Telset.id – FutureBit resmi meluncurkan HashFly, proyek yang diklaim sebagai miner Bitcoin berbasis neuron organik pertama yang meniru otak lalat buah. Peluncuran ini menandai eksperimen awal pemanfaatan komputasi organik atau wetware untuk kebutuhan penambangan kripto, meski statusnya masih sebatas proof of concept dan belum menghasilkan imbalan nyata bagi pengguna.
FutureBit, perusahaan di balik jajaran miner ASIC seri Apollo, memperkenalkan HashFly pada pekan ini. Proyek ini mengandalkan connectome lalat buah yang sebelumnya dipublikasikan oleh Google. HashFly disebut sebagai proof of concept atau pembuktian konsep, sehingga belum menjadi perangkat penambangan yang bisa diandalkan untuk meraup keuntungan.
Melalui akun resminya, FutureBit menyebut HashFly sebagai miner Bitcoin berbasis neuron organik pertama yang mengadopsi cara kerja otak lalat buah. Perusahaan juga menyertakan catatan bahwa jika konsep ini bisa diskalakan pada neuron organik sungguhan, sistem tersebut berpotensi melakukan hashing sekitar 1 watt per terahash, atau sepuluh kali lebih efisien dibanding ASIC silikon 3nm terbaik saat ini.
Cara Kerja HashFly dan Simulasi Otak Lalat
Situs khusus HashFly memungkinkan siapa pun ikut serta dalam eksperimen ini. Pengguna dapat menekan tombol “Mine” dan membiarkannya berjalan, dengan harapan memperoleh pembayaran kripto meski peluangnya sangat kecil. Saat halaman dibuka, terlihat otak lalat yang berputar perlahan dengan jejak neuron yang menyala.
Antarmuka web tersebut menampilkan angka 2.914 traces firing atau jejak neuron yang aktif di dalam otak lalat. Jumlah itu hanya sebagian kecil dari total 165.122 neuron yang direkonstruksi dalam connectome lalat buah MaleCNS v1.0.
HashFly memfokuskan diri pada simulasi fotoreseptor yang biasanya berfungsi mendeteksi cahaya di mata lalat. Fotoreseptor ini membaca block header, lalu sel neuron bernama PPL101 akan menyala ketika target double-SHA-256 berhasil dihitung. Pengguna dapat menaikkan atau menurunkan tingkat kesulitan dengan mengatur jumlah “zeros”.

Bahkan pada tingkat kesulitan maksimum dalam proof of concept ini, yaitu level 6, target yang harus dicapai masih jauh lebih mudah dibanding menemukan hash Bitcoin sungguhan. Dalam pengujian selama satu jam, sekitar 80 blok berhasil diselesaikan.
Baca Juga:
Performa HashFly di web tercatat sekitar 100 kH/s. Angka itu sangat jauh jika dibandingkan dengan Apollo III, perangkat berbentuk kubus berukuran 5 inci dari FutureBit yang diklaim mampu menghasilkan hingga 18 TH/s hashpower.
Potensi Komputasi Organik dan Proyek Pesaing
FutureBit menjelaskan bahwa tujuan proof of concept ini adalah memberikan gambaran lebih jauh soal potensi efisiensi komputasi organik. Perusahaan menyebut estimasi tersebut dihitung berdasarkan total daya yang digunakan lalat buah, dengan asumsi seluruh neuron bisa dimanfaatkan untuk fungsi hashing Bitcoin dan terus menyala secara berkelanjutan.
Rencananya, demo HashFly akan diperbesar ke tahap berikutnya. “Kami sedang mengerjakan simulasi seluruh neuron dalam dataset dengan fungsi hash sha256 dan akan mempublikasikan semua temuan kami,” ujar FutureBit.

Selain HashFly, muncul pula proyek pesaing bernama FlyMiner. Portal ini menampilkan connectome lalat buah yang dikendalikan oleh sebuah ASIC miner. Aktivitas di situs tersebut hanya sebatas memberi “makan otak”, bukan menghasilkan uang, karena FlyMiner mengakui peluang sukses menambangnya “hampir nol”.
Sejumlah proyek lain yang terinspirasi dari pemetaan connectome otak lalat juga bermunculan di media sosial. Setelah Google mengumumkan telah mempublikasikan otak lengkap dan sistem saraf pusat lalat buah jantan dewasa, sejumlah pihak langsung menguji apakah simulasi tersebut bisa memainkan Doom, melakukan day trading finansial, hingga berbagai kegiatan lain yang sifatnya sekadar iseng.
Langkah Google mempublikasikan connectome lalat buah ini menjadi pemicu berbagai eksperimen teknologi, termasuk upaya memanfaatkan simulasi otak untuk keperluan di luar riset neurosains. FutureBit sendiri menegaskan bahwa HashFly masih berada di tahap awal dan temuan lanjutan akan dibagikan setelah simulasi seluruh neuron selesai dikerjakan.
Bagi pengguna yang ingin mencoba, HashFly tersedia secara online dan bisa diakses langsung dari browser. Namun perlu dipahami bahwa ini bukan alat penambangan yang menguntungkan, melainkan eksperimen untuk melihat sejauh mana komputasi berbasis neuron bisa dimanfaatkan di masa depan.
[WIDGET]





Komentar
Belum ada komentar.