Telset.id – Startup semikonduktor asal Singapura, Nexstrom, mengumumkan perolehan pendanaan seed sebesar $12 juta atau sekitar Rp12 juta dolar untuk mengembangkan peralatan dan proses manufaktur chip berbasis material dua dimensi (2D). Langkah ini menjadi salah satu upaya paling konkret dalam menjawab persoalan yang menghantui industri chip selama puluhan tahun: transistor silikon yang semakin sulit dikecilkan tanpa memicu kebocoran arus, kehilangan daya, dan panas berlebih.
Pendanaan tersebut dipimpin oleh Xora Innovation, dengan partisipasi Foothill Ventures dan SEEDS. Nexstrom sendiri merupakan perusahaan yang diinkubasi oleh Xora Innovation. Secara total, startup yang berbasis di Singapura ini telah mengumpulkan dana $15 juta. Dana segar ini akan dipakai untuk mengembangkan teknologi lebih jauh dan membawa peralatannya mendekati produksi komersial.
Nexstrom tidak berambisi bersaing langsung dengan raksasa pembuat chip seperti TSMC, Samsung, dan Intel. Sebaliknya, perusahaan ini ingin menjual teknologinya kepada mereka atau bermitra dengan mereka. Nexstrom mengklaim sejumlah perusahaan di industri sudah menguji sampel wafer dan materialnya, meski menolak menyebutkan nama-nama perusahaan tersebut.
Material 2D dan Peralatan North Star
Material yang menjadi fokus Nexstrom adalah transition-metal dichalcogenides (TMDs). Meski disebut material 2D, TMDs sebenarnya tidak benar-benar dua dimensi. Ketebalannya hanya beberapa lapisan atom, sehingga digolongkan ke dalam keluarga besar material yang disebut “2D materials” untuk menggambarkan betapa tipisnya material tersebut. Ketebalan ekstrem inilah yang menarik perhatian pembuat chip yang mencari cara mengecilkan ukuran chip lebih jauh.
Produk Nexstrom yang diberi nama North Star dirancang untuk menumbuhkan TMDs langsung di atas wafer berukuran 300mm (12 inci) yang dipakai dalam pembuatan chip komersial. Teknologi perusahaan ini sebagian berbasis pada riset yang dilakukan oleh salah satu pendiri sekaligus chief scientist Nexstrom, Lance Li. Sebelumnya, Li memimpin riset elektronik pasca-silikon di TSMC dan telah mengerjakan material 2D sejak 2012.
“Di laboratorium, orang bisa mendapatkan material yang sangat kecil dan berkualitas tinggi, tetapi hanya dalam skala yang sangat kecil,” kata Li kepada TechCrunch. “Inilah celah yang coba dijawab Nexstrom.”
Nexstrom tidak sendirian dalam melihat potensi semikonduktor 2D untuk mengecilkan chip lebih jauh. TSMC, Intel, dan IMEC dari Belgia semuanya mengembangkan cara untuk mengintegrasikan material 2D ke dalam transistor. Perusahaan peralatan dan material seperti AIXTRON, CDimension, serta sejumlah startup lain juga menggarap bagian lain dari rantai manufaktur. TSMC, ASML, dan IMEC bahkan baru-baru ini menunjukkan bagaimana transistor berbasis material 2D dapat digunakan dalam proses integrasi 300mm.
Baca Juga:
Target Komersial dan Tantangan Skala Produksi
Nexstrom bertaruh bahwa mereka bisa membuat terobosan di area yang sangat sulit: memproduksi material tersebut untuk produksi semikonduktor dalam skala besar. CEO Nexstrom, Phoebe Tan, mengungkapkan bahwa saat ini fokus perusahaan adalah menghasilkan kualitas material sesuai spesifikasi yang diminta mitra industri.
“Kami telah membuktikan hasil material pada wafer menggunakan sistem 12 inci kami yang baru saja dipasang. Kami telah melakukan skala secara sistematis dari 2 inci ke 6 inci, dan kami akan menyelesaikan 8 inci dan 12 inci pada akhir Oktober,” ujar Tan kepada TechCrunch.
Kendati demikian, masih ada beberapa masalah yang harus diselesaikan sebelum semikonduktor sekecil itu dapat diproduksi massal. Masalah utamanya adalah menumbuhkan TMDs secara konsisten di seluruh wafer berukuran penuh. Tantangan konsistensi inilah yang menjadi fokus utama Nexstrom saat ini.
Dana yang diperoleh akan dialokasikan untuk mengembangkan teknologi lebih lanjut, meningkatkan kontrol proses dan kemampuan pengukuran, memperbesar tim, serta mendukung program kualifikasi dengan calon pelanggan. Nexstrom memperkirakan peralatannya baru siap untuk produksi komersial antara tahun 2030 dan 2035.
Ambisi Nexstrom hadir di tengah konteks industri yang menantang. Selama puluhan tahun, pembuat chip berupaya membuat semikonduktor lebih cepat dengan mengecilkan transistor silikon dan memadatkan lebih banyak transistor di setiap chip. Namun, mengecilkan transistor membawa masalah tersendiri: mengontrol aliran elektron menjadi lebih sulit, yang memperburuk masalah seperti kebocoran, kehilangan daya, dan panas. Situasi ini diperparah oleh kelangkaan komponen global yang didorong permintaan pusat data dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Pendekatan material 2D yang dikembangkan Nexstrom menawarkan jalur alternatif yang tidak bergantung pada pengecilan silikon konvensional. Jika berhasil, teknologi ini berpotensi menjadi salah satu fondasi bagi generasi chip berikutnya. Namun, dengan target komersialisasi yang masih jauh, Nexstrom harus melewati sejumlah tahap validasi teknis dan kualifikasi pelanggan sebelum peralatannya benar-benar masuk ke lini produksi industri.
Langkah Nexstrom juga mencerminkan tren yang lebih luas di sektor teknologi, di mana inovasi material dan manufaktur menjadi medan persaingan baru. Sejumlah pengembang teknologi global kini berlomba menghadirkan solusi yang mampu menjawab kebutuhan komputasi yang terus meningkat, sejalan dengan ekspansi layanan berbasis data seperti yang tengah dilakukan layanan robotaxi di berbagai negara.
Bagi industri semikonduktor, keberhasilan Nexstrom mengangkat material 2D ke skala produksi akan menentukan apakah pendekatan ini bisa menjadi standar baru atau hanya berhenti sebagai eksperimen laboratorium. Perusahaan pun membuka peluang kolaborasi dengan para pemain besar, alih-alih menantang mereka secara langsung.
Sementara itu, perkembangan teknologi pemrosesan dan material juga terus bergerak di berbagai bidang lain, termasuk riset perangkat deteksi yang dikembangkan peneliti KAIST serta inovasi layanan konsumen yang tengah diuji di sejumlah pasar, seperti yang terlihat pada bundel Apple di berbagai negara.
Dengan pendanaan $12 juta yang baru dikantongi, Nexstrom kini memiliki modal untuk mempercepat pengembangan North Star dan membuktikan bahwa material 2D dapat diproduksi secara konsisten di wafer 300mm. Target produksi komersial 2030-2035 menjadi tolok ukur yang akan menentukan posisi Nexstrom dalam peta persaingan semikonduktor global.





Komentar
Belum ada komentar.