sistem energi terarah dari negara lain, perbedaannya semakin mencolok. Angkatan Darat Amerika Serikat saat ini sedang menguji sistem LOCUST 20 kW yang dipasang pada kendaraan JLTV Oshkosh, sementara sistem Iron Beam milik Israel memiliki kekuatan 100 kW dan telah menjadi laser berdaya tinggi pertama yang beroperasi akhir tahun lalu.

Meskipun dayanya lebih rendah, output 2 kW dinilai sangat memadai untuk menghadapi target kecil, rendah, dan lambat pada jarak dekat. Keunggulan utamanya terletak pada biaya per tembakan yang jauh lebih menguntungkan dibandingkan penggunaan munisi konvensional. Melumpuhkan quadcopter atau drone FPV dengan laser hanya mengonsumsi energi listrik, jauh lebih murah daripada menggunakan rudal panggul yang bisa memakan biaya puluhan ribu dolar per butir. Efisiensi ini menjadi fokus utama China, sebagaimana mereka menerapkan standar keamanan baterai yang ketat untuk mendukung ekosistem teknologi energinya.

The DragonFire system firing a bright red laser, engaging a drone mid-air.

Teknologi inti dari seri Lijian ini dilaporkan telah mencapai tingkat kematangan pada tahun 2023. Momentum ini muncul seiring dengan perang di Ukraina yang mengubah paradigma dunia mengenai peperangan drone. Sistem Lijian menggunakan kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi target dan secara otomatis menyerang drone yang memasuki jangkauan tembaknya, dengan bantuan sensor eksternal seperti radar. Peluncuran teknologi ini di pasar domestik China dilakukan bersamaan dengan rilis produk konsumen kelas atas lainnya seperti OnePlus Pad 3 yang mengusung performa tinggi.

Harbin Xinguang mengungkapkan bahwa senjata-senjata ini telah ditempatkan di beberapa fasilitas strategis di China, termasuk pangkalan udara militer. Melalui pameran di Beijing ini, perusahaan sedang berupaya mendapatkan pesanan lebih lanjut baik dari sektor domestik maupun internasional. Perlu dicatat bahwa seluruh spesifikasi yang dipaparkan berasal dari materi pameran produsen dan perwakilan perusahaan, serta belum melalui pengujian independen secara publik.

Komentar

Belum ada komentar.